Istiqomah di Mataku

    Sebuah atsar menyebutkan—walau pun asal usulnya
    masih belum penulis temukan, “al
    istiqaamatu khairun min alfin karaamatin.” 
    Dengan
    maksud istiqomah itu lebih baik daripada seribu karomah. Meskipun sulit untuk
    diprediksi akar dan usul dari ini semua, terpenting bagaimana gambaran tentang
    ini menunjukkan seorang dengan sikap yang kontinu (dalam artian ber-istiqaamah)
    lebih baik dibanding dengan mereka yang memiiki kelebihan yang datangnya
    langsung dari Allah, (karomah).  
    Barangkali istiqomah akan
    mendorong kita ke arah yang lebih baik—sesuai pernyataan bila sesuatunya
    bergerak ke depan, berarti memberikan perubahan yang lebih baik. Maka kemudian
    istiqomaah dipandang lebih “keramat” dibanding kekeramatan dari segala bentuk karomah. William V.  dengan konsep REBT (Ratio
    Emotional Behavior Therapy
    ) menuliskan kesengsaraan dan ketidakbahagiaan
    berawal dari pemikiran irrasional yang kemudian mempengaruhi emosi. Apa yang
    emosi rasakan pun juga ikut-ikutan mempengaruhi pemikiran seseorang. Ada
    kesalingdukungan dan saling mempengaruhi.
    Dengan itu, istiqomah menjadi
    fenomena yang mengesankan. Di mana jarang seseorang mencapai derajat ini, hati
    yang berubah, emosi yang sulit dipertahankan dalam kestabilan. Makhluk yang
    bernama istiqomah ini hanya akan hidup bila dirawat dengan baik, diberi makanan
    dan dikembang biakkan dalam diri seseorang. Maka seseorang yang mampu
    beristiqomah di satu hal kan mampu beristiqomah di lain hal. Sebagai bentuk
    latihan (attadriib), shalat lima waktu menjadi medium pencapaian derajat al istiqaamah (mustaqim).
    Sebagaimana dikutip Goenawan
    Mohamad dari Gunter Grass yang menuliskan (Majalah TEMPO, edisi 3-9 Maret
    2014): “kemandekan dalam
    kemajuan”
     yang dimuat dalam Aus dem Tagebuch einer schnecke. Siput dalam hal ini dipilih
    sebagai analogi pergerakan, bagi orang lain dipandang sebagai pejalan yang
    lambat, dan tidak bagi dirinya. Meskipun demikian, langkahnya merupakan langkah
    perubahan—pelan namun pasti.  
      
    Bandura
    menyatakan,”kesanggupan diri yang tak dirasakan” mengakibatkan ketidakstabilan
    diri. Antara harapan yang melampaui, dan kemampuan yang ada, ketidakseimbangan
    antara keduanya berdampak kepada frustasi. Maka sebenarnya kemajuan bukanlah
    mereka yang mendesak transformasi diri besar-besaran, lebih dari itu mereka
    yang maju berarti yang mampu memahami dan mengartikan arti sebuah “kemandekan”
    dalam sebuah kemajuan. Kesimpulannya, istiqomah yang tak disadari tak akan
    memberi dampak apa pun. 

    1,026 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    6 tanggapan untuk “Istiqomah di Mataku”

    1. AGhaaa referensi bacaanmu banyak banget sich 🙂
      iyaa aku juga pengin istiqomah, tapi godaannya itu lhooooo, banyak bgt
      smg besok2 bisa lbh istiqomah lagi ya kita semua aamin

    2. Aku tak akan pernah percaya, sebelum sesuatunya diusahakan dan diuji-cobakan. Cobalah, dan perhatikanlah maka niscaya kamu menjadi orang yang mengetahui. Pengetahuan is power… so, bisa dilakukan bila kau segera mencobanya..

    3. Karena itulah, kita tak akan pernah memahami arti sebuah kesuksesan bila tak ada kegagalan. Kita tak akan pernah mengenal arti sebuah “perjuangan” tanpa adanya “godaan”. Godaan adalah hal yang lumrah, yang berhasil melewatinya, akan selamat di akhirnya.

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *