Kejujuran

    Saat saya bertamu ke teman, ada satu kalimat yang membuat saya berfikir
    kembali. Dia mengatakan, “Mengapa ya orang jujur kok mendapatkan nilai kurang
    memuaskan, sedangkan mereka yang tak jujur nilainya selalu bagus?” Saya terdiam
    tak bergerak, menunduk menghadap kaki yang sedang bersila, tanda sedang
    berfikir. “Mengapa ya?” Saya juga bertanya di dalam hati.
    Mungkin saja teman saya yang satu ini merasa jumuh dengan keadaan. Kejujuran
    di zaman modern ini sudah tak ada harganya, justru yang terlihat mentereng
    ialah mereka yang diragukan kejujurannya. Buktinya, koruptor kok kaya, padahal
    kerjaannya kan “tidak jujur” alias menipu dan mendholimi orang lain. Apa arti
    ini semua? Apakah benar, bahwa orang jujur di zaman sekarang ibarat nyala api
    lilin di tengah pusaran angin puting beliung?
    Saya mencoba menerawang jawabannya, “kemungkinannya” mereka dibayar kontan,
    dan dibayar hukuman terbalik selanjutnya. Boleh saja koruptor senang di
    awalnya, tapi bagaimana nasibnya di kemudian waktu? Di situ kita perlu melihat,
    tidak sekedar kondisi sekarang, tapi bagaimana nantinya. Koruptor boleh hidup
    semewah mungkin, tapi di kemudian waktu tak ada jaminan hidupnya tetap begitu. Pasti
    ada perubahan, pasti ada akibat dari perilakunya.
    Di dalam al-Qur’an surat Ar-Rahman ayat 60, “Hal jazaaul ihsaani illal
    ihsaan”
    (adakah balasan bagi kebaikan, kecuali kebaikan pula). Jadi,
    berhentilah berputus asa dengan kebaikan yang dikerjakan. Syetan berusaha
    menggoyahkan hati kita mengenai ayat ini. Bagi pedagang misalnya, jangan sampai
    terlintas di dalam pikirannya untuk tidak jujur. “Aduh, kan saya sudah
    berjualan dengan jujur, kenapa ya kok ga beruntung, selalu sial”.
    Semua akan indah pada waktunya? Ah, jangan percaya dengan ungkapan
    tersebut. Kita semua hanya mendapatkan dari usaha kita, menunggu “pada waktunya”
    hanya akan membikin kita malas bekerja. Konsep kesabaran dalam berusaha tanpa
    sibuk memikirkan hasil merupakan suatu formula penting dalam hidup. Karena,
    masalah hasil itu bukan urusan manusia, itu berada di area kekuasaan Allah. Manusia
    hanya disuruh “berusaha”, hasilnya hanya Allah yang akan membalasnya.
    Suatu kejujuran memerlukan usaha, sehingga Allah akan memberikan ‘kejujuran’
    di hati hamba-Nya bagi yang berusaha untuk jujur. Rasa jujur sangatlah indah,
    menentramkan jiwa, membuat hati terus bersemangat, dan penuh ketabahan. Seseorang
    akan lebih nyaman dengan seseorang yang berjujur, dibanding bersanding di dekat
    dengan pembohong. Baik itu berbohong dengan ucapannya, atau pun berbohong oleh
    ketidaksesuaian lisan dengan perbuatan (pengkhianat).
    Mungkin sebagian kita masih terbesit di dalam hatinya, kemudian meragukan
    khasiat kejujuran. Untuk apa jujur, terlalu jujur malah bikin rugi? Kamu
    kalau jadi orang jangan terlalu jujur, nanti kamu semakin dicurigai? Dan banyak
    ungkapan sejenisnya. Bila masih ragu untuk apa jujur, itu hak kita
    masing-masing sampai kita yakin, bahwa kejujuran tak akan mengecewakan di “akhir-nya”.
    Boleh terasa pahit di awalnya, akan tetapi manis di akhirnya.

    1,575 kali dilihat, 10 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    6 tanggapan untuk “Kejujuran”

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *