Ikhlas dan Prasangka


    “Sesungguhnya
    Allah sesuai dengan prasangka hamba-Nya kepada-Nya.”
    Para ilmuan telah bersepakat, bahwa pikiran dan perasaan
    mempengaruhi sikap. Sikap itulah yang menjadi cikal bakal dari perilaku
    seseorang. Di saat seseorang beranggapan orang ini berbahaya, maka sikapnya
    akan terpengaruh. Ia akan menghindar dari orang tersebut. Bahkan yang lebih
    ekstreem, saat seseorang termakan oleh fitnahan bahwa orang ini begini, maka ia
    cenderung mengikuti apa yang ia pikir mengenai orang tersebut akibat hasutan.
    Sekarang seseorang dapat melihat seolah tanpa pikiran,
    seolah tanpa perasaan seketika usaha telah dilakukan. Banyak prasangka
    menandakan terlalu banyak pertimbangan, usaha tak segera dilakukan yang
    berakhir pada penundaan yang berkepanjangan. Ungkapan bekerja usaha tanpa
    pikiran dan perasaan salah satu bentuk dari keikhlasan. Maksudnya, tanpa
    pikiran dan perasaan seseorang tak terlalu perlu melibatkannya dalam usaha. Ini
    sebagai permulaan, dan seterusnya bila otot-oto ikhlas telah terlatih di dalam
    diri maka kombinasi ketiganya akan memberikan kekuatan dahsyat.
    Ketika ada kesulitan, saat itulah seseorang menggunakan
    pikiran. Ia berfikir tentangnya dari kacamata dirinya, pengalaman yang telah di
    dapat sebelumnya, pengetahuan dari pengalaman orang lain maupun pengetahuan
    murni yang ia peroleh. Dan ini masih menyisakan keterbatasan, sebagaimana
    seseorang di saat berperasaan maka otomatis prasangka terhadap objek menjadi
    begitu sangat kuat. Karena pikiran bila diikat perasaan menjadikannya sebuah
    keyakinan tak tergoyahkan.
    Dengan keikhlasan, prasangka (sudut pandang) terhadap
    kesulitan menjadi bias. Tidak terlalu didramatisir oleh besarnya perasaan, atau
    pikiran yang mudah berkembang. Keikhlasan menilai objek yang berupa kesulitan
    dengan sangat objektif. Tidak melebihkan dan tidak pula meremehkan.
    Keseimbangan antara keduanya memberikan prasangka yang memungkinkan usaha
    selanjutnya lebih besar.
    Kenyataannya, dengan objek yang sama seseorang akan
    beranggapan berbeda. Misalnya objek masalah, pikiran dan perasaan orang
    beragam. Ada yang memandang hal tersebut sebagai tantangan, sehingga sikap dan
    perilakunya begitu bersemangat menyelesaikan masalah tersebut. Ada yang
    memandang hal tersebut sebagai ancaman, akibatnya ia lari dari masalah mencari
    ketenangan. Padahal, hal tersebut justru menjadikan masalah semakin besar. Dan
    terakhir, memandang masalah sebagai kerugian, ia menjadi begitu tak peduli
    terhadap masalah. Sedangkan ikhlas berarti memandang objek tidak sebagai
    ancaman, tantangan, atau pun kerugian. Akan tetapi sebagaimana apa adanya.
    Semua apa yang dihadapi seseoarang tidaklah diciptakan
    begitu saja. Tentu ada maksud dan tujuan mengapa hal tersebut. Terhadap
    masalah, batasannya tak mungkin di luar batas kemampuan diri seseorang. Siapa
    pun yang dihadapkan dengan suatu masalah, itu artinya Allah mengetahui bahwa
    seseorang tersebut sebenarnya mampu mengatasinya.  Ada maksudnya, Allah menguji hamba-Nya untuk
    memuliakannya, tujuannya agar hamba tersebut menjadi lebih sadar kembali kepada
    Allah. Bila orang tidak ikhlas terhadap masalahnya, apakah ia sadar dengan ini
    semua? Yang ada hanyalah mengeluh dan suudzan
    kepada Allah, hal itu disebabkan prasangka yang tak didasari oleh
    keikhlasan.

    Bukanlah sebuah kebetulan, bahwa ketakjuban telah terjadi
    pada seseorang. Keterbatasan pikiran dan perasaan terkadang tak bisa mencapai hal
    tersebut. Sejatinya bisa dijelaskan dengan keikhlasan, yang mengatur kehidupan
    lebih baik. Karena di dalamnya bukan lagi kekuatan manusia yang bekerja, namun
    kekuatan tunggal dari Sang Penguasa Alam semesta, yaitu Allah Azza Wajalla.
    Secara tidak langsung, ikhlas berarti sadar kepada Allah, artinya selalu ingat
    kepada Allah. Sehingga penglihatannya, adalah penglihatan yang digerakkan
    Allah. Pendengarannya adalah pendengaran yang dikendalikan Allah begitu pun
    dengan panca indera. Dari situ, segala keputusan berarti keputusan Allah. Maka,
    terhadap objek akan dipandang dengan bijaksana. 

    661 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *