Kehidupan Setelah Kehidupan Dunia


    “Kehidupan dunia ini hanyalah
    senda gurau belaka”
    (al-Qur’an)
    Tadi hujan lebat, seperti kebiasaanku bila selalu petir
    gemuruh tak karuan pikiranku pun ikut kacau. Iya, sudah sejak lama aku
    berfikiran dan membayangkan “apa yang terjadi bila nanti telah kiamat? Apa yang
    diciptakan setelah kehidupan dunia ini dihancurkan? Mungkinkah Allah
    menciptakan makhluk baru yang berbeda dari makhluk sebelumnya?”
    Di saat pikiran berkecamuk dengan pemikiran seperti di atas,
    merasa begitu sadar kita sangat-sangat sebentar sekali hidup di dunia ini. Mana
    cukup umur 60 tahun menandingi keabadian penciptaan Allah. Kita semua pasti ada
    waktunya kapan harus mati, setelah mati kita ada dua kemungkinan surga atau
    neraka. Di neraka waktunya itu lebih jauh berlipat lamanya daripada kehidupan
    di dunia. Ada yang mengatakan satu hari di sana sama dengan seribu tahun di
    dunia. Sungguh, di luar batas kemampuan diri membayangkan bagaimana lamanya
    kehidupan setelah kematian kelak.
    Perjalanan hidup sejatinya menuju kepada kematian, bukan
    kepada kehidupan. Untunglah Allah menciptakan dunia ini dengan segala
    gemerlapnya, sehingga kita tidak terlalu memusingkan memikirkan bagaimana menerima
    kenyataan “keterbatasan umur kita” dan kehidupan kita yang tak bisa “abadi” dan
    hidup selamanya. Ya, kecuali bagi mereka yang tidak mencintai dunia, maka umur
    yang terbatas bukanlah persoalan besar. Kesadaran mereka bahwa kehidupan
    hanyalah tempat  
    Di umur berapakah kita benar-benar bersungguh-sungguh
    menjalankan “kehidupan” secara benar? Saat masih umur balita, kita asyik
    bermain dengan teman-teman dan lingkungan. Usia 6-18 sekolah dari tingkatan
    sekolah dasar, SMP-sederajat dan SMA-sederajat. Kita sibuk belajar, dan
    memuaskan rasa keingin tahuan. Setelah itu kuliah, menikah, punya anak, ingin
    punya rumah-mobil dan lain-lain. tak terasa umur sudah 53 tahun. Di sini baru
    ketakutan kematian melanda, kalau diberi jatah lebih berarti ada sekitar 7
    tahun agar hidup benar-benar dimaksimalkan untuk akhirat.
    Berfikirlah wahai diri, bila tak sekarang kita memikirkan
    kehidupan kita setelah kematian lalu kapan lagi. Kehidupan setelah kematian
    sepenuhnya tergantung pada kehidupan yang kita jalani saat ini. Engkau seorang
    muda, jangan lagi mau menggunakan waktumu untuk apa yang tak kau tahu maksud
    tujuannya? Waktumu adalah hal terpenting yang tak pernah memberimu manfaat,
    kecuali kau memanfaatkannya. Coba berfikirlah, semakin bertambah umur akan
    selalu diikuti oleh bertambahnya tanggungjawab, tuntutan diri maupun dari luar
    diri. Saat umurmu tak lagi muda, di sinilah kau menyadari, begitu nyamannya
    waktu saat muda, rasa-rasanya ingin kembali ke usia muda.
    Tapi itu hal tak mungkin, seperti tak mungkin kau kembali ke
    usia balita. Atau balita kembali ke usia buahi di alam perut ibu. Atau bahkan,
    kehidupan ini sangat diinginkan oleh mereka yang telah menjemput ajalnya. Maka,
    ketakutan hidup tak penting sehingga menyebabkanmu ingin lebih baik tak
    tercipta. Ini adalah bagianmu, ini adalah takdirmu. Ambillah bagianmu, dan
    bertanggungjawablah dengan takdirmu tersebut.
    Janganlah takut dengan apa yang akan terjadi nanti. Dengan apa
    yang menjadi takdir kamu—pula—setelah ditakdirkan untuk jalani kehidupan ini. Ada
    alasan mengapa begitu penting hidup ini untuk jalani,dan begitu penting dirimu
    untuk menjalani kehidupan ini. Lihatlah wahai diri, Allah akan selalu bersamamu
    ke mana pun dan di mana pun. Tak usah memikirkan apa yang menjadi hak Allah.

    971 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    Satu tanggapan untuk “Kehidupan Setelah Kehidupan Dunia”

    1. hidup di dunia itu cuma ngekos,,,nanti kita akan pulang kampung untuk selamanya yaitu akherat,,, makanya selagi hidup hendaknya digunakan sebaik-baiknya 🙂 iya nggak mas agha,,, tulisannya bagus,,memotivasi 🙂

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *