Hidup yang Sekali Saja

    “Mustahil berlabuh bila tak ada yang dikayuh”—Iwan Fals
    Hidup itu tak pernah ada pengulangan, bahkan dibatasi hanya sekian tahun saja. Atau boleh saja lebih pendek daripada apa yang kita pikir. Ini masalah hidup yang sekali. Selanjutnya, bagaimanakah cinta memposisikan diri di dalam kehidupan tersebut?
    Cinta sejatinya adalah kekuatan terdalam, yang membebaskan manusia dari pan-determinesm. Sehingga, ia bukanlah robot yang menerima begitu saja pengaruh lingkungan.
    Setiap kondisi memberikan suatu penegasan dari maksud tertentu. Viktor E. Frankl menyebutkan bahwa hidup mempertanyakan, dan kitalah menjawabnya. Cara menjawab adalah memberi tanggung-jawab kita pada kehidupan. Tanggung-jawab dan cintalah tak bisa dilepaskan dari jiwa, dan diri kita.
    Seseorang yang terampas hak cintanya dan tanggung jawabnya, maka hilanglah kemanusiannya. Ia prematur
    terhidupkan di dunia ini.
    Akhir-akhir ini kita begitu mudah menemukan kejanggalan-kejanggalan.
    Seorang ibu tega membunuh anaknya yang seumur 12 tahun hanya gara-gara kesal.
    Ke manakah perginya cinta kasihnya kepada anaknya? Kemanakah tanggung-jawabnya?
    Ada banyak faktor penyebab mengapa demikian, bukan masalah kurang mampunya diri untuk meneruskan dan memperjuangkan kehidupan. Ada sesuatu yang terlewatkan di dalam diri si ibu, “makna hidupnya” telah hilang.
    Agresi, atau semangat kerja merupakan sebagian manifestasi dari frustasi
    eksistensial. Yaitu, makna hidup yang tak berhasil ditemukan dan dicapai dari
    niat hati terdalam. Dengan kehilangan makna, seseorang begitu tergoda untuk melampiaskan kemarahannya, bahkan anak yang terbedaya menjadi korban. Ini sekelumit fakta, makna hidup sangatlah urgen di dalam kehidupan ini.
    Setiap permasalahan yang kita hadapi merupakan tanda tanya, kita menjawabnya dengan tanggungjawab. Menjalani sesaat hidup ini, seakan kita menjalaninya untuk yang kedua kalinya. Kehidupan pertama telah gagal, dan sekarang pengulangan yang harus memberikan terbaik dari usaha. Dengan begitu,
    kita menjalani kehidupan penuh hati-hati, tanggung-jawab. Alhasil, ada perasaan
    bahwa kita “ada”. Keberadaan kita yang lahir dari semangat usaha (experiential values). Bukan sekedar dari istilh “saya berfikir, maka saya ada”.
    Cinta penting untuk dileburkan pada tanggung-jawab. Marcus Aurelius (kaisar
    romawi, 180 M) mengatakan, “Bila kamu merasa tertekan oleh sesuatu di luar,
    kesengsaraan itu bukanlah karena sesuatu itu sendiri, melainkan dari penilaianmu terhadapnya: dan kamu memiliki kekuatan untuk membatalkannya kapan
    saja”. Melihat dengan pandangan cinta, menilai dengan pandangan cinta memberi kita kekuatan ke arah yang lebih baik.
    Kediri, 03 Juni.

    1,980 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    4 tanggapan untuk “Hidup yang Sekali Saja”

    1. Melihat dengan pandangan cinta, menilai dengan pandangan cinta memberi kita kekuatan ke arah yang lebih baik. <— setuju. makasih sharingnya. Masih terus belajar menjalani hidup dg penuh syukur dan tanggung jawab 🙂

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *