Kecemburuan

    hari gini masih saja ribet memikirkan “orang lain”, memikirkannya yang belum tentu memikirkan kita. Bukan berarti kita egois atau tidak, tapi ini masalah jati diri agar waktu tidak terbuang sia-sia memikirkan hal yang berlarut-larut belum juga terselesaikan. Coba bayangkan, berapa banyak waktu yang terbuang untuk perkara sepele. Ini kan Cuma masalah hati, yang menuntut penyelesaian secara hati-hati, untuk itulah dibutuhkan pikiran, bukan dengan perasaan.
    Cinta itu buta, lalu jangan butakan masa depanmu hanya dengan memikirkan orang yang belum jodoh dengan dirimu. Ada saja yang lebih bermanfaat untuk dipikirkan. Semisal belajar untuk masa depan, membangun dan mengasah skill demi terang berderang di masa akan depan. Kalau tidak percaya cinta buta, coba lihatlah bagaimana mereka yang menjalin hubungan dengan melanggar norma-norma agama pada akhirnya memberikan seribu macam hal yang tidak diinginkan.
    Dengan bercermin, kita bisa mengetahui siapakah diri kita. Barangkali itulah objektivitas untuk mengetahui rupa diri kita, tapi ingat, berkacalah pada cermin yang baik, bukan yang cembung atau lengkung. Sebab, bagaimana pun dirimu tetaplah dirimu. Kamu bukan orang lain, jadi jangan sampai kau ikut-ikutan seperti orang lain alami ketika sedang cemburu. Cukupkanlah dirimu untuk menjadi dirimu sendiri, yang apa adanya.
    Kalau mau bercermin untuk selanjutnya, tentu akan ditemukan hampir sebagian besar sebab penderitaan kesedihan, kecemburuan terdapat pada “pupus harapan”. Satu dan lain hal, keinginan yang ‘menggebu’ sementara hal tersebut belum juga tersampaikan. Walhasil, menderita, “ojo galau mulu!!”. Jadi, jangan terlalu berharap akan dapat dicintai, jika kita telah mencintai. Bagaimana pun, Rencana Tuhan selalu lebih indah dibanding dengan rencana kita.
    Sepertinya, ini tidaklah menjadi suatu masalah yang rumit. Hanya saja diperlukan penyesuaian dengan keadaan yang baru saja dialami. Yang biasanya “me- atau di-“ berubah tidak sama sekali. Menyayangi, tapi karena cemburu akhirnya tidak menyayangi. Begitu pun dengan “di-“. Di zaman sekarang, bukan tidak sedikit mereka yang tertekan oleh perasaannya sendiri, walau pun sebenarnya ia diakibatkan oleh stimulus yang berada di luar dirinya. Hanya diri sendiri yang dapat menolong dari semua perasaan cemburu. Karena masing-masing kita dibekali dengan kemampuan berfikir dan bernalar. Mengapa ketika emosi lagi tinggi, pikiran menjadi mandul??
    Tentu ini tidak fair,jika membiarkan pikiran mandul hanya gara-gara emosi, apalagi sampai bunuh diri, na’udzubillahi min dzaalik. Lalu, gunakan pikiran sebagaimana mestinya,  mengkomparasi permasalahan. Membanding-pahami dan kemudian mencari bukti-bukti untuk mendapatkan solusi. Tinggal apa lagi, jangan dramatisir terhadap kecemburuan dengan menumpulkan akal pikiran.
    Untuk dapat berkembang dengan baik, keadaan pikiran harus stabil, jangan sampai emosi labil. Tenangnkanlah perasaan dengan menyerahkan semuanya pada pencipta perasaan, dan sadarlah semua akan dapat dilalui. Tinggikanlah ‘harapanmu’, bahwa ada yang terbaik dari yang baik dan sedang menunggu kita untuk menjemputnya dengan menggunakan akal pikiran.

    Jika aku katakan begini, bukan berarti kau beralih dari otak dominan kanan (emosional) ke otak dominan kiri (rasio). Yang dibutuhkan adalah keseimbangan antara keduanya, yang akan memberikan rasa, dan karsa. Akhirnya, jangan budayakan kecemburuan, karena hal tersebut akan menjadi suatu yang tak akan pernah ditentang oleh norma.

    625 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *