Jangan Salahkan Anak, Berilah Ia Tanggungjawab

    Beberapa anak terlahir dengan kesempurnaan dan mengetahui bahwa dia memang memiliki kemampuan. Sedangkan yang lain, sebenarnya memiliki kemampuan dan kelebihan, namun sayangnya ia tak menyadari akan hal itu. Menjadi semakin terasingkan dengan ketidakmampuan beradaptasi terhadap lingkungan sekitar.
    Kehidupan mereka begitu tampak menyedihkan, menghindar dari kehidupan orang. Merasa asing di tengah keramaian, dan lebih merasa nyaman dengan kesendiriannya. Biasanya, perasaannya selalu menyatakan bahwa ia diacuhkan, dipojokkan oleh lingkungannya.
    Sebatas perasaan itu lah, maka sebatas itu pulalah penderitaan yang dialami oleh orang sejenis ini. Kenyataannya, lingkungan di mana ia bertempat tidak sedemikian jahat. Tidak sedemikian negatif bila dibanding dengan perasaannya yang over. Nah, seringkali mereka tidak menyadari dengan baik, bahwa mereka sendirilah yang menghalangi dirinya dari orang lain sehingga mudah menolak dirinya dan akhirnya mudah menyalahi orang lain.
    Penolakan menjadi aktif dalam kehidupan orang dalam banyak cara yang berbeda (Bailes, 2004:179). Penolakan tersebut, secara umum lebih diakibatkan oleh kesalahpahaman yang dialami pada masa anak-anak.
    Di saat anak disalahkan berkali-kali, akan menimbulkan kekacauan pikiran dan gocangan pada perasaan anak. Walau pun sebenarnya maksud orang tua untuk mendidik. Nah, bekas goresan yang dirasakan anak akibat penyalahan terhadap sikap dan perilaku anak akan berdampak pada masa dewasanya kelak. Di mana, mereka merasakan tidak dicintai lagi oleh orang tuanya, ditolak, dan diacuhkan dengan semudah itu.
    Alhasil, bisa anda lihat sensivitas pada orang dewasa. Mereka yang sensitiv dengan kehidupan sosialnya, berawal dari moment yang didramatisasi. Tak seharusnya orang tua memarahi dan menyalahkan anak secara berlebihan. Cukupkanlah mendidik diri mereka untuk ‘bertanggung-jawab’, bukannya menyalahkan.
    Walau pun pengalaman masa lalu—masa anak-anak, akan tetapi perasaan itu secara tak sadar tetap berlalu di alam bawah sadar. Yang selalu mendekti sikap dan perilakunya. Semacam perilaku bahwa ia tidak diinginkan oleh lingkungannya, dikempretkan oleh lingkungannya, dan tidak dihargai oleh lingkungannya.

    Bagi orang tua, tidak ada harapan kecuali harus bisa menjaga hati agar tetap sabar dalam menghadapi perilaku anak kecil yang sepenuhnya belum dipahami maksudnya oleh orang dewasa. 

    811 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    2 tanggapan untuk “Jangan Salahkan Anak, Berilah Ia Tanggungjawab”

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *