Kebenaran Untuk….

    Ke
    #1
    Opsi
    Kebenaran,
    tiada habis-habisnya dibahas sampai kiamat datang. Oleh para filusuf, oleh para
    sastrawan, dan siapa pun pengagung kebenaran. Seberapa pentingkah kebenaran,
    bila pada akhirnya dibiarkan terbuai? Tidak sedikit yang mengetahui kebenaran
    sesuatu, namun justru menjadi pengkhianat dari kebenaran tersebut. bila begini,
    masih kah kebenaran dicari? Atau, kebenaran apa yang menggerakkan hati?
    Kaum
    positivisme, kebenaran bagi mereka; hasil verifikasi. dengan menguji setiap
    apanya yang dianggap benar: dibandingkan dengan kebenaran simpanan. Sehingga,
    sampai pada satu titik kesimpulan yang menggantung. Karena kebenaran sekarang,
    bukanlah kebenaran masa depan. Ia hanya hidup di waktu sekarang saja. Sedangkan
    kebenaran al-Qur’an, kebenaran tiga zaman, kebenaran sebelum bumi diciptakan,
    kebenaran saat bumi proses penghidupan dan kebenaran sampai bumi hilang
    tertelan. Meskipun, banyak yang mengingkari kebenaran al-Qur’an: kalau memang
    tidak mengingkari, lalu mengapa al-Qur’an tidak diamalkan? Lalu mengapa al-Qur’an
    hanya sekedar hiasan perumahan? Naudzubillah..
    Bagi
    mereka—kaum positivisme, pembuktiaan kebenaran menguatkan teori. Apakah realita
    selalu mendukung bagi pembuktiaan? Bukankah selalu ada hukum istitsna’ dalam
    segala hal. Ah, apalah kebenaran mereka selalu disanjung. Kebenaran yang
    menurut mereka, bukan menurut kamu atau kita semua. Mereka hanya mengubah ‘fokus’.
    Penejelasan ini jangan dijadikan kambing hitam, lihatlah ‘semangat’ mereka
    menelusuri sepak terjan menuju kebenaran pikiran mereka.
    Lawan
    Benarkah
    kita, bila pernah salah? Salah kah kita, bila tak membenarkan kesalahan? Menggantung.
    Kebenaran ilmiah tak lebih pemberian ruang pada kesalahan. Yang berdalih harus
    benar 100%, mustahil! Dan ini jelas berbeda dari kebenaran normatif—kebenaran dalam
    agama. Bila manusia tidak pernah salah, itu tidak benar. Beginilah pandangan
    Karl Popper.
    Kesalahan
    merupakan guru terbaik, kaum psikiater menyambut baik para clientnya,
    semata-mata sambil pula belajar dari mereka. Maka tak sengan, bila Anda
    berbicara kepada mereka, mereka akan memberikan penghormatan-penerimaan.
    Begitu
    pun dengan penganut saintisme. “Bila sesuatunya tidak ilmiah, maka salah lebih
    baik baginya.” Menurut mereka, kebenaran tanpa keilmiahan bukanlah kebenaran
    hakiki. Kalau begini, al-Qur’an salah? Salah menurut mereka karena tidak
    ilmiah. Al-Qur’an tidak menunggu kebenaran dalam konsep mereka, ia benar karena
    wujudnya sendiri. Tidak bisa diukur oleh kebenaran ciptaan manusia. Tanpaknya,
    penganut saintisme, atau pun positifisme tak mampu menjatuhkan al-Qur’an.
    Akhiran
    Al-Qur’an
    benar untuk dibenarkan, dan benar karena memang benar.

    770 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *