Hormati Dirimu

    Setiap
    orang tua, selalu ingin ditakuti oleh para anaknya, tujuannya agar patuh. Hal
    ini, sungguh disayangkan, bukankah yang sebenarnya diharapkan adalah “kewibaan
    dan kehormatan”. Banyak anak yang yang diperintah, namun justru orang tua
    menurunkan kehormatan dirinya. Yaitu, dengan melanggar apa yang ia larang.
    Kesannya, mampu memerintah tetapi tak mampu melakukan untuk dirinya sendiri. Akibatnya,
    banyak anak lebih meniru apa yang diperbuat orang tua dibanding melakukan apa
    yang diperintahnya.
    Hal
    ini merupakan gambaran, bahwa rasa hormat lebih bernilai di mata orang lain.
    Agar derajat kediaman diri kita tidak jatuh jauh dari mata orang sekeliling,
    maka jagalah kehormatan. Biarlah ke-diam-an sebagai keunikan dirimu, bukan
    sebagai keanehan. Jagalah kehormatan untuk menambah nilai kepada diri
    terdalammu. Di sini, kau akan disegani. Begini bukan berarti menuntut gila
    hormat,  jauh di balik itu untuk melatih
    menghormati diri sendiri.
    Pikirkanlah,
    kalau kita sudah mencela diri dan menghina diri dengan tidak menerima
    kenyataan. Lalu, siapa yang akan peduli kepada diri kita? Bila sekeliling kita
    sudah tak lagi peduli. Satu-satunya yang bisa diharapkan ialah diri sendiri, di
    situlah bila kehormatan diri menjadi urgen. Tak perlu lagi diinjak-injak oleh
    orang lain, dengan semangat hormati diri sendiri disitulah titik awal untuk
    bangkit. Dari dalam yang penuh kepedulian diri, dari luar kemudian segera
    mengikuti. Begitulah, dari dalam akan keluar.
    Salah
    satu cara untuk menghormati diri sendiri yaitu dengan berbuat yang sepantasnya,
    pantaskanlah dirimu, pikiranmu dan apa yang kamu kerjakan. Tanyakanlah, apakah
    pekerjaan atau sesuatu yang kita kerjakan sesuai dengan “kondisi dan situasi”.  Melakukan apa yang seharusnya dilakukan, bukan
    melakukan apa yang disenangi tanpa nilai “kepantasan”. Dan tentunya, ini sesuai
    dengan nilai misi yang sudah ada sebelumnya.
    Bila
    impian dan visi berkaitan dengan “dunia motor”, maka selain dunia tersebut
    dikatakan sesuatu yang tak sesuai kondisi dan situasi. Artinya, melenceng dari
    jalannya. Sampai ke tujuan tak harus cepat, dan tak harus sekarang juga, yang
    penting “tepat”. Berjalan di atas jalannya. Untuk apa terburu-buru toh
    akhirnya justru menjauhkan dari tujuan awal. Semakin cepat melangkah, semakin
    menjauh dari tujuan—sia-sialah usaha.
    Karena
    takdir kita sebagai pendiam, maka takdir kita ‘bekerja’ dan ‘berusaha’ di atas
    rata-rata menjadi keharusan. Terkadang, mereka yang banyak berbicara tak mampu
    menjadikan usahanya segaris dengan apa yang diungkapkannya. Dan biasanya pula,
    orang pendiam itu ditakdirkan lebih banyak berbuat dibanding menunggu. So,
    rebutlah dirimu sendiri. Itulah identitas diri seseorang semisal kita. Oleh
    sebab itu, pertanyakan diri kita apakah kita si pendiam dan si banyak berbuat,
    atau si pendiam namun malas bekerja?
    Nah,
    setelah kita tahu apa takdir kita, bagaimana nasibnya dan di balik itu semua. Lebih
    baik memilih bertahan dengan nasib tersebut, dan berfokuslah kepada di balik
    itu. Bertahan di sini juga sebagai bentuk “menghormati” terhadap diri sendiri
    yang lain. semakin bertahan, semakin banyak yang dikembangkan dan berpotensi
    semakin baik di kemudian waktu. Andaikan kita memutuskan kepada ‘terlena’ oleh
    yang nampak dari takdir, sungguh suatu ketidaknyamanan di dalam diri.

    920 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *