Jangan Menoleh ke Belakang

    Banyak orang mengira, adanya sekarang adalah buah dari
    masa lalunya. Kenyang ialah hasil dari makan, lelah hasil dari keletihan. Sebab-musabab
    begitu melekat kuat di dalam setiap jiwa. Padahal, menurut Carl Gustav Jung
    manusia selalu dikendalikan oleh apa yang ada di dalam jiwanya. Sebab bukan
    satu-satunya mengantar menuju akibat. Di lain hal, sebenarnya ada yang setara
    dengannya, tujuan. Iya, benar sekali tujuan tersebut berkedudukan penting
    sepenting sebab.

    Skripsi bagi mahasiswa akhir tidak lain hanyalah
    tantangan selangkah lagi. Belajar dari Tanjakan Cinta pendakian Gunung Semeru,
    skripsi bisa dihadapi. Ialah kelaziman dan pasti berlalu, tinggal selangkah
    lagi yang akan mengantarkan perjuangan selama 3,5 tahun. Selangkah ini adalah
    langkah terakhir perlu ditutup dengan husnul khotimah, agar bermanfaat dan
    berguna.
    Tanjakan Cinta berhubungan dengan pendapat Jung, tujuan
    menguatkan langkah menuju ke depan. Bahkan, jangan pernah “sekalipun” menoleh
    ke belakang, maka tiadalah arti semuanya. Ini merupakan pengajaran komitmen
    terhadap suatu tujuan, yang tak semata adanya. Tujuan dapat menggerakkan bila
    kita berikan daya, yang berupa komitmen dengan istiqomah. Semakin istiqomah,
    semakin kuat tujuan itu mendorong langkah ke depan.

    Saya pribadi lebih bersemangat tak kala tujuan udah di
    depan mata, saya yakin Anda pun juga begitu. Berbeda, saat perjalanan terasa
    masih jauh, terlalu banyak komplek diri yang menggoda. Di sini, godaan itu
    sudah pasti sebagai penanda bahwa apa yang dituju sangatlah bernilai. Semakin banyak
    godaan, maka semakin meyakinkan kita tak pernah salah berjalan menuju satu
    tujuan.
    Selain itu, tanjakan cinta mengajarkan untuk “bersusah
    payah”. Masihkah diri kita melebur dalam kesenangan? Kesenangan dalam pandangan
    saya hanyalah benalu, merusak usaha apa yang telah dilakukan. Hindari kesenangan,
    karena ia biasanya bersumber dari hawa nafsu. Dan nafsu itu pasti kan selalu
    merusak walau pun di awalnya terlihat begitu indah. Kahlil Gibran pun bersuara,
    “hakekat kesenangan ialah keperihan”.
    Terakhir, kita perlu menambahkan ke dalam semuanya satu
    kata “percaya”. Akan datang di balik keteguhan hati pada kepercayaan
    keajaiban-keajaiban.  Percayalah, semuanya
    kan bisa ditaklukkan. Percayalah, segalanya kan indah pada waktunya. 

    1,570 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    12 tanggapan untuk “Jangan Menoleh ke Belakang”

    1. kebawa sampe lamunan mas kata-katamu yang 'Masihkah diri kita melebur dalam kesenangan ?', jadi inget wejangan bapak tentang semar yang tawa dan tangisnya telah melebur, susah senangnya telah melebur.

    2. Kita memang harus maju terus ke depan. Namun ada kalanya kadang kita harus mundur ke belakang dahulu untuk maju ke depan. Tak selamanya jalan itu maju, tak selamanya jalan itu lurus, tak selamanya jalan itu tak buntu. Maka itu, karena berbagai perihal, kita mundur sedikit, lantas maju lewat jalan lain dengan lebih cepat. #Apasih haha

    3. kalau kita berjalan menuju masa depan, dan jalannya sering noleh-noleh ke belakang, memang bisa saja kesandung. tapi.. kadang menoleh ke belakang juga perlu untuk antisipasi atau biasa disebut dengan pelajaran ketika dalam perjalanan kita menemui kendala yang sama dengan yang pernah dialami di belakang. dan.. "kesenangan" juga terkadang "perlu". sekedar untuk menikmati hidup. yang penting kita yakin, semua ada porsi masa-nya sendiri-sendiri *ambadawa* :))

    4. ada saatnya kita menoleh kebelakang sejenak mas tapi bukan untuk menyesali tapi untuk mensyukuri.Untuk memperoleh masa depan yang lebih baik maka kita harus optimis dan selalu berusaha tak lupa berdoa agar semuanya diberikan kemudahan 🙂

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *