Kebenaran Telah Mati

    Kepada apakah
    kebenaran bergantung? Untuk apa ia diciptakan? Mengapa harus ada kebenaran? Apakah
    masing-masing pembenaran bisa dibenarkan? Atau juga, apakah yang tak menyuarakan
    kebenaran dapat dikata “benar”?
    Aurangzeb
    bahkan tak tahu apakah hidup itu sendiri, ke manakah jiwanya akan pergi. Seorang
    Raja Mogul tersebut tak lagi sadar, sedangkan ia sendiri yang katanya “bersama”
    Tuhan. Dalam surat terakhirnya, dikatakanlah yang tersirat seperti ini. Apa yang
    telah diperbuatnya? Seorang raja, yang ternyata di raja oleh dirinya sendiri.
    Aurangzeb
    pemberontak, memandang toleransi sebagai pengkhianatan. Lelaki itu bahkan bisa
    dikata tanpa cinta, belaskasih dan kekecewaan serta kemewahan. Cukup adil
    dikata sebagai raja dikenal sampai 3 abad lamanya. Sayangnya, ia buta di dekat
    cahaya. Bersama Tuhan, tapi tak mampu melihat dengan cahaya-Nya, menyedihkan.
    Barangkali
    begitulah sebuah kebenaran di muka bumi ini. Tanpa begitu nyata di dalam diri
    sendiri, dan jelas kurang begitu peduli selain itu. Yang tanpak di luar
    hanyalah kesalahan, terlalu peka. Hingga tibalah suatu waktu, yang sama-sama
    menemukan kebenaran di dalam “dirinya sendiri”. Dan dianggaplah itu kebenaran
    yang paling absolut. “kamu itu salah, musnahkan!” begitulah pro kebenaran. Heran,
    sikapnya itu tak sejalan dengan pembenaran “mulutnya”.
    Kecewa,
    cahaya itu tak lagi menerangi yang dibawahnya. Bisa jadi kemudian, kebenaran
    kini jangan-jangan bukanlah kebenaran. 

    Aurangzeb
    mendapatkan tahtanya setelah mengadakan angkat senjata, memberontak. Selain juga
    karena perbedaan pandangan dalam mendekati hidup. 1657 terjadilah pertikaian
    antara Syah Jehan dan Aurangzeb, tapi ia masih kalah. Kekuasaan Jehan masih
    kokoh.
    Bukanlah
    hal aneh, dalam Kerajaan Mogul pertentangan kekuasaan antara anak dan bapak. Sifatnya
    itu memuthlakkan kekuasaan. Sebelumnya, ternyata Jehan juga bertikai dengan
    ayahandanya, Raja Jengahir. Dikisahkan, saat 1922 Jengakhir kalah, Jehan
    membunuh saudara-saudaranya untuk merajakan dirinya, sebagai penguasa.
    Sejarah
    masa lalu India ini seakan membuktikan, hukum karma itu ada. Jehan mati setelah
    dipenjarakan oleh anaknya sendiri di Banteng Arga. Ia hanya dijenguk oleh
    Jaharana, putri setia. Delapan tahun berlalu, ia meninggal saat menyaksikan
    makam Mumtaz denga Taj mahal melalui mercua. Kebengisan dibalas dengan
    kebengisan, Jehan mendapatkan balasannya di dunia.
    Taj
    mahal sebagai persembahan untuk Mumtaz—istri Jehan—dalam usianya yang  hanya 39 tahun, ia meninggal. India memang
    makmur, “hanya memakmurkan Raja Penindih”. Kelaparan dalam sejarahnya paling
    mencekam di saat itu. Penguasa telah berdiri di atas penderitaan, membenarkan
    dirinya di atas penyalahan orang lain.
    Bila kebenaran
    telah dibicarakan, saat itulah kebenaran hanya dalam lisan. Harga diri
    kebenaran telah rontok oleh mereka, yang tak mampu mengikuti nasihat kepada
    orang lain. Katanya “tegakkan kebenaran”, eh di balik sana, perilakunya
    mengatakan “santai saja lah, jangan kesusu sok menjadi pionir kebenaran”.
    Kebenara
    itu cukup di hati, tapi perlu dilontarkan. Hanya saja, perlu diungkapkan dalam
    perilaku yang sesuai apa yang diangap benar. Pengakuan terhadap kebenaran,
    adalah kesombongan. Tuhan tidak suka pada para penyombong.  Perilaku yang benar, itu lebih berasa suaranya
    dibanding hanya banyak omong.

    Dan kita
    bukanlah penerus Aurangzeb, tapi dia banyak membantu kita semua menemukan sudut
    pandang tentang kebenaran. 

    1,080 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    3 tanggapan untuk “Kebenaran Telah Mati”

    1. Eh… Kebenaran harus diakui deh. Karena pengakuan atas kebenaran itu otomatis akan membuat kebenaran itu didengar oleh banyak orang. Karena jika kebenaran tidak pernah digaungkan maka yang bergema di seantero bumi hanya kesalahan dan kejahatan.
      dan kejahatan yang terus menerus diperdengarkan akan membuat orang yang mendengarnya lambat laun akan merasa bahwa itulah hadits tentang kebenaran.
      lalu dunia pun menjadi terbalik

    2. Bicara soal kebenaran, begini aja deh ya menurut pendapat Bunda mah kalau sudah tidak ada kebenaran, maka dunia ini dan kehidupan di dunia akan menjadi kacau-balau…'Tul?

    3. Wah, tulisan puanjang tentang kebenaran. Di mana pun kebenaran itu harus ditegakkan. Kalau kebenaran sudah dianggap hilang dari muka bumi, maka kehidupan pun akan amburadul. 'Tul?

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *