GagalituBukanAkhir3

Kegagalan Bukanlah Ajang Menyalahkan Diri

    Cobalah
    berfikir, kira-kira apa yang terjadi, jika saja apa pun yang terjadi di dunia
    ini bisa diramalkan? Singkatnya, dapat diperkirakan oleh akal logika? Sudah
    bisa dipikirkan, dunia akan dikuasai oleh manusia dengan segala keserakahannya.
    Untungnya, dunia yang dihuni berjuta umat manusia ini dipenuhi dengan “misteri”
    dan “masalah”. Akal logika manusia dipatahkan oleh dua hal tersebut; masalah
    dan misteri di luar batas kemampuan logika. Apalagi berbicara masalah takdir.  
    Maksud
    masalah di sini berarti ketidaksesuaian pada keadaan yang terjadi dan
    ‘harapan’. Karena takdir bukan hak manusia, itu kawasan Tuhan. Berikut juga
    dengan misteri, ia tak melibatkan akal manusia sama sekali.  Kegagalan merupakan masalah,  berdiri di luar garis perkiraan oleh pikiran.
    Ini sebenarnya bisa menjadi petunjuk, kalau-kalau manusia itu memang lemah.  “maka”, mengapakah masih menyalahkan diri
    sendiri, merendahkan diri yang memang lemah.

    Menyikapi Kegagalan, Gagal total, Tips saat gagal
    HDS Picture

     Salah satu kelemahan-kelemahan itu adalah
    keserakahan. Sampai kapanpun dan bagaimana pun sifat itu akan ada, tak bisa
    dihilangkan. Hanya saja bisa “dikendalikan.” Ini hanya sebagai contoh, dan
    penyebab dari kemelesetan dari logika. Tentu saja, dengan kesadaran yang
    diupayakan adanya ini semua akan menempa jiwa dan mental manusia.

    Maksudnya
    begini, dunia ini tanpa kehadiran masalah tak kan disegani oleh masa depan.
    Justru, masalah mengukuhkan dari eksistensi dan identitasnya. Apalah arti suatu
    hal, bila ia sudah mudah dan biasa didapatkan? Kita akan mudah merasa eman-eman
    terhadap benda dari usaha sendiri; bukan hanya nilai dari benda itu sendiri.
    Lihatlah, seseorang akan lebih “baik” menjaga barang dari usahanya sendiri
    dibanding diperoleh dari usaha orang lain (hadiah, curian, penghargaan dll).  Sungguh, kondisi memperihatinkan ini perlu
    direnungkan dalam-dalam.
    Selanjutnya,
    pasti masing-masing kita pernah alami keadaan naik-turun. Naik perlambang
    kebahagiaan, kesuksesan, kenyamanan dan keamanan. Dan turun sebagai pelambang
    dari ketidaknyamanan, ketidaksuksesan, kegundahan dan kondisi paling bawah. Keadaan
    yang berpasangan ini muthlak terjadi dalam kehidupan kita sebagai manusia. kita
    sedih, kadang juga bahagia. Kita bersemangat, kadang juga malas berusaha. Itu
    sudah kewajaran dan dapat dimaklumi.
    Catatan
    yang perlu diperhatikan ialah saat-saat kita betah dalam satu kondisi. Sangat
    tidak wajar, kondisi senang terus-menerus, bukankah senang itu berawal dari
    penderitaan (kerja keras). Memang perlu kemelencongan dalam apa pun.
    tujuannya simpel saja, agar kita semakin giat, semakin semangat. Kalau kita tak
    pernah gagal, usaha kita kurang begitu bertenaga, membosankan begitu-begini
    saja. Nah, dalam masalah (yang kita sebut kemelencongan) fungsinya
    menghilangkan ‘bosan’ yang datang, memberikan kekuatan untuk menantang.
    Selanjutnya,
    janganlah pernah menyalahkan diri sendiri dengan menposisikan diri secara
    berlebihan. Yaitu, sebagai sumber masalah dan problem. Pasalnya, setiap masalah
    belum tentu ‘benar-benar’ masalah. Kita kadang dapatkan musibah, padahal hikmah
    dan buahnya melebihi dari sekedar musibah. Gayung tak bersambut ketika cinta
    terhempas, janganlah sakit hati, apalagi menyalahkan diri sendiri; “saya tak
    pantas”, “Oh, mengapa  saya diciptakan
    seperti ini?” tak etis sekali dengan semua sikap ‘menyalahkan diri’ sendiri.
    Ya,
    katakanlah kepada diri sendiri “hanya itu sebatas kemampuan saya”, “Saya hanya
    bisa melakukan itu saja.” Perbandingan ini memberikan satu pemahaman akan
    penerimaan diri. Ketenangan saat tak nyaman, bukan berarti kenyamanan dan betah
    dalam ketidaknyamanan. Ini sebagai obat agar penderitaan menjadi kekuatan dan
    tidak menjerumuskan kepada kehancuran yang lebih parah lagi. Artinya, tidak
    berkubang dalam satu kondisi dan terkunci di dalamnya.

    Tapi
    syaratya harus mengoptimalkan segenap usaha. Usaha harus mencapai puncak
    optimal. Tidak setengah-setengah, namun meneruskan segenap apa yang dilakukan. Lakukanlah
    apa yang bisa dilaksanakan dan maksimalkanlah sebaik mungkin. 
    M.G. Ma’ruf (14 Juli)

    176 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    3 tanggapan untuk “Kegagalan Bukanlah Ajang Menyalahkan Diri”

    1. Berbica soal kegagalan, memang sering saya alami. Memang berat rasanya jika GAGAL pada sesuatu bidang atau keahlian yang kita terbiasa di dalamnya. Orang bilang kegagalan adalah sukses yang tertunda. Benarfkah demikian? Mengapa saya tidak merasakan hal demikian. GAGAL tetaplah GAGAL. Tinggal bagaimana kita bangkit lagi dari KEGAGALAN

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *