~(Harta, Wanita dan Tahta)~

    Bisakah harta, tahta dan wanita dipisahkan? Bila ia,
    benarkah harta lebih mendominasi untuk dimiliki, atau kah harta atau wanita.
    Bagi sebagia penikmat harta, ia menjawab bahwa dengan harta ia akan bisa
    mendapatkan kekuasaan dan wanita. Bagi sebagian yang lain, dengan wanita
    seseorang akan mendapatkan harta bahkan kedudukan dengan berkat “cinta” yang
    ada di dalamnya. Dan dengan kekuasaan, sangat sedikit orang bisa mendapatkan
    kepercayaan bila lagi-lagi jatuh mencari harta lebih-lebih wanita. Dalam hal
    ini, tak  wajib menjadikan dalil berikut
    ini untuk mencari lebih sebagai pemuasaan atas keinginan diri (hawa nafsu). Almuhaafadhatu ‘alal Qadhimis shoolih, wal
    akhdu ‘alal jadiidil ashlah,
    menjaga dari sesuatu yang sudah baik, dan
    mengabil sesuatu yang baru dan lebih baik.
    Beginilah manusia, di mana sesuatu yang bukan miliknya
    selalu lebih berharga daripada sesuatu yang telah dimiliki. Sehingga ada yang
    mengatakan bahwa rumput di halaman tetangga selalu lebih baik. Nyatanya,
    sedikit sekali yang benar-benar bersyukur terhadap apa yang sudah dimiliki.
    Baik itu berupa kekuasaan, wanita dan harta. Sulit menemukan kepuasaan, selalu
    ada keinginan untuk selalu “lebih.” Dengan harta yang sudah dimiliki, selalu
    tak terpuaskan dan “selalu” ingin lebih. Bila diberi wanita yang ini, selalu
    ingin wanita lain. Begitulah gambaran manusia, wa qaliilun min ‘ibaadiya asy-syakur, sungguh sangat sedikit dari
    hamba-hambaKu (Allah) yang banyak bersyukur.
    Sebenarnya bukanlah hanya masalah pendidikan
    bagaimana”karakter” ini terbentuk. Selebihnya, di dalam al-Qur’an sudah
    disebutkan bahwa manusia seringkali berbuat keburukan, dan jarang sekali yang
    berbuat kebaikan. Pendidikan di negeri ini hanya mengandalkan perkembangan
    kognitif, tak memperhatikan “lebih dalam” bagaimana perkembangan afeksi (dalam islam diistilahkan dengan akhlaq). Usut punya usut, ternyata dugaan ini
    bukan dugaan yang membabi buta. Hal ini benar terjadi, di mana orang cerdas,
    justru perusak bangsanya. Atau pun orang yang sekedar pintar beraksi, banyak
    bicara namun tak ditunjang dengan kemampuan yang baik. Mereka sama-sama bekerja
    dalam kealpaan. Di mana yang satu salah jalan, satunya lagi bekerjaan tanpa
    ilmu yang menjurus pada kerusakan.
    Menjadi bijak itu perlu, yaitu mengambil seperlunya saja
    dari ketiga jenis godaan dunia tadi. Sekedar dari kebutuhan, selebihnya
    diinfakkan kepada orang lain. Tidak perlu terlalu serakah, biarkanlah orang
    lain pun mencicipi rejeki kita. Kita pun menjadi khairul ummah, menyayangi
    orang lain sebagaimana menyayangi diri sendiri adalah bukti kuat dari tanda
    keimanan diri sendiri. Tidaklah beriman
    seseorang kecuali ia mencintai orang lain sebagaimana mencintai diri sendir.

    Tentu saja, cinta ini adalah cinta yang jatuh setelah adanya iman, agar cinta
    tak membabi buta, apalagi gelap mata. 

    715 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *