Kebencian

    Apakah karena kedholiman, kita dengan mudahnya membenci orangnya.

    Misalnya, ketika mengetahui bahwa Ahmad adalah seorang tukang fitnah, kecenderungan kita sebagai manusia yang tak jelas keimanannya lantas membenci si Ahmad, bahkan untuk selamanya. Parahnya lagi, sampai anak turunannya pun ikut dibencinya. Kebencian yang dilandaskan oleh “sakit hati”. Bila memang berlandaskan keimanan, mungkin bukan istilah kebencian yang cocok,melainkan ada istilah lain yang saya belum tahu. Tentu, dalam hal ini kita tetap manusia yang menjaga ukhuwah, membenci perilakunya, bukan orangnya.

     
    Akhirnya, terjadi salah kaprah kebencian. Seolah-olah memang dibenarkan membenci pelaku pendholiman, tetapi benci itu sendiri belum tentu dilandaskan oleh kebaikan, tetapi oleh nafsu. Walhasil, perlakuan orang yang “katanya” baik atau merasa baik tidak bisa memperbaiki keburukan orang lain, justru menjadikannya menjadi-jadi. Terjadilah permusahan antara sesama muslim yang tentu pasti memiliki dosa.

     
    Kita sebagai manusia, berusaha untuk memahami di balik perilaku tersebut. Apa penyebabnya mengapa seseorang sedemikian dholimnya. Barangkali, pelaku tersebut tidak mampu memperbaiki diri, tetapi ia butuh seseorang yang memahami dirinya. Bukan memberi ceramah, atau nasihat. Tetapi, seseorang butuh diperhatikan dan didekati dengan “hati yang tulus”. insyaAllah, dengan ini mudah-mudahan pintu hatinya terbuka.

     

    Hal ini selaras dengan da’wah rosulullah, beliau tidak membenci orang yang menyakitinya, yang melempar kotoran unta kepadanya. Justru, beliau memberi perhatian dan merangkulnya. Hingga suatu ketika, seseorang itu masuk islam. Di sinilah Islam yang sesungguhnya. Islam yang rahmatan lil’alamin. Permasalahan besar, marilah kita kecilkan. Permasalahan kecil jangan dibesar-besarkan, mari kita selesaikan dengan bijaksana. Tak ada masalah jika kita menyadari bahwa kita esok akan meninggalkan dunia yang fana ini, kecuali membawa diri tanpa iman.

    1,430 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    11 tanggapan untuk “Kebencian”

    1. Bisa jadi, orang itu gak mau memperbaiki diri, dari salahnya apa yang telah diperbuat. Tidak cuma itu, segala sesuatu kalau dilakukan dengan hati yang tulus, in shaa Allah hasilnya bagus…

      Memang harus belajar dari Rasulullah, belajar sabar, tak mudah marah. Terus mengingat sang penciptna.. Semoga sisa waktu ini bisa digunakan dengan baik ya, Mas .. aamiin..

      Salam kenal 🙂

    2. Suatu gambaran yang ada di benak seseorang terhadap perilaku orang lain memang kadang sulit untuk dirubah.

      Kalau di benak menggambarkan perilaku yang bagus sih mending, kalau kurang bagus ya bakal terus menerus diingat bahwa orang tersebut punya perilaku gitu.

      Salam kenal hehe

    3. wah wah, kebencian bisa dilawan dengan sabar dan toleransi. Its very hard.. Memang orang dholim belum tentu karna mereka asli bruk, mungkin karna dia butuh orang lain.. Akan tetapi, dalam bersabar menghadapi orang seperti itu sangat susah sekali..

      Very hard

    4. Kekuatan benci sebegitu dalamnya ya Mas. Makanya saya berusaha kalau gak suka sama orang langsung diungkapkan. Daripada ditahan trus jadi baper kemudian benci? mending marah sekali, habis itu selesai.

    5. sebaiknya kita janagn memebenci orang yang membuat kesalahan secara terus menerus, kalau awalnya benci itu tidak maslah, ya wajar kan namanya juga manusia punya emosi.

      Manusia juga butuh proses untuk memperbaiki diri.

      kebencian merupakan hal yang sangat tidak baik hehe.

    6. Setuju banget sama point, bahwa orang yang “bermasalah” butuh seseorang yang memahaminya, bukannya ceramah atau nasihat. Nyatanya tidak semua nasihat atau ceramah itu bisa diterima banyak khalayak, karena mungkin efek bosannya dan nggak ada hasil nyata dari hanya sekedar ucapan.

      Semoga kita semua bisa jadi manusia yang selalu mengedepankan kasih daripada kebencian

    7. bro, gimana kalo benci sama mantan? 😀

      setuju. kita memang jangan suka membenci. apalagi itu pake nafsu. jangan! se bagai manusia kita harus saling memaafkan. jadilah insan penyabar. tapi itu susah. memaafkan itu susah. tapi justru yang susah itu ganjarannnnya besar. btul enggak!

    8. Ah, kebencian makin menjadi2 di era globalisasi. Melek teknologi malah kayak gini, liat aja di sosial media. Isinya nyebar kebencian, ngomong kasar dan hal2 yang gak pantas.

      Ironi memang, sesama muslim tapi kayak gitu. Fiuh.

    9. Iya setuju banget, bencilah perilakunya bukan orangnya. Ini kayaknya jadi pengingat diri saya sendiri deh. Yang namanya manusia, sadar gak sadar pasti pernah membenci seseorang, bukan benci perilakunya.

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *