Keikhlasan Adalah Kekuatan Tanpa Tandingan


    “Dengan
    keikhlasan pekerjaan berat terasa ringan, dan tanpanya pekerjaan ringan terasa
    berat.”
    Sejatinya seseorang cenderung mencari keadaan nyaman dan
    aman. Dan menghindar dari apa yang membuatnya tak nyaman. Artinya, bila
    dihadapkan dengan pilihan hidup dan mati, tentu saja ia memilih hidup. tanpa
    mau berfikir lebih lanjut, mati yang seperti apa, hidup yang bagaimana. Hal
    lain yang bisa membuktikan kebiasaan ini adalah adanya kebiasaan instans. Tak
    mau susah payah, serba mau enaknya sendiri. Diambil manisnya, ampasnya dibuang
    tak peduli. Sehingga akhirnya, seseorang yang cenderung enak-enakan tanpa
    merasakan “apa yang harus dikorbankan” untuk mendapatkannya sulit dikatakan
    “belajar ikhlas.”
    Ikhlas berarti menunda kesenangan, melakukan keperihan di
    depan mata sebagai pemaksimalan segenap upaya dan daya bukan untuk menjawab
    keinginan inderawi. Menjalani itu semua dengan senang, nyaman dan tentram,
    tanpa terganggu oleh bagaimana nantinya yang didapatkan. Ya, jalani saja. Coba
    saja Anda melakukan sesuatunya semata-mata didasarkan keinginan inderawi, saat
    usaha sudah Anda rasa sangat maksimal namun ternyata hasilnya tak kunjung
    datang. Anda akan merasa frustasi, ketidaktenangan dan ketidaknyamanan. Usaha
    untuk bangkit kembali kandas akibat besarnya perasaan kecewa dengan kenyataan
    yang tak sesuai keinginan.
    Berbeda saat Anda benar-benar memaksimalkan upaya karena
    keikhlasan—bukan mengharapkan hasil, apa pun dan bagaimana pun hasilnya nanti
    akan tetap Anda terima. Dengan begitu, Anda merasa nyaman, tenang dan tak
    kecewa karena hasilnya tak sesuai dengan usaha yang maksimal. Di sinilah
    kemudian, Anda mulai yakin dan percaya bahwa buah keikhlasan tak selalu dibayar
    di muka. Anda pun akan semakin berusaha, sehingga hasilnya justru “lebih besar”
    dari apa yang terpikirkan. Dari akibat yang tak sederajat.
    Mengapa bisa mendapatkan lebih. Iya, secara tidak sadar
    dengan hadirnya ikhlas di dalam jiwa menimbulkan ketenangan dan ketentraman.
    Perasaan ini akan selalu mengakar kuat seiring waktu, di saat perasaan itu ada,
    segenap pikiran dan sikap terpengaruhi. Inilah yang kemudian menjadi pendorong
    bagi setiap usaha perilaku yang konsisten. Semakin ikhlas, berarti ia akan
    semakin konsisten dan semakin komitmen terhadap apa yang diusahakannya. Ini
    akan mengalahkan jenis usaha quantum yang melompat tanpa kepastian, sehingga
    bukan lagi persoalan seberapa banyak usahanya, namun seberapa konsistennya
    usaha tersebut dilakukan. Seperti siput, walau pun lampat ia tak pernah
    menyerah. Karena kenyataannya, waktulah yang menjawabnya.
    Tidak seperti pemahaman modern, kepuasaan berbanding lurus
    dengan keproduktifan. Layaknya teori behavior, bahwa hadiah (pamrih) dapat
    membentuk perilaku. Jelasnya seperti teori reward
    dan punishment. Perilaku akan
    berulang bila diberi hadiah (reward)
    dan cenderung dihindari bila diberi hukuman (punishment). Ini sebenarnya diperuntukkan bagi seseorang yang tak
    dihadirkan dalam jiwanya segenap keikhlasan. Dalam keikhlasan, perilaku
    berulang-ulang lebih didasarkan pada kenyaman jiwa, dan kepercayaan bahwa buah
    dari keikhlasan tak selalu dibayar di muka, dibaya di waktu yang tepat dengan
    hasil yang tak bisa dilogikakan.
    Walau pun di sisi lain, antara orang ikhlas dan tidak
    sama-sama mendapatkan apa yang diusahakannya. Namun bagi yang ikhlas hasilnya
    selalu tak sesuai dengan usahanya, tanpa bisa disangka-sangka, terkadang
    waktunya tak dapat dipastikan dan lebih terasa hasilnya (dinikmatinya lebih
    tahan). Pilih mana, mau ikhlas ataukah menyerahkan keikhlasan kepada keeogisan
    diri?
    “Keikhlasan
    harus dipancing untuk berdampak secara nyata pada waktunya dengan menanggalkan
    keegoisan diri dan keinginan inderawi.”

    510 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *