Ikuti apa yang Lisanmu Katakan

    Perkataan adalah apa yang dikeluarkan oleh lisan. Di saat seseorang meminta kita pendapat, kita lebih mudah untuk memberikan arahan kepada orang lain. Orang-lain tidak hanya diam begitu saja, jika penyampaian perkataan itu benar, maka akan membuatnya mengikuti apa yang dikatakan. karena ia sangat membutuhkan apa yang keluar dari diri kita.
    Berbeda dengan orang yang sedang bermasalah, tiba-tiba entah tanpa sebab apa kita langsung saja main srebot memberikan fatwa tanpa diminta, bisa dipastikan apa yang kita berikan kepada orang lain sulit untuk dilakukan. Dan, sadarkah kita! Apa yang kita berikan kepada orang lain berupa perkataan yang baik merupakan hasil dari kesimpulan dan pengalaman terbaik dari diri kita sendiri. Kita beramsumsi atas kejadian yang menimpa teman didasarkan pada apa yang sudah ada di dalam diri kita. Alhasil, karena kesimpulan itu merupakan hal ‘yang sangat berharga’, dan berasal dari pengalaman yang langka. Lalu mengapa, begitu mudah kita mengucapkan lain, namun kita sendiri sulit untuk melakukan apa yang dikatakan kepada orang lain.
    Ada sebuah ungkapan “begitu mudahnya kita mengatakan kepada orang lain, namun mengatakan kepada diri sendiri sangat lebih sulit jika harus dikatakan kepada orang lain”. Lisan kita seakan-akan disetting ringan terhadap apa yang diluar diri kita, dan sulit terhadap apa yang ada di dalam diri kita. Sebenarnya, kita diciptakan lengkap dengan berbagai alat perangkap yang dapat digunakan untuk menghadapi semua tantangan dan kesulitan hidup. Hanya saja, kekurangsadaran kita membawa kepada titik dimana kita merasa sudah tidak dapat bangkit lagi dari keterpurukan. Salah satu perangkat itu adalah lisan kita, sebagaimana disebutkan sebelumnya.
    Daripada kita menyia-nyiakan begitu saja, mari manfaatkan hal tersebut sebaik mungkin. Masalah yang kita hadapi tidak lebih besar dibanding dengan solusi yang sudah ada didalam diri kita. Mengapa? Karena Tuhan tidak pernah menguji hamba-Nya diluar batas kemampuannya. Artinya, ujian yang Dia berikan disesuaikan dengan kemampuan dan pengetahuan yang ada di dalam diri kita. Kita sering merasa membutuhkan orang lain, dan melupakan diri kita yang ‘sesungguhnya’. Lalu, apa dan bagaimanakah selanjutnya? Perkataan merupakan wujud dari pengetahuan.
    Mulai sekarang, putuskanlah untuk mengikuti apa yang pernah kita perintahkan kepada orang lain, apa yang kita nasehatkan kepada orang lain. Tanpa menutup diri untuk bersikap terbuka dengan semua pendapat orang lain. Sama seperti kita, yang orang lain katakan adalah yang terbaik dari dirinya, ia adalah cerminan dari pengetahuan dan pengetahuan yang dimiliki.

    605 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *