Istiqomah

    Istiqomah itu berarti hanif, sesuatu yang lurus. Lurus
    berarti senantiasa berkomitmen kepada sesuatu.
    Malam itu, di sebuah bus antar provinsi dalam perjalananku
    menuju kampong halaman. Seorang supir berkata kepada sahabatnya, “Saya bekerja demi
    anak.” Kata itu yang kupikirkan sepanjang perjalanan mendekati tujuanku.
    Pekerjaan supir yang ia jalani tidak lain untuk seorang anak. Iya, anak &
    keluarga menjadi penyemangat bagi seorang pemimpin rumah tangga untuk mencari
    nafkah. Mengais dan mengumpul sedikit demi sedikit untuk keluarganya. Kita
    tidak tahu betul, apa yang menggerakkannya sehingga susah capai jerih payah ia
    hadapi dengan senyuman. Tanpa beban, atau terbeban namun tetap bertahan.
    Apakah karena cinta kepada seorang istri? Ataukah kasih
    kepada seorang anak? Atau karena tanggungjawab sebagai kepala keluarga? Apakah
    dia merasakan keasyikan dalam bekerja, atau bertahan dalam kepedihan pekerjaan
    yang berat? Satu hal yang lebih menarik itu semua di mata penulis, “Bagaimana
    mereka para kepala keluarga mampu beristiqomah mencari harta?”
    Jawaban pertama datang dari seorang anak berumur 13 tahunan,
    yang mampu berbicara dengan ruh para sesepuh kyai di Kediri. Salah satu
    pembicaraannya adalah dengan almarhum KH. Abdoel Madjid Ma’roef ra. Inti jawaban
    yang penulis dapatkan dari seorang anak tersebut berdasarkan pada kyai sepuh
    adalah “timbulkan tanggungjawab dan khawatir.” Aku menjadi penasaran, benarkah
    istiqomah bisa dilakukan? Bila tidak bisa, bukankah KH. Djazuli Ustman (alm)
    terkenal kekeramatannya berkat keistiqomahannya.
    Semboyan yang penulis dapatkan selalu dan terngiang-ngiang
    bahwa “alistiqoomatu khairun min alfi
    karoomah.”
    Istiqomah itu lebih baik dari pada seribu karomah. Rasa-rasanya
    istiqomah sulit, maqomnya di atas orang yang memiliki karomah. Namun, sekali
    lagi bukanlah hal yang tak mungkin bila diusahakan. Apa yang sebenarnya tidak
    mungkin, bila yang menyebabkan karena ilusi kita terbentuk oleh pengalaman di
    masa lalu. Pengalaman yang mengatakan terlalu banyak orang yang tak bisa.
    Kenyataannya, masa lalu bukanlah masa sekarang. Ia hanya ada
    dan hidup di masa lalu, dan tidak akan pernah maju menjadi masa sekarang. Maka,
    sungguh sangat naïf rasanya bila menghadirkan masa lalu di masa sekarang. Jadi,
    bila ingin dapat isqomah kita lakukan sekarang juga. Almarhum pendiri pondok
    pesantren ploso Kediri KH. Djazuli Ustman menyebutkan, “bila seseorang dapat
    beristiqomah di satu hal, maka ia akan mampu beristiqomah di banyak hal
    lainnya”.
    Berikutnya, jawaban pelengkap untuk merealisasikan semua di
    atas yang dibutuhkan adalah belief. Yaitu
    sebuah kepercayaan yang tidak terikat di masa lalu, atau kekhawatiran akan apa
    yang terjadi. Sepenuhnya percaya di waktu sekarang bahwa semuanya “mungkin”
    terjadi. Sejauh mana kepercayaan kita, sejauh itu kita kan menghampirinya.
    Jalan menuju kepada istqomah selain dibutuhkan kepercayaan,
    ada satu hal penting dalam perjuangan. Perjuangan dalam mencapainya, yaitu
    beruapa “pengorbanan”. Karena, tak ada kenikmatan yang didapatkan dengann
    kenikmatan pula. Selalu ada yang dibayarkan yang berupa perjuangan,
    kesusahpayahan, kepedihan dan seterusnya.
    Untuk mendapatkan vasilitas VIP, kita pun perlu berkorban
    lebih dalam, mereguh kantong lebih banyak. Ini hal transportasi, apalagi soal
    tujuan yang menjadi dambaan masing-masing kita yang percaya bahwa istiqomah
    adalah kunci dari semua kunci untuk mendapatkan dan mencapai tujuan.
    Dan terakhir yang tak boleh luput sebagai bekal perjalan
    menuju istiqomah “yes we can!” adalah memasukkan prinsip dan nilai-nilai
    “puasa”. Yaitu, bagaimana menahan diri dari buaian hawa nafsu, yang nantinya
    menjadi penggoda dari setiap langkah menuju ke depan. Ia selalu hadir, untuk
    memalingkan dan mengalihkan fokus kita. Ini penting dan perlu diwaspadai ya!

    811 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    Satu tanggapan untuk “Istiqomah”

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *