Hawa Nafsu & Hasrat


    “Ketiadaan
    keinginan merupakan belenggu bagi diri, karena itulah mengapa banyak jalan yang
    buntu, banyak langkah yang terhenti, dan banyak cara yang tak terlaksana.
    Padahal bila mau, semuanya kan mempermudah perjalanan langkah seseorang.”
    (Agha
    Ma’ruf)
    Tak seorang pun di dunia ini
    bekerja tanpa menggunakan pikiran dan perasaan. Para pekerja kuli bangunan
    sekali pun tetap kan menggunakan pikirannya, termasuk mereka yang terpaksa
    menjadi pemulung sampah, pengamen dan jenis pekerjaan lainnya. Mereka awalnya
    tentu saja ada perasaan gengsi, namun karena adanya pembenaran di dalam diri
    masing-masing. Maka, tak menjadi gengi lagi untuk melakukan pekerjaan tersebut
    sebaik mungkin. “Daripada munafik, lebih
    baik menjadi pengamen saja,”
    sebutnya salah satu pengamen jalanan yang juga
    menyindir para koruptor.
    Pertimbangan-pertimbangan selalu
    dilaksanakan di awal pekerjaan, ia memutuskan iya atau tidak, bagaimana dan
    seperti apa, serta mengapa. Dan ini tergantung kepada kapasitas penyimpulan
    terhadap pengalaman sebelumnya. Yaitu terhadap masa lalunya, atau berdasarkan
    pengalaman orang lain yang diketahuinya. Namun, sadarkah bila ternyata yang
    berperan dalam segala tindakan seseorang tak luput dari adanya dorongan hawa
    nafsu, selain pikiran dan perasaan?
    Perilakumu dalam usaha mencapai
    keinginan didasarkan bagaimana ‘sudut pandangmu’ terhadapnya. Pentingkah ia
    bila tercapai? Mengapa harus hal itu yang kamu cari? Siapakah yang menyuruhmu
    mencarinya? Untuk membuktikan hal ini, lihatlah bagaimana para mantan
    narapidana dipandang “negatif” oleh masyarakat di lingkungannya. Karena
    anggapan tersebut negatif, otomatis orang pun enggan mendekatinya “khawatir”
    akan merugikan diri sendiri. Misalnya juga, saat temanmu pernah sekali saja mencuri
    bolpointmu, perasaanmu akan berubah kepadanya. Kamu mulai menjaga jarak, dan
    kurang percaya lagi kepadanya. Anehnya, rata-rata orang itu beranggapan yang
    sama seperti ia masih melakukan keburukan, walau pun sebenarnya ia sudah insaf
    dan mengalami perubahan.
    Di saat kamu memberikan sudut
    pandang terhadap apa pun, siapa pun. Pikiran dan perasaan berperan, nafsu
    selalu menggoda keduanya. Ciri paling mudah mengenali dorongan nafsu adalah;
    suka berfikir orang irrasional, kurang realistis, banyak menuntut kepada diri
    sendiri (serakah), beranggapan ini sangat sulit untuk dilakukan, merasa paling
    gagal saat kegagalan menimpa, maunya yang enak-enak saja, mau serba instans, merasa
    semuanya telah berakhir. Nafsu ini diam-diam mengambil ancang-ancang pengaruhi
    pikiran dan perasaanmu.
    Menunda pun demikian. Teman-temanmu
    yang hobi menunda, sebenarnya berawal dari pikiran yang membenarkan bisikan
    nafsu. “sudahlah, tugasmu kan sedikit,
    kerjakan nanti saja lah. Tuh, ada game baru.”
    Saat selesai bermain game,
    dan akan melaksanakan tugas, nafsu berbicara kembali. “eh, santai aja bro! Di
    bioskop ada  film serru, yuk ke sana!”
    sampai akhirnya, kamu baru menyadari ternyata nafsu selalu datang dengan
    kesibukannya masing-masing. Dan kamu pun tak pernah selesaikan tugasmu. Ingat! Sesuatu yang menyenangkan
    seringkali sulit untuk ditunda, dan hal yang benar-benar penting justru sangat
    mudah ditunda.
    Mulai detik ini, jangan pernah
    turuti kehendak nafsumu. Ikuti apa yang ada di dalam pikiranmu “apa yang
    seharusnya aku lakukan,” dan “mengapa aku harus melakukan.” Nafsumu akan
    merusakmu, bila kau tak mampu hadapi, ingatlah kata-kata ini. ”senang sekarang,
    atau memilih senang nanti.” Atau bisa juga, “menderita lima menit, untuk
    kebahagiaan lima hari.” Pokoknya, nafsu itu seperti tumbuhan, semakin dibiarkan
    ia akan semakin betah berada di dalam diri. Sekali saja terkecoh olehnya,
    bersiap-siaplah menghadapi kecohan setelahnya yang lebih besar. So, hadapi
    nafsu dengan hati-hati.

    721 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *