Karyaku Di Majalah DeDIKASi

    Pram pernah berkata kepadaku, melalui karyanya yang dianggapnya sebagai anak kandung dari darah dagingnya sendiri. “Ah, anakku, kan sudah berkali-kali kukatakan: belajarlah berterimakasih, belajarlah bersyukur pada segala apa yang ada padamu, yang kau dapatkan dan kau dapat berikan. Impian tak kan habis-habisnya”. (Rifai, 2010:195)
    Nah, pada kesempatan kali ini, ada kabar baik yang membuatku begitu ketagihan untuk terus menulis, menulis apa pun yang tak takut untuk tidak dibaca, atau berani untuk tidak dibaca. Hal itu tidak lain karena ada salah satu karya artikelku termuat dalam majalah berskala kampus. Sudah dua tahun loh, aku menjadi crew di lembaga persm mahasiswa ini, namun baru sekarang karya ini berani nongol di majalah. Ya, bagiku ini ga apa-apalah, sekecil apa pun rejeki memang harus tetap disyukuri. Asyik…! bersyukur itu petanda nikmat akan datang untuk yang kedua kalinya.
    Kemudian, kalau sudah termuat di majalah kampus, aku harus bangga sama lo gitu!Aku jawab, “bukan berarti apa-apa, namun aku yakini, hal-hal yang luar biasa selalu diawali dari hal yang biasa-biasa saja, yang terkadang sering diremehkan”. Seperti pemuatan karyaku ini, yang hanya sebatas majalah kampus.
    Masih mendingan kalau kampus yang bergengsi, nah kalau yang masih berkembang, bagaimana? Fakta berbisik dalam hati, mahasiswa pada kenyataannya takut pada menulis, terbuktinya dengan banyaknya penundaan skripsi sampai memakan korban, akibatnya si korban menderita penyakit akut—menjadi mahasiswa abadi. Kalau sudah begini, dari manakah akar masalah berasal? Bagaimana solusinya?
    So, bagiku ini adalah “luar biasa” terlepas apakah ini hal yang “biasa” bagi orang lain. Karya artikelku yang berjudul “Teman Sebaya dalam Kehidupan Anak Remaja”, tercantum di halaman 41, Majalah DeDIKASI Edisi VII tahun 2013. Majalah ini diterbitkan oleh Lembaga Pers Mahasiswa DeDIKASI STAIN Kediri. Alhamdulillah, sekali lagi aku bersyukur sekali.
    Jika begini, aku menjadi teringat dengan jargon yang terpampang di salah satu dinding aula KMI Gontor I putra, yang berbunyi, “Malas tertindas, lambat tertinggal, dan berhenti mati”. Bagiku, inilah saat-saat dimana semangat menulis harus terus ditumbuhkan, agar selalu bergerak untuk berlatih dan mengasah kemampuan diri. Eits! ini slogan bisa dianalogikan seperti jalanan di tol, yang penuh dengan mobil yang berlaju kencang, berhenti langsung tertabrak dari arah belakang. Ya, pasti hancur lebur lah. Bila kita tak ingin mati, jangan lah berhenti: melangkah, berusaha, berharap dan memberikan yang terbaik.

    Untuk selanjutnya, saat di LPM aku harus selalu bertanya, “ke LPM, apa yang kau cari?”. Mungkin ini terkesan egois; mencari sesuatu, beberapa setelah mendapatkan impiannya, LPM pun ditinggal. Ah, bukan begitulah maksudku!! Memang benar, orang bijaksana selalu berprinsip, “yang terpenting bukan apa yang kita dapatkan, namun apa yang dapat kita berikan”. Hal ini juga yang mengilhami rekan kami—Anam Inde, dalam Opininya yang berjudul “anakku/kita anak sekolahan”. Beliau mengatakan, “Pendidikan bukanlah soal apa yang kita dapatkan, tapi apa yang kita hasilkan, “(Majalah DeDIKASI, 2013:25). Pertanyaannya, “bagaimana mungkin kau dapat memberi, jika kau tak tahu dan tak memiliki apa yang kau kan berikan?”.

    645 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *