SAM_3735

Hukum

    Tidak mungkin hukum itu cacat, dan mungkin saja penegakannya
    yang cacat. Baik itu terkait dengan sanksi yang tidak sesuai, atau terdakwah
    mendapatkan keringanan hukuman penjaran karena faktor “x”.  Ya, faktor tersebut yang menjadikannya
    berbeda. Pernah ada kasus anak kandung penjarakan ibunya sendiri hanya
    gara-gara kasus sepele. Ada juga kasus ratu ganja, yang seharusnya dihukum
    sedemikian tahun, terkurangi menjadi setengahnya. Kemanakah keadilan hukum
    berlari?

    Sekilas dipahami akan manusia, kenyataannya merupakan
    pemenuhan akan “kebutuhan” dasar. Salah satunya adalah perasaan “aman &
    nyaman.” Pendorong terhadap interaksi ini, mengembangkan peradaban seolah
    dinamis yang menggantung pada keseimbangan lingkungan.  Suasana yang terlalu mencekam ataupun terlalu
    aman mengarah pada stagnan.  Menjamurnya para
    koruptor membuat masyarakat lelah, atau pun negara ini yang berhukum sekuler
    namun penduduknya anti sekuler. Serba bingung, peradaban berjalan di tempat.  
    Hukum. Ia ada untuk dipatuhi demi kepentingan bersama. Hukum
    rimba, hukum alam, hukum pemerintahan semuanya adalah sama-sama di bawah kata “hukum.”
     Kesamaannya bertumpu pada satu
    kekuasaan. Andai ada dua penguasa, yang satu akan selalu membuat keonaran di
    dalamnya. Perbedaan ini, menentukan pola “pelaksanaan” hukum.
    Tak berarti, hukum itu muthlak mengikat semuanya. Bila saja
    hukum tersebut tidak memberikan arti apa-apa bagi pelaksana hukum. Pelanggaran oleh
    para penegak hukum tak lebih sebagai pengurangan terhadap karismatik hukum
    tersebut. Stigma muncul, kini ia tak dipercaya, sedang ia di satu sisi tetaplah
    satu yang berdiri sendiri dan suci—bukan abu-abu. Atau sebaliknya, bisa saja
    rakyatnya sudah merasa aman, damai, tentram dan damai. Keberadaan hukum tak
    muthlak dibutuhkan.
    Namun itu impian di siang yang harapkan malam dalam 25
    menit. Keadilan sudah terobralkan, hukum tergadaikan bahkan non-humanis. Di saat ini, tampaknya hukum
    bukan berkuasa di atas penegak hukum. Prosesnya harus terselesaikan dan tak
    boleh mengambang. Artinya, bila proses berlanjut harus ada yang menjadi
    “tersangka” atau terdakwah, dan harus ada juga yang “dimenangkan” dalam
    pengadilan super alot. Yang katanya, telah “terbukti.” Hukum tak mau
    capek-capek mengurus yang detail-detail, bila sudah cukup bukti sudah pasti
    jadi tersangka.
    Kebenaran atau kemengan kah yang dicari dalam peradilan
    hukum? kebenaran dan siapa yang benar tak harus menang dalam sidang peradilan.
    Sebagaimana, para pemenang di dalamnya juga tak harus ‘benar-benar’ yang benar.
    Hukum lagi-lagi tak salah, penyelenggaranya yang kurang maksimal dari tuntutan
    ideal hukum. Keadaan hukum beralih menjadi apa yang tak “wajib” dipercaya.
    Walau terkadang masih dipaksa untuk ditaati bersama. Kata mereka, hidup dengan
    hukum rakyat makmur. Lalu kemana hukum berada, masalah pelanggaran masih belum
    terselesaikan?

    Seharusnya, pengobatan selalu diikuti oleh pencegahan. Bila sanksi
    dijatuhkan kepada yang dikatakan sebagai “pelanggar” hukum, upaya pencegahan
    pelanggaran hukum perlu dibangunkan. Semacam Gerakan Pencegahan Pelanggaran
    Hukum (GPPH). Lazarus (1966) mengatakan, “perubahan perilaku” seseorang berawal
    dari ancaman yang pada proses awalnya terletak pada ranah kognitif sebelum ia
    menjadi stres. Nah, menciptakan kondisi yang kondusif merupakan satu langkah
    maju pembentukan GPPH.

    185 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    4 tanggapan untuk “Hukum”

    1. Waaaaahhhh hukum? sesuatu yang menurutku njelimet, berbelit-belit…. seandainya hukum Islam yang diterapkan manusia di muka bumi ini, pasti hukum gak bakal compang camping kayak sekarang.

    2. iya.. karena hukum di dalam islam berlandaskan pada al-Qur'an yang tak mungkin ada kesalahan di dalamnya…

      terimakasih atas kunjungannya..

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *