Haji

    Saya tak tahu persis seperti apa ka’bah, hijir ismail, seperti apa masjid madinah. Bagi muslim, berhaji merupakan impian dan harapan penuh. Apalagi haji mabrur, tentu kami semua mendambakannya.

    “Allah karim, kerinduan ini tak tertahan akan tempat suci itu. Sampaikanlah kami kepadanya, kami merindukannya untuk memenuhi panggilan-Mu ya Allah”.

    Ada beberapa jamaah haji yang rela bersepeda dari jepang ke Makkah, ada yang juga dari negara lain. Saya kira, kita akan bertanya-bertanya: “Apakah mereka tidak capek?” Secara lahir kita akan terheran-heran, perjalanan nan jauh. Namun, marilah kita selami di balik itu semua. “Siapakah yang menggerakkan mereka dari negaranya menuju ke Makkah?” Kerinduan akan panggilan rabb-nya benar-benar mengalahkan segalanya.

    Bila kekuatan cinta Majnun kepada Layla mampu menggerakkan dirinya melewati padang pasir yang jauh. Lalu, bagaimana bila cinta kepada rabb-nya secara nyata ditampakkan oleh-Nya kepada manusia sebagai pelajaran? Tentu saja, kita akan semakin memantapkan keyakinan sembari berdzikir, “Allahu akbar”.

    Baru saja usai musim haji. Saya sempat menjemput salah satu jamaah haji Indonesia Kloter pertama. Di Madura, setiap jamaah yang telah selesai menjalankan kewajibannya kembali ke rumahnya dengan diiringi konvoi motor, dan beberapa mobil. Bak seperti presiden datang ke suatu daerah, ada kegembiraan dan kerinduan. Di rumah merindu, yang tiba berbahagia dan terharu.

    Selama perjalanan sejauh 20 km, pikiran tak mau berhenti berpikir. Salah satu hak Allah dalam perjalanan ialah manusia senantiasa memikirkan makhluknya, merenunginya. Sehingga, bergetar di dalam hatinya, mengetahui akan keesan Allah. Apa yang saya renungkan? Yaitu, kisah-kisah mereka selama menjalankan ibadah haji.

    Tanah haram misalnya, demikianlah disebut. Di sana, bila hati sengaja berniat buruk langsung mendapatkan balasan dari Allah. Misalnya, cerita dari jemaah haji lain pernah berkata dalam hatinya, “masa’ saya akan tersesat di tempat ini”. Eh, tidak tahunya ia benar-benar tersesat. Ia benar-benar tak mengenal tempat. Dan ada cerita lain, percaya atau tidak itu benar-benar nyata adanya. Benar-benar terjadi.

    Kewajiban hanya berlaku bagi yang mampu, bagi yang belum marilah perbanyak amal kebaikan. Dunia sebagai masa kehidupan yang hanya berjarak paling lama sekitar 63 tahun benar-benar menentukan kehidupan selanjutnya. Yaitu, kehidupan di alam barzah yang bisa memakan waktu berjuta-juta tahun. Kehidupan kita di sana seutuhnya ditentukan kehidupan kita di dunia. Ingat Allah, dan ingatlah kita adalah makhlukNya.

    Kehendak Allah di atas segala-galanya, “Idzaa araada syaian an yaquula lahu kun fayaqun”. Segalanya serba mungkin, yang penting tancapkan niat dalam-dalam. Ada tukang bubur naik haji, ada tukang bejak bisa naik haji. Secara logis tanpaknya sedikit tak mungkin. Tetapi, di situlah sebenarnya terletak keagungan Allah. Bila ada niat baik, Allah akan mempermudahkan realisasinya.

    Sumenep, 19.09.2016
    Algazel Ma’roef | www.makruf.com

    3,768 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    Satu tanggapan untuk “Haji”

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *