k

Jati diri Seorang Blogger dan Komentator

    “Yang mengendalikan semua di dunia ini adalah kekuatan Yang Satu dan
    Yang Esa. Tidak yang lain, dan tidak pula dirimu. Apa yang kamu yakin bisa,
    adalah titisan dari kekuatan tersebut. Karena mustahil dirimu sendiri mampu
    membentuk sebuah keyakinan tanpa-Nya”
    Jumlah blogger semakin
    bertambah, seiring hausnya masyarakat akan informasi dan ilmu pengetahuan.
    Kemajuan teknologi berperan aktif dalam hal ini, sehingga tersebutlah dunia
    kemajuan ini sebagai kemajuan nyata. Anehnya, kemajuan yang mendidik sikap
    instans pada diri seseorang, juga ikut-ikutan mempengaruhi para pengada sistem
    informasi di dunia online. Pembaca ingin mudah mendapatkan informasi, penulis
    pun (sebagai seorang blogger) tak mau kalah, menulisnya juga ingin yang mudah.
    Baginya, predikat penulis amatiran dirasa lebih nyaman dibanding sandingkan
    dengan predikat seorang penulis profesional. Khususnya untuk blogger
    akhir-akhir ini.
    Komunitas blogger pun
    bergentayangan di mana-mana. Di setiap kota diusahakan dibentuk suatu komunitas
    blogger tersendiri. Intinya, di mana ada kesamaan, di situlah harus berdiri
    komunitas blogger. Namun jangan mudah mempercayai tentang hal ini, hanya
    komuntias yang konsistenlah dalam bergerak yang akan bertahan. Di sinilah, jati
    diri seorang blogger ditemukan, dan dipertaruhkan. Di sini, akan banyak kawan
    yang memberi umpan balik (komentar) pada blog. Di sini pulalah, komentator
    dianggap sebagai pendorong akan lahirnya tulisan. Sayangnya, hal ini menjadikan
    butuhnya blogger akan komentator pada blognya untuk dapat menghasilkan tulisan
    seperti butuhkan orang makan untuk dapat melakukan metabolisme. Mungkin masih
    mengelak, “Engga’ kog mas, aku tetap
    menulis walau pun tak ada yang mengomentari tulisanku!”.
    Bisa saja ia
    bertahan, akan tetapi sejauh manakah ia akan mampu bertahan? Itu yang perlu
    direnungkan.
    Maka, untuk sementara bisa
    diasumsikan bahwa blog dengan jumlah komentar yang lumayan menandakan
    kepopulerannya. Itu juga berarti disebut blog yang menarik. Artis adalah
    manusia yang populer, namun apakah kemampuannya juga akan sebanding dengan
    kepopulerannya. Caleg mengandalkan kepopulerannya, apakah kemampuannya dalam
    mengemban amanah membutuhkan hal tersebut. Tidak kan? Yang dibutuhkan adalah
    keprofesionalannya. Berbicara blog pun demikian, bisakan sebuah blog yang ramai
    dikunjungi disebut dengan blog yang bagus, blog terpilih dan blog istimewa—bukan
    untuk blog CEO. Jadi, sekali lagi kepopuleran blog tidak menandakan 100% dari
    kualitas tulisannya.
    Menarik bagi orang lain belum
    tentu bagi sebagian yang lain, karenanya daripada malas ngeblog gara-gara tidak ada yang mengomentari, lebih baik berlatih
    menulis untuk meningkatkan kualitas kepenulisan. Masalah kepopuleran akan
    datang seiring waktu. Dan tidaklah langsung datang beriringan namun datangnya
    terakhiran dan berjemaah. Seperti penulis buku awalnya tidak memiliki fans, sekali
    tulisannya dikenal oleh dunia, sehingga jadilah ia terkenal dan memiliki fans
    di mana-mana.
    Dengan ini semua, bukan berarti
    penulis meremehkan pengaruh dari “komentar.” Lebih dari itu, komentar jangan
    dipandang sebagai motivasi utama. Bersikaplah sederhana, yaitu menerima bila
    ada yang berkomentar dan itu berarti sebagai penghargaan. Bersedih karena tidak
    ada komentar pada blog, bukan berarti tulisannya tidak bagus. Bisa saja
    kepopulerannya ditangguhkan di kemudian waktu dengan manfaat yang lebih besar. So,
    menulis memerlukan tuntutan diri, bukan karena dipuji oleh komentator, atau pun
    dicela oleh mereka yang tak senang dengan kemajuan diri kita. Teruslah berkarya
    dan buktikan kepada dunia bahwa semua mungkin untuk dilakukan bila
    sungguh-sungguh.

    Menulis itu diibaratkan memadukan
    antara pikiran dan perasaan. Tetapi bukan karena keadaan dari keduanya sebagai
    dorongan utama. Jika tidak, berarti menulis itu dibawah pengaruh pikiran,
    padahal untuk bisa menulis seseorang hanya memerlukan “bergerak memulai menulis,”
    bukan menunggu. Namanya juga pikiran, ia akan selalu berkembang dan memiliki
    masalahnya sendiri.

    Harus ada komitmen bahwa menulis itu
    berdiri di atas diri sendiri. Yaitu, berangkat dari hati terdalam dengan keyakinan
    bahwa suatu ketika tulisan yang telah dihasilkan pasti akan dibaca oleh banyak
    orang. Keyakinan seperti ini perlu ditanamkan dalam-dalam di benak
    masing-masing seorang blogger. Yang ingin berkembang karena dirinya sendiri dan
    bukan karena orang lain. Yakinlah, komentator tak banyak menentukan bagaimana
    kualitas tulisan, selebihnya diri sendiri yang menentukan bagaimana tulisan berkualitas
    atau tidak. ikutilah langkah menulis di samping ini ya!

    146 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *