Kau itu Siapa

    “My time is not yet, …only the day after
    tomorrow belongs to me” –Friedrich Wilhelm Nietszche

    Saya terheran, mengapa masih banyak
    yang ingin dihormati, dihargai bahkan diagung-agungkan. Keheran pertama pada
    mereka, ingin dihargai sedangkan sikapnya justru merusak harga dirinya. Yang
    lain, ingin dihormati, sama saja perilakunya, muak untuk diperhatikan. Atau,
    hanya sekedar tanpak baik di muka umum, namun jauh di sana, tersembunyi
    perilaku “yang berkebalikan” telah nyata bisa dilihat.
    Engkau siapa? Meminta kepada saya untuk
    sebuah penghormatan. Pantaskah engkau dihormati, bila kau memang tak pantas
    dihormati. Engkau telah tampilkan perilaku yang terpuji, tapi benarkah engkau
    terpuji di sisi-Nya? Oh belum tentu, semua bagi saya terlalu sama untuk
    disamaratakan. Kemuakan pada kondisi kekinian, yang tercerdas di antara semua,
    justru menjadi bumerang bagi yang lainnya. Yang bersikap sosialis, eh nyatanya
    setelah itu menjilat secara lihai.
    Pikiran saya dikacaukan oleh kenyataan
    ini dan itu. Termasuk di dalamnya “orang gila”; gila pada penghormatan, gila
    pada sanjungan, gila pada cinta, gila pada dirinya, gila pada semuanya. Untuk
    gila cinta, maka ditemukan fenomena pacaran; mengangumkan cinta di atas
    segalanya hingga buta kepada cinta yang sesungguhnya. pada cinta penghormatan,
    terlalu asyik dipuja bawahannya, hingga lupa mereka berawal dari yang terbawah. 

    Sekarang bukanlah waktu yang tepat
    untuk menarik kesimpulan seseorang baik kah, atau tidak? Cocokkah atau justru
    tidak? Karena waktu itu akan terus berlangsung, seiring kebaikan yang tak kan
    ada kecuali bersatu pada waktu. 
    Implikasi yang dapat dipahami, kebaikan tak bisa dipisahkan tanpa adanya
    waktu. Mereka yang dianggap baik, itu bukan yang baik sekarang, tapi yang baik
    pada masa depan. Untuk masa lalu tak perlu dipedulikan. Biarkanlah apa pun
    kondisi masa lalu, yang terpenting baik sekarang, dan terus menuju yang akan
    tiba. 

    Dan itulah dirimu, dirimu yang
    sesungguhnya. diri seseorang yang tak lagi pantas untuk dipertanyakan “kau itu
    siapa?”

    Jadi begini saja, bila kebenaran itu
    nyata ada, mengapa kau tak ada bersamanya? Bukankah engkau ingin dihormati,
    ataukah kau lebih dulu belajar menghormati pada dirimu. Seorang tak akan lagi
    menjungjungmu, di atas segalanya. Hanya bila mana engkau mau menghormati
    dirimu, sesuai sikap tuntutan sosial, engkaulah dengan sendirinya penghormatan
    kan datang.  Jadi yang terhormat, tanpa
    menginginkan penghormatan dari yang lain.
    Hormatilah dirimu,  dengan tidak mencinta pada waktu yang tepat. Jangan
    mencari cinta, karena cinta tak akan datang pada orang yang tak tepat. Namun,
    kedatangannya terselubung dalam waktu yang tak tentu, pada keadaan di mana
    seorang sudah pasrahkan semuanya hanya kepada Dzat Sang Pencipta.
    Hormatilah dirimu, dengan tidak
    menyalahkan pada keadaan. Bukan berarti keadaan yang tak membuatmu nyaman. Di
    sisi lain, bila saja engkau mau memahami bahwa hikmah apa yang Allah ingin
    ajarkan dari peristiwa hidupmu, engkau bisa lebih memahami.
    Kau itu siapa? Kau itu yang
    mempertanyakan dirimu sendiri. Jangan tanyakan kepada yang lain,
    mempertanyakan, itu sudah jelas kau bukanlah siapa-siapa. Benarkah begitu?
    Kebenaran adalah kesadaran untuk hidup. Hidup yang tak disadari, hanyalah hidup
    yang tak pantas dijalani.
    MG. Ma’ruf
    Kediri, 
    24 November 2014

    876 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    Satu tanggapan untuk “Kau itu Siapa”

    1. Sampai sekarang masih banyak orang yang minta dihargai karena jabatannya yang tinggi. Di kantor gejala seperti ini sudah banyak, Sudah bukan rahasia lagi Yang merasa jabatannya tinggi mejadi pongah karena jabatannya Orang seperti itu jangan diikuti Dianggap NOL saja baru tau rasa. Kita memperlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *