Kebutuhan Dasar (cinta)

    Bila kamu pembaca setia blog ini, hampir kau pastikan dalam
    postingannya (setiap bulannya) selalu ada tulisan bertemakan cinta. Ini
    petanda, cinta memiliki tempat dan ruang tersendiri di dalam pikiran si
    penulis—empunya blog ini. Ia menghantui, merasuki jiwa secara diam-diam, dan
    mempengaruhi fungsi pikiran serta perasaan. Di kesampatan kali ini, kembali
    penulis membahas cinta yang dimaksud oleh Maslow (tokoh aliran psikologi
    Humanistik) dan cinta yang penulis pahami dari beberapa sumber islami.
    Abraham Maslow mengatakan, “jika seseorang lapar, maka yang
    merasa lapar bukanlah perutnya saja, namun keseluruhan jiwanya yang telah menggerakkan
    dirinya sehingga merasakan yang demikian.” Asumsinya, kebutuhan akan cinta,
    menyayangi-disayangi, dicinta-mencintai yang merasakan bukanlah hati terdalam
    saja, namun keseluruhan jiwa-bahkan raganya. Buktinya, ada yang tak bisa tidur
    di tengah malam gara-gara memikirkan asmara, ada yang tak dapat menikmati makan
    siangnya hanya persoalan “ketidakramahan cinta.” Dan seterusnya.
    Selanjutnya,  yang
    dimaksud dengan cinta yaitu sebagaimana dikatakan oleh Rogers. “keadaan
    dimengerti  secara mendalam dan diterima
    sepenuh hati.” Maslow sependapat dengannya, saat cinta tak sebatas kepada
    kebutuhan seksual, namun lebih dari itu. Ketiadaan cinta akan menyebabkan
    perkembangan kemampuan seseorang akan terhambat, begitulah apa yang diyakini
    oleh tokoh tersebut. Akan tetapi perlu diingat, rusaknya cinta disebabkan oleh
    “perasaan kita” sendiri, yaitu kita merasa “tak dihargai” walau pun sebenarnya
    dihargai. Termasuk juga perasaan takut. Yaitu, ketika menyembunyikan diri kita
    di balik topeng-topeng dan khawatir ketahuan. Artinya, cinta perlu
    kesalingmengertian, kesalingpemahaman dan kesalingmenerimaan.
    Maka rumusnya, cinta itu perlu seimbang. Sangat tidak adil
    bila memberi cinta namun tidak menerima cinta. Atau sebaliknya, dapatkan cinta
    namun tak pernah merasakan mencintai orang lain. pahamilah cinta, ciptakanlah,
    ramalkanlah. Tanpa cinta, dunia akan sirna oleh kebencian.
    Dalam pandangan Islam, cinta itu dijadikan sebagai indakator
    dari keimanan seseorang. Yang  mencintai
    karena Allah, tidak ada campur aduk dengan kemelut hawa nafsu birahi. Murni mencintai
    siapa pun karena-Nya. Bila tidak, maka jangan terkejut ternyata cinta itu
    berakhir dengan kebencian, kekecewaan dan menyakitkan. Sebagai seorang yang
    menginginkan cinta sejati, sudah seharusnya mencintai itu karena Allah.

    706 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    2 tanggapan untuk “Kebutuhan Dasar (cinta)”

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *