Daya dan Keikhlasan

    “Adakalanya
    amal sedikit menjadi banyak pahalanya karena ketulusan niatnya, dan adakalanya
    amal besar menjadi kecil pahalanya karena kurang tulus niatnya,”
    Ibnu Mubarak (Ulama)
    Sejak dilahirkan, seseorang selalu disibukkan dengan apa
    yang sedang dihadapinya. Lebih memilih apa yang tampak logis dan apa yang
    tampak di matanya dibanding dengan yang masih samar-samar. Lihatlah bagaimana
    bayi begitu antusias dengan permainan yang sedang dimainkannya, menolak mainan
    yang masih dalam janji oleh kedua orang tuanya. Pilihan antara yang nyata dan
    samar, dijatuhkan kepada apa yang nyata.
    Begitu pun dalam hidup ini, seseorang terlalu dini menilai
    bahwa semua apa yang didapatkan sebagai akibat yang dilakukan. Tanpa melihat
    faktor lain yang juga ikut berperan terwujudnya akibat tersebut. Namun umumnya,
    orang beranggapa saat rejeki datang ada perasaan “ah, masak aku dapat rejeki
    banyak segini?” sebenarnya perasaan tersebut menjadi petanda, bahwa hasil dari
    usaha tak bisa dipastikan, tak bisa dilogiskan dengan hukum kausalitas.
    Lalu, siapakah yang berperan di balik semua itu, selain ada
    segenap upaya yang maksimal? Tentu saja, kekuatan dari kekuatan tunggal yang
    tiada bandingnya. Di luar batas yang tak bisa dipikirkan, tak bisa dirasakan
    namun terkadang bisa dipahami tanda-tandanya. Kekuatan itu ada di dalam
    masing-masing jiwa, melalui suatu perantara yang langsungberasal dari-Nya.
    Yaitu, Ikhlas. Alladzina jaahadu fiina
    lanahdiyannahum subulana.
    Dikatakan bersungguh-sungguh bila menanggalkan
    keinginan diri dan menghadirkan keikhlasan di dalamnya.
    Pikiran seseorang seolah terprogram dengan baik, dengan
    kemampuan panca indera. Anggapannya, yang dapat diindera lebih mudah dianggap benar
    dibanding dengan apa yang tak bisa diindera. Nyatanya, apa yang diindera
    terkadang tak mampu menjelaskan kebenaran keberadaannya. Layaknya fatamorgana.
    Beginilah penjelas akan keterbatas panca indera. Maka, karena keterbatasan
    itulah bila menggantungkan segala sesuatunya kepada apa yang dapat diindera,
    itu artinya menggantungkan kepada ketidaksempurnaan—sesuatu yang terbatas. Jadi,
    untuk apa mengharapkan kepada sesuatu yang tidak sempurna. Mendasarkan
    keinginan kepada apa yang dilihat, adalah muslihat.
    Bila keinginan didasarkan oleh apa yang dilihat, itu artinya
    melihat ketidaksempurnaan dalam keinginan. Karena kekuatan untuk mencapai hal
    tersebut didasarkan pada keinginan yang sudah terlanjur ternodai alat indera
    yang tak sempurna. Misalnya keingian terhadap harta benda, berarti masih
    tidaksempurna, dengan asumsi harta beda belum tentu memberikan dampak baik.
    Siapa tahu justru menjadi bumerang bagi diri sendiri.keinginan yang seperti ini
    sulit untuk diikhlaskan, disucikan kecuali menanggalkan diri sendiri, tak
    berharap kecuali berharap kemana kesempurnaan. Yaitu, Ikhlas yang berasal dari
    Dzat yang maha sempurna.  Bagaimana,
    apakah keinginan Anda masih didasarkan oleh panca-indera?
    “Bila
    menginginkan terwujudnya keinginan, maka jangan inginkan apa yang Anda peroleh
    dari pikiran, perasaan, penglihatan, pendengaran, perabaan, pengecapan. Namun,
    inginkan kepada kesempurnaan ikhlas di dalam hati, sebabnya kekuatan kan
    berlipat.”

    775 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *