SAM_0515

Pondok Pesantren Modern Darussalam Gontor Ponorogo

    Pernahkah Anda terpikirkan bahwa gedung-gedung megah tak hanya berdiri di area perkotaan. Bukan gedung parlement, atau gedung pemerintahan yang kami maksudkan. Namun lebih kepada gedung-gedung sebagai pusat pendidikan. Ternyata ehternyata, di desa menyimpan banyak potensi untuk kehidupan berkotaan. Sebut saja pondok modern Darussalam gontor ini, yang terletak di daerah desa dengan penuh kesejukan suasana alamnya, namun tetap mempertahankan kehidupan yang modernitas.
    Yang membedakannya dari kebanyakan pondok pesantren pada umumnya adalah pendidikan yang melingkupi tiga aspek, yaitu pendidikan tak hanya sebatas pada akal intelektual saja, namun juga pada aspek khuluqiah (baca:perilaku) dan jasmaniyah. Ketiga aspek ini dikembang-tumbuhkan melalui berbagai macam kegiatan yang berada di pondok madani tersebut.
    Perjalanan kami diawali dari jawa timur arah Surabaya, langsung mencari bus jurusan terminal ponorogo. Kota yang dijuluki Kota-Reog tersebut, memiliki banyak keistimewaan. Seperti letak pondok gontor yang teristimewa jauh dari suasana perkotaan. Kalau mau diukur, jarak antara gontor dan kota ponorogo Sekitar 17 km perjalanan sepeda motor. Maklum lah, di sana tidak ada angkot  yang langsung sampai ke pondok, harus pakai motor (baca: ojek). Perkiraan tarif sekitar 25.000 (per-2014/1 liter bensin: 6.500).
    Satu fakta yang baru terpecahkan sesampainya di gontor adalah, gontor tidak sekeras yang dibayangkan dalam benak kami sebelumnya, namun ia tetap tegas dalam mendidik santrinya. Kepenuhramahan para penduduk pondok terpancar saat kami sampai di ruang tamu, begitu pula saat kami sedang melaksanakan shalat jamaah lima waktu. Selalu terpancar keindahan senyuman di wajah mereka.
    Sesaat setelah memasuki area santri, kami pun disambut tulisan besar yang terpampang pada salah satu asrama santri tepat 30 meter di depan masjid jami’, bertuliskan “ke gontor apa yang kau cari?”. Tulisan ini memberkan makna falsafah akan pentingnya sebuah niat, ia mengingatkan niat dalam hati. Agar niat tak mudah kabur dari benak, sehingga dilanjutkan di salah satu sisi tembok asrama yang lain, “udhuluu fi gontor kaafatan” (baca; Masuklah ke gontor dengan sepenuhnya [jiwa-raga]). Artinya, totalitas dan mengingat niat akan selalu membawa kepada satu titik penting, yaitu keikhlasan, kesederhanaan, keyakinan diri (baca: kemandirian), persaudaraan islamiah, dan kemerdekaan.
    Tak hanya itu, banyak hal yang masih selalu menarik hati kami, yaitu pendidikan karakter diri yang ditanam dalam kehidupan santri setiap hari. Yaitu, nilai-nilai manajemen diri dan sebagainya; bagaimana santri bisa membagi waktu sebaik mungkin, bagaimana bertanggungjawab terhadap permasalahan yang ada dan masih banyak hal yang tercermin dalam sikap keseharian mereka.
    Di gontor, para santri dihadapkan dengan banyak macam kegiatan, selain juga dituntut dengan berbagai macam tuntutan. Mereka dibiasakan memiliki sedikit waktu, namun juga memiliki banyak tuntutan yang harus ditanggungnya. Nah, manajement waktu inilah yang sangat penting untuk bisa membantu ini semua.
    Keasyikkan kami benar-benar terperanjat dengan falsafah hidup mereka, “Berani hidup tak takut mati, takut mati jangan hidup, takut hidup mati saja, berkorbanlah namun jangan sampai menjadi korban. Sejauh keinsafanmu, sejauh itu pula keberuntunganmu”. Subhanallah, semoga mereka menjadi para pemimpin dunia agawan yang inteletek, bukan inteletek yang tahu agama.
    Kediri, 31 Agustus 2013.

    787 kali dilihat, 4 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *