Individu di Titik Tengah

    “Dia
    yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak
    melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka
    lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?
    Kemudian pandanglah sekali lagi, niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu
    dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itu pun dalam keadaan
    payah.” (Q.S. Al Mulk : 3-4)

    Dunia ini
    merupakan tempat pertama, bukan terakhir. Di sini individu berusaha untuk
    hidup, dan menghidupi dirinya dan keluarganya. Akal berfikir, hidup saja—di
    dunia—bukanlah perkara mudah, apalagi mengurus kehidupan akhirat. “Rejeki haram
    saja susah didapat, apalagi yang haram”. Naudzubilla min dzaalik.

    Ada
    bermacam-macam sikap individu di dalam menghadapi kesehariannya. Karena
    tuntutan keuangan, mereka bekerja keras sepanjang waktu. Tak peduli apa pun,
    yang terpenting bisa menghasilkan banyak “uang”. Ada pula invidu lain, ambisius
    pada kekuasaan menjadi terpenting, segala cara ditempuh. Sayangnya, setelah
    mereka mendapatkan apa yang “diinginkan”: lalu apa selanjutnya?

    Di sisi lain,
    ada yang begitu pasrah dengan takdir kehidupan. Ia hanya terus menerus meratapi
    nasib, lebih mudah bersedih dan kecanduan dengan kesedihan. “apakah dengan
    begitu kehidupannya berubah?” Hidup mengikuti waktu, dan waktulah sebagai
    petanda adanya kehidupan. Mungkin saja mereka tidak meratapi “lebih lama” dan
    “lebih dalam” sudah barang tentu ada “banyak hal” yang bisa dikerjakan. Dan ini
    tentu lebih baik.

    Ada konsep
    penting dalam hidup ini, “kemenanggungan”. Menjadi individu itu berarti menjadi
    pribadi yang tanggung. Karena bila berlebih-lebihan dalam sesuatu pada akhirnya
    membawa kepada kekurangnya. Ibarat cinta, bila terlalu cinta maka timbullah
    kebencian di akhirnya. Tak hanya soal cinta yang tercipta berpasangan dengan
    benci. Seluruh isi dunia ini tercipta berpasang-pasangan; mulai dari yang
    abstrak sampai yang konkrit.
    “Sebaik-baiknya
    suatu hal ialah yang ditengah-tengahnya”. Kehidupan juga demikian, ia
    membutuhkan proses yang djegjeg untuk melangsungkan esensi dirinya.
    Pemaksaan pada kehidupan dan atau pengacuhan padanya juga kurang baik.
    Bagaimana pun kita butuh hidup dan kehidupan?
    Seringkali
    saya mendapati beberapa individu tidak ada yang konsisten. Artinya ia sebagai
    individu yang berubah. Senin pagi masih semangat menggebu, selasa siang tanpak
    begitu muram dan kalut wajahnya. Orang yang terlalu bersemangat, pada akhirnya
    kemalasannya datang juga. Maka, sebenarnya mudah saja mengubah diri yang
    pemalas menjadi bersemangat. “Alami” kemalasan sampai puncaknya, sehingga akan
    mencuat menuju semangat yang membabi buta.
    Kita lupa
    berfikir, bermalas bukanlah cara untuk bersemangat yang “alami”. Karena
    semangat yang terbentuk masih berupa “persona”. Ia bukan alam kenyamanan diri,
    sehingga kemudian pada akhirnya semangat yang seperti itu kembali hilang dan
    menjadi malam lagi. Solusinya ialah “konsep kemenanggungan”. Dalam apa pun; tak
    perlu ambisius, dan tak boleh menyepelekan. Jadilah individu yang tanggung.
     

    Chuang Tsu
    mengatakan, “Ketika berada pada titik pusat lingkaran seseorang akan melihat
    ketidakterbatasan segala hal”. Termasuk juga pada ketidakterbatasan dirinya
    sendiri. Titik puncat menyadarkan diri pada batas maksimal dari diri, titik
    terbawah membatasi diri pada ketidakmampuan diri.

    Keseimbangan sejati
    itu adalah kedamaian tertinggi yang mungkin dicapai; puncak, klimaks, yang
    tertinggi, karena ketika dua hal itu seimbang—yang di luar dan di dalam,
    keaktifan dan kepasifan—tiba-tiba kamu melewati keduanya. Ketika keduanya
    seimbang maka kamu tidak lagi mau ini dan itu. tiba-tiba kamu adalah kekuatan
    ketiga. (Rajnessh, 1978)

    Kehidupan
    sejati adalah proses, tidak diciptakan tanpa ada maksud dan tujuan. Ia
    senantias bergerak kontinu, tidak stagnan pada dirinya. Dalam hal ini, individu
    mendambakan perubahan: menjadi lebih baik seiring bergulirnya waktu. Di saat
    bersamaan, ia juga memiliki kebutuhan untuk memenuhi keinginan, rasa aman dan
    ke-ajeg-an. Bagaimana mungkin bisa berubah, bila keinginan yang lain
    tidak ditanggalkan?
    Setiap individu
    dikaruniai akal dan hati. Pada keduanya terdapat fungsi berfikir dan
    mengintuisi, akal untuk berfikir dan hati berintuisi. Pada akal terdapat dua
    kemungkinan: menciptakan beban bagi individu atau justru mentransenden dirinya
    menjadi pribadi yang baik.
    Pertama,
    mengapa menjadi beban bagi diri? Karena dalam hal ini pikiran masih didominasi
    oleh ikatan kebendaan. Individu masih menginginkan hal bendawi, ingin kaya
    namun kenyataannya tak kunjung menjadi kaya. Ketidaksesuaian idealisme dirinya
    dan realitas membuatnya “frustasi”, dan juga menjadi beban bagi diri. Sebenarnya
    ia menyadari bendawi tak memberikan “porsi yang besar” bagi dirinya. Akan tetapi
    yang terjadi, ia “tidak peduli”—bukan tidak mengetahui—mengenai hakekat
    bendawi.
    Kedua,
    pikiran sebagai medium transenden diri. Dalam hal ini individu keluar dari
    dirinya sendiri. Ia sadar, semakin fokus kepada yang di dalam dirinya, semakin
    hidup ini memberikan kekuatan. Kita perlu keluar dari diri sendiri tidak
    mengikat keinginan pada benda. Keluar merupakan proses setelah kita sadar
    seutuhnya akan diri sendiri.
    Untuk mewujudkan
    pikiran tersebut kita membutuhkan aksi nyata. Menfokuskan pada apa yang sedang
    dialami “saat ini” dan “di sini”. Dengan kemurnian momentum “pengalaman
    langsung” mendorong gerak intuisi, akal rasional dilepaskan sedikit demi
    sedikit. Sehingga di dalamnya ada cukup gerak kontinu bagi suatu hal.
    Titik tengah
    atau kemenanggungan menjadi sarana penyelesaian masalah kehidupan. Bila individu
    telah ajeg (kontinu) dalam segala urusan, sesulit apapun urusannya pasti
    terselesaikan. Ia akan mampu bergerak lebih lama, dan lebih betah. Walau pun
    tanpak tak begitu menjanjikan, tapi seiring waktu akan banyak yang didapatkan.
    Kediri. 08.24
    am.

    1,160 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    2 tanggapan untuk “Individu di Titik Tengah”

    1. Hidup sewajarnya. Tidak berlebihan dan tidak kekurangan. 🙂 Boleh bermimpi setinggi-tingginya, namun tetap sabar dan ikhlas saat jatuh ke dasar. 🙂

    2. Saya ambisius, tapi sejatinya saya lakukan itu untuk memusuhi dan melenyapkan ke-tidak-rajin-an saya. Saya bukan malas, hanya tidak rajin, malas itu keputus asaan, sedangkan tidak rajin itu alasan.

      -__- uwopoh wae komenku

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *