SAM_3740

Kata Mereka

    Kritikan, Makruf, LPM, PPMI, PMII, STAIN Kediri, TMI Al-Amien, Sumenep

    Ada kebutuhan penerimaan, ingin
    dihargai, ingin dimengerti pada masing-masing orang. Alasan itulah, mengapa
    komentar di blog bernilai mahal. Mengapa like di facebook beserta komentarnya
    juga ikut mahal. Mustahil, bila seseorang tak membutuhkan “kata mereka.” Mereka
    lah yang membentukmu, membuatmu tetap berdiri tegak. Layaknya anak kecil yang
    belajar merangkak, membutuhkan orang tua untuk terus membantunya berdiri
    kemudian berjalan sampai mampu berlari.

    Beberapa waktu lalu, berkat
    silaturahim ke blog teman aku menemukan sebuah kata yang mendalam. Intinya,
    kita bekerja karena kita sendiri dan sudah sepantasnya menggunakan kemampuan
    panca indera, kecuali telinga. Jangan kau gunakan telingamu untuk mendengarkan “kata
    mereka.” Si penulis mungkin merasa, perkataan orang lain tak banyak membantu,
    yang terjadi justru menjatuhkan.
    Bagiku pribadi, sebenarnya boleh
    saja kita tak mendengarkan kata mereka. Namun, kita ambil baiknya saja dari
    komentar orang di sekeliling.  Andai tak temukan
    “mutiara” di dalamnya kritikan orang lain, maka mengindahkannya lebih baik. Carilah
    pujian atau apresiasi yang orang lain layangkan kepada diri kita. Hal itulah
    yang akan membuat tetap berdiri tegak, dengan pertimbangan umumnya setiap orang
    menjauhi “penolakan” dari segala bentuk apa pun.
    Perhatikanlah, mengapa di balik
    kekuatan seorang pria selalu mendampingi di dekatnya seorang wanita yang halus.
    Ya, benar ada “alasan” mengapa seorang suami harus bekerja banting tulang. Alasan
    atas pertanggungjawaban terhadap “qabiltu nikaahuha dst”, tanggungjawab
    terhadap anaknya dan lain-lain. dalam hal apa pun, temukan alasan “mengapa kita
    harus bisa melakukannya?” Bukan selalu memikirkan ”mengapa kita tidak bisa
    melakukannya?”
    Pada akhirnya, dengan alasan
    yang tepat mereka yang mampu bersikap bertahan. Jangan jadikan komentar buruk
    mereka sebagai alasan mengapa kita tak mampu menyelesaikan tantangan. Dari diri
    sendiri, menimbulkan keyakinan sekuat diri akan alasan yang tulus, murnia tanpa
    ada campur aduk emosi. Karena kritik hanya memberi emosi dalam kondisi tidak
    stabil, nyatanya juga memberi motivasi. Namun sayang itu berakhir kepada
    kekecewaan.
    Cukup, dengan menyadari alasan
    yang baik itu. Pekerjaan yang dilakukan tanpa disadari tak lebih pekerjaan yang
    kosong. Di sini, kita akan menemukan banyak hambatan terkecualikan bila sadar
    apa yang dilakukan, sadar mengapa kita harus bisa menyelesaikan tantangan dan
    sadar ada banyak orang-orang yang mencintai kita mengharapkan dan menunggu di
    garis finish sana. Yakinlah,!

    170 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    20 tanggapan untuk “Kata Mereka”

    1. Kritikan itu memang kadang menyakitkan, malah kadang bikin sakit hati tapi kalau kita tidak mendengar kritikan orang kapan kita akan maju
      memlalui kata orang-orang lain ada baiknya kita ambil sisi positifnya
      selalu kok, pasti ada yg indah dibalik kritikan tsb
      berusaha, membuka mata, banyak mendengar insyaallah bisa 🙂

    2. ngomong2 soal kritikan, saya ingat apa yang pernah di katakan oleh Warren Buffet, bahwa jangan lakukan apa yang dikatakan oleh orang lain. Tapi dengarkanlah mereka. Setelah itu, berpikirlah dan lakukan apa yang menurutmu benar. Jadi ya kita dengarkan aa kritikan mereka. Toh mereka akan menjadi pelengkap kesempurnaan kita bukan? hehe.
      Tuhan juga menciptakan 2 telinga dan 1 mulut pada manusia. Semua pasti ada alasan.

    3. Setuju banget kak. Setiap manusia pasti akan selalu butuh orang lain. Begitupun penulis. Dia butuh pembaca buat membaca karyanya. Dia butuh penyemangat buat bisa menyemangatinya dalam menulis. Dan, dia butuh "kritikus" buat membuatnya semakin semangat bikin karya yang lebih baik.

      Biar gimanapun, dengerin komentar orang sangat gak salah. Pinter-pinternya kita aja buat mencerna perkataan mereka.

    4. keren tuh Gha, emang gara2 kata mereka… komentar blog berharga mahal 😀
      menurut gue sih, bagaimana kita menyikapinya aja.. kalo ada orangyang memberi kritikan, bahkan mungkin pedes.. mending disabarin aja. bagaimanapun juga belum tentu kata satu orang adalah penilaian seutuhnya akan sebuah tulisan kita misalnya.
      tetep santai dan koreksi diri seperlunya, hal itu juga berlaku terhadap pujian yang datang.. jangan cepet puas.

    5. salam kenal ya bro, warga baru nih di BE. btw keren postingannya.

      kritikan dari orang lain itu penting banget buat kita untuk mengoreksi kesalahan kita dan memperbaiki untuk menjadikan kita lebih baik lagi.

      ga selamanya kok omongan orang lain itu sifatnya menjatuhkan, asalkan kita harus pintar menyaring aja mana omongan yang sekiranya bisa membuat kita lebih baik lagi

    6. Asli… dulu pernah sempet berhenti ngeblog gara2 gak ada komen..
      ada satu komentar tuh gw rasa udah membuat tulisan gw berharga ….
      namun jika ada komentar yg negatif atau menjatuhkan… gw hanya bisa bilang "mungkin gw yg salah,dan harus banyak introfeksi diri"
      Postingannya mantap bro 😀

    7. gw suka kalimat kedua dari terakhir, itulah fitrah manusia untuk selalu berusaha dan jangan menyerah, dulu juga gw suka dikomenin negatif tapi klo baik kita ambil buat pembelajaran klo buruk itulah pemacu semangat kita ^^

    8. Lebih baik dikritik daripada didiamkan, tapi lebih baik jika kita beroleh kritik yang membangun bukan menghancurkan. Kita butuh banyak masukan. Jadilah insan yang bisa murah hati, menerima kritik dan bersedia memberi kritik. Itu sulit, memang. Bagaimana pun, kita punya hati, ada rasa tak nyaman dikritik.

    9. Lia dulu pernah buat cerpen, terus dapet kritik dari seseorang yg langsung bikin Lia down dan ingin berenti nulis. Tapi akhirnya Lia sadar, kritik tuh penting. Biar kita tau letak kesalahan kita dimana dan berusaha memperbaikinya.

    10. Kadang kita emang butuh kritik biar lebih baik. Tapi kebanyakan orang susah bedain mana kritik mana menghina. Suatu kritik menurut gue harus disertakan apa yang harus dilakukan biar jadi lebih baik. Kritik yang membangun.

    11. kadang emang suka kesel karo dapet kritikan apalagi kalo kritikannya pedes level 5 beuuhh kuping panas men, tapi ya balik ke orangnya sih, kalo aku meski kuping panas tp tetep cuek aja lah, tp kadang kritikan pedes itu bisa jd pembelajaran jg sih. tp bener kalo emang lg down gara2 kritikan pedes mending coba baca komentar yg memuji, ya se tidaknya cukup bisa membuat mood baik lg

    12. Walau dapet kritik, saran, pujian atau hinaan. Tapi, sebuah komentar pada tulisan kita menunjukan kalau karya kita telah mendapat perhatian dan berhasil menarik orang untu memberikan pendapatnya.

      Bagi saya sih, hal itu udah cukup berharga. 😀

    13. ada masukkan bang. untuk penulisan imbuhan lah di mereka sebaiknya digandeng menjadi merekalah. Memang banyak orang yang gak mw menerima kritikan oran lain, padahal mereka hidup di dunia. Kita jatuh / nggaknya saat dapat kritikan jg tergaantung bgmn persepsi kita memahaminya. Mudahnya kritikan itu adalah doa untuk kita sukses.

    14. gue orangnya nggak suka di kritik, tapi itu dulu. sebelum gue sadar kalo 'kata mereka' itu penting, buat gue, yang menilai bukan cuma diri gue doang tapi orang lain juga, berangkat dari situ, akhirnya gue bisa nerima dan memperbaiki apa yang kurang dalam hidup maupun hal lain.. duh gue udah kaya mario tegang. haha

    15. Memang bener banget kritikan yang menjatuhkan itu sebenernya jadi motivasi hidup. Seharusnya begitu bagi orang yang pinter nyikapin nya.

      Gue sih emang tipikal gak suka di kritik. Terkadang kritikan pedas justru bikin down, bukan malah "gue gak gtu kok !!" Tapi itu sih cuma bentar, ntaran jadi balik lagi mood nya, trus udah bisa mikir bener.

    16. Bener.. ambil sisi positifnya di balik apa yang sebenarnya menyakitkan..
      Walau pun tak mudah, bukan berarti itu tak mungkin untuk dilakukan..

    17. Wah..wah.. keren banget tuh.. baru nyadar kalau manusia itu memiliki dua telinga dan satu mulut.. perlu merenung dalam-dalam nih.. sebenernya apa maksud tuhan menciptakan begitu..

    18. Iya bener.. kita harus pintar mencerna kata-kata kritikus. Bukan memandangkan sebagai cercaan atau pun penghinaan. Semoga slalu smangat menulis..

    19. Mendengar itu bukannya lebih penting dari semuanya ya? Orang yang tidak mau mendengar 'kata mereka' berarti mereka tertutup untuk kritik dan saran yang membangun untuk dirinya dong?

      Ya, mungkin itu sebagian sisi introvert dirinya yang tidak mau mendapat masukan dan kritik pedas yang justru bisa membuat diirnya maju dan memperbaiki diri atas apa yang biasanya salah/ benar dalam dirinya. Orang seperti ini biasanya sensitif dan tidak mau mendegarkan nasihat orang. Semoga, kita bukan yang seperti itu ya. 🙂

      Gha, kalimatnya sudah bagus, tinggal dibuat mengalir saja. Sudah ada yang komentar soal EYD di atas. ^^

    20. 'Kata Mereka' itu memang bernilai mahal. tapi justru kalau kita tidak butuh 'Kata Mereka' kita tidak berarti apa-apa. kerena 'Kata Mereka' kita jadi tahu baik buruknya kita, karya kita, dan apa-apa yang berhubungan dari kreatifitas kita.

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *