Hal ter-so Sweet di dalam Hidupku

    Ibarat pepatah, “hidup itu kadang di bawah
    kadang juga di atas.” Aku jadi heran, kata “kadang”
     siapakah yang menentukan? Membaca hal
    ini, sekilas ada kepasrahan mengalir saja terhadap kehidupan. Padahal, kadang
    di bawah itu karena diri kita, bukan karena orang lain. begitu pun sebaliknya,
    saat kita berada di puncak kejayaan.
    Bagiku, hal yang indah tak akan lepas dari
    hal yang membuat kita lelah (kerja keras). Hal yang manis dalam hidup pun demikian,
    ia tak bisa dipandang sebagai “manisnya hidup” apa adanya, tanpa mau melihat
    kepada “pahitnya hidup.” Mengapa aku mengaitkan dua sisi yang berbeda? Alasan pertama
    sebagaimana disebutkan oleh Muhammad ibn Idris Asy-Syafi’i (Pendiri Madzab syafi’iyah) mengungkapkan bahwa manisnya
    hidup terletak pada pahitnya hidup. “fanshab
    fainna ladzizal ‘aisyi fin nashabi,”
    bekerja keraslah kalian, karena
    kenikmatan hidup terletak padanya. Kedua,
    di dalam al-Quran kan sudah disebutkan, fainna
    ma’al ‘usri yusra, inna ma’al ‘usri yusra.
    Maka sesungguhnya setiap
    kesulitan akan diikuti oleh kemudahan, dan sesungguhnya setiap kesulitan akan
    diikuti oleh kemudahan. Jadi, menurutku sangat kurang “mengena” membicarakan
    hal ter-so-sweet tanpa bernostalgia akan hal terpahit.
    Hal termanis dalam hidupku adalah saat-saat
    masih di pesantren dulu. Hidupku di pesantren modern bertahan hanya lima tahun
    saja ditambah setahun masa pengabdian; seperti utusan mengajar di
    pesantren-pesantren lainnya. Nah, puji syukur kepada Allah yang membuatku
    terkenang bukanlah apa yang telah tercapai di pesantren dulu. Dari lulus ujian
    akselerasi, dapat predikat mumtaz
    (istimewa/cumlaude) sampai menghafal
    apa yang ingin dihafalkan. Justru, yang terkenang adalah bagaimana kerja
    kerasku untuk mendapatkan itu semua. Maaf, tak ada maksud untuk berbangga diri,
    hanya sekedar tahadduts binni’mah
    dengan me-review masa lalu.
    Kerja keras yang cukup membuatku keletihan
    sepanjang hari. Berkutat dengan disiplin pesantren yang luar biasa—namanya juga
    pondok modern, disiplin adalah mahkota
    pesantren
    , bersama tuntutan dan tekanan di dalam diri sendiri. Hanya itu
    yang aku ingat, bukan “buah” dari kerja keras. Sejujurnya, itulah hal yang
    termanis dalam hidupku. Saaat di mana kami terpaksa SKS (sistem kebut semalam)
    selama 1-2 bulan lamanya untuk dapat lulus ujian ekselerasi, sampai mengurangi
    jatah tidur untuk sebuah impian.
    Kini, rasanya aku ingin mendisiplin diri
    sedisiplin mungkin seperti saat di pesantren. Lagi-lagi, hidup di “dunia luar”
    memang sangat menantang. Kalau berdisiplin di pesantren itu wajar, soalnya
    lingkungannya lah yang membentuk dan menuntut untuk berdisiplin. Lah, kalau di dunia luar, dari tuntutan
    kuliah, cari kerja, menjadi aktivis berdisiplin amat berat ditaklukkan. Utamanya
    disiplin waktu, soalnya kegiataan organisasi itu waktunya fleksibel. Ada acara,
    oke dan tidak ada acara biasanya kami
    selalu berusaha agar ada kegiatan atau apa pun bentuknya.

    Karena itula, prinsip yang termindset di
    dalam benakku adalah “manisnya hidup berarti terletak pada pahitnya hidup.” Ya,
    aku jadi teringat kembali dengan Ibnu Qayyim dengan karyanya yang bernama muqaddimah, beliau menyatakan bahwa “Tak
    ada suatu kenikmatan yang diperoleh dengan kenikmatan.” Sekian, terimakasih
    atas waktunya. Karena kamu blog ini hidup, karena kamu blog ini ada artinya
    bagiku pribadi, karena kamu pula blog ini selalu setia memberikan apa yang
    dapat diberikan. Terimakasih teman-teman atas kunjungannya.
    *Postingan ini diikut sertakan dalam “Best Article” yang diadakan oleh Komunitas Blogger Energy 

    1,050 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    23 tanggapan untuk “Hal ter-so Sweet di dalam Hidupku”

    1. Oh di pesantren dulu ya kak? Iya pasti banyak banget pengalamannya, apalagi buat masuk akselerasi. Emang nggak gampang. Juga bertahan di sana lebih gak gampang.

      Setuju. Disiplin yang paling sederhana itu sebenernya disiplin waktu.

    2. wah… Agha keren 🙂 bisa bertahan di pesantren selama 5 tahun lebih 🙂
      semoga ilmu yg didapatkan selalu bisa disampaikan kepada orang lain ya
      setuju banget, kalo setelah kesulitan itu pasti ada kemudahan
      jadi kalo kita mau bahagia atau mengecap manisnya kehidupan kita harus bersusah payah dulu, kerja keras dan mengalami kesulitan2
      kalo kita lolos nantinya kita akan bahagia
      keren
      oya disiplin tidak hanya kita dapatkan dibangku pesantren atau sekolah, tapi disiplin yg sesungguhnya itu adalah mendisiplinkan diri sendiri dimana pun dan kapan pun kita berada

    3. widih keren. baru tahu ternyata di pesantren juga ada predikatnya dan lo dapet predikat mumtaz.

      moga aja setelah gak dipesantren lagi, masih bisa hidup disiplin layaknya dipesantren dulu.

      setuju banget sama quotes"tak ada sesuatu kenikmatan yang diperoleh dengan kenikmatan"

    4. Dua kata buatmu, "Keren abis!". Banyak kata-kata yang memotivasi
      Disiplin dalam pesantren yang lebih kecil dari dunia, sulit buat disiplin di dunia yang besar ini. Tapi disiplin yang didapatkan di pesantren sebenarnya modal besar buat hidup dalam dunia yang semua manusianya heterogen.

    5. Kece nih kang ma'ruf.. Ternyata akang ini anak pesantren. Udah dapet gelar mumtaz pula..

      Bagi kang ma'ruf ini manisnya hidup cukup rumit juga yah.. Pake pendapat filusuf dsb 😀

      Jangan lupa kasih gambar dikit bang, biar ca'em artikelnya. Saran ajah sih.. Soalnya untuk the best article di cari yg 'the best-nya' 😀

    6. Man Jadda Wajada. . .
      biasanya uda jadi semboyan anak pondok yang d'pegang teguh untuk mendapatkan sesuatu yang di inginkan. ya sepertinya juga berlaku di masbro. . .

      Keren. . .

    7. Huaaaa kece deh, bisa bertahan di pesantren selama lima tahun..
      Akunya aja yang baru lima hari, udah kayak lima tahun >.<
      Semoga ilmu yang di dapat bisa bermanfaat ya ga 🙂

    8. wow dulu kamu sekolah di pesantren ya?
      mantap!
      pasti kegiatannya sangat padat.
      tapi syukurlah kerja kerasmu membuahkan hasil berwujud prestasi yg membanggakan ya ^^

      ponpes mana?
      adikku juga di ponpes tapi di jogja.

    9. survive di pesantren itu sangat menyenangkan.. apalagi dengan banyak teman, dan buku serta kitab yang mencerahkan…

      terimakasih atas kunjungannya..

    10. Dari pesantren toh. Pasti selama BW kesini, hawa nya adem beudt. Hihi :3

      Memang bener hidup itu kadang di bawah, juga kadang diatas.
      Padahal kata "kadang" ini kita sendiri yang ciptakan ya.
      Tapi ya balik lagi, kita hidup karena Tuhan. Pasti dia ikut berperan.
      Walo usaha tanpa doa dan amalan, "kadang" pun bisa jadi karena tangan Tuhan,
      Gitu kali yaa
      Hehe

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *