Humor itu Tak Sekedar Tertawa

    Pernah tidak kamu melihat orang yang begitu garing? Saatnya tertawa malah tidak tertawa, anehnya kadang ia tertawa saat memang kondisi tidak merangsangnya untuk tertawa. Ya, itu kan Cuma orang melankolis doang. Kalau pragmatis kerjaannya sudah bisa ditebak; cari perhatian.
    Para sesepuh orang arab sana, tertawa itu ternyata mematikan hati. Bisa membuat pikiran dan perasaan tidak berfungsi. Tidak percaya, coba lihatlah beberapa tontonan komedi, sudah terlihat bangetnya; lupa kalau besok ada tugas dari dosen yang seharusnya dikumpulkan, ada janjian sama seseorang dst.
    Walau pun demikian, ternyata humor dan tertawa tidak selalu mendapatkan streotip yang negatif. Misalnya, pada 30 tahun silam ternyata ada sebuah diskusi asyik mengenai humor dan tertawa. Dalam acara tersebut dihadiri oleh para ahli psikologi dan psikiater dunia. Dari diskusi mereka, ternyata humor mengandung beberapa hal penting. Ia termasuk remeh namun memiliki dampak yang sangat luar biasa. Yaitu; menambah suasana kehangatan dalam persahabatan, menghilangkan ketegangan pikiran dan perasaan, meningkatkan kreatifitas utamanya saat masalah yang pemecahannya selalu mengandalkan otak sebelah kiri dan terakhir sebagai kalanisasi (penyaluran) dari beberapa hasrat seksual, perasaan dst.
    Di lain sisi, Allport tokoh Psikologi Kepribadian menjadikan kemampuan humoris sebagai salah-satu dari indikator kedewasaan seseorang, bahkan kesehatan mental seseorang. Menurutnya, penderita neurosis—kecemasan yang luar biasa dengan serba tegang dan cemas, dapat sembuh jika penderita mampu mencari dan menemukan sisi humoris dari pengalaman sehari-hari.
    Begitu pun dengan kedewasaan, selain sikap humoris, ada beberapa tanda lainnya, seperti kemampuan mengenali kelemahan dan kelebihan diri, mampu menemukan sisi yang lucu dari pengalaman sehari-hari. Ternyata, humor itu menjadi problem bagi seseorang yang terlalu serius, untuk mengatasi masalah tersebut, ada beberapa tips berhumor super asyik;
    Sebenarnya, humor itu muncul karena “datang tak diundang dan pulang tak diantar”. Maksudnya, ia berasal dari anggapan yang tak disangka-sangka, semacam kejutan. Ketika pikiran dan perasaan mencapai puncaknya (baca; Klimaks) namun endingnya di luar dugaan, maka itulah awal dari munculnya humor. Ada beberapa tema penting dalam ber-humor; sama saja, mana yang benar? Beda persepsi, salah paham akibat dwi-makna, salah sasaran, antara mimpi dan kenyataan, fifty-fifty, kalah cepat, kembar, dan kelupaan. Dari tema ini, bisa dikembangkan sesuai tujuan dan minat masing-masing.

    605 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    6 tanggapan untuk “Humor itu Tak Sekedar Tertawa”

    1. Wah gue baru nyadar kalo para psikiater juga mikirin humor haha. Dan anehnya diteliti ampek segitunya. Memang kalo negara yg udah terlalu maju banyak hal detail yg dikerjain.

    2. ternyata blog kamu lebih gampang di koment lewat hape ketimbang pc.. oia humor memang penting biar hdup kita gak tegang mulu.. sprti yang kamu sebutin di atas.. menambahkan kehangatan dan kenyamanan bicara … menimbulkan kesenangan dn keakraban jg dll

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *