Erich Froom

    Pendahuluan
    From, adalah tokoh dalam psikologi telah menyumbangkan banyak pemikirannya terhadap dunia psikologi, bahkan sosiologi. Teori Froom menggunakan pendekatan sosial-psikologis. Yang mana, pemusatan fokus penelitiannya adalah pada penguraian cara-cara di mana struktur dan dinamika masyarakat tertentu telah berhasil membentuk karakter para anggotanya sehingga karakter tersebut sesuai (equilibrium) dengan hasil yang ada pada masyarkatnya.
    Tidak hanya itu, Froom yang terlahir dari kalangan keluarga Yahudi, pengaruh dari religius tersebut pun ikut menjadi dasar dari terbentuknya dari beberapa teorinya. Sehingga, Fromm pun menghubungkan antara Buddhisme Zen dengan psikoanalisis sebagai jawaban atas permasalah masyarakat modern mengenai kehampaan jiwa dan kelelahan jiwa, yang kosong dari nilai spritualitas.
    Pembahasan dalam makalah ini meliputi beberapa aspek, terutama mengenai masalah hubungan individu dengan Alamnya, Buddhisme Zen, cinta dan sebagainya. Dengan tujuan, agar setiap pembaca bisa memahami dan menginternalisasi pengetahuan tersebut. Sehingga, benar-benar terasa manfaatnya.
    Sebagaimana dikatakan oleh Plato (filusuf), Cogito Ergo Sum .Yang artinya, aku berfikir maka aku ada. Berfikir mengenai diri sendiri, konsep diri dengan memahami konsep Erich Fromm akan sangat banyak membantu tentunya. Sehingga, setiap masing-masing pembaca mengetahui jawaban dari pertanyaan ini, Who Am I?
    Demikian, kami ucapkan banyak terimakasih atas segala pasrtisipasi para pengajar, dan para teman-teman. Kesalahan adalah manusiawi, banyak salah perlu ditanyakan kembali. Masukan dari pembaca adalah harapan kami.
    Pembahasan
    Sejarah Perjalanan Kehidupan Fromm
    Erich Fromm dilahirkan di Frankfurt, Negara Jerman pada 23 Maret 1900.  Di Universitas Heidelberg (Frankfurt) ia belajar psikologi dan sosiologi, dan mendapatkan gelar Ph.D pada usianya yang masih relative muda, 22 tahun (1922). Selain itu, Ia juga belajar psikoanalisis pada Institusi Psikoanalisis Berlin di Munich. Perjalan selanjutnya, institusi tersebut mengantarkannya ke Amerika Serikat (New York). Di sana, praktik demi praktik dilakukannya. Waktunya dihabiskan untuk praktek dan belajar.
    Selain kesibukannya tersebut, ia juga mengajar di sejumlah universitas dan institusi di Negara tersebut dan Negara bagian-Meksiko. Beberapa lama kemudian,  Fromm akhirnya terbang ke Swiss dan memilih bertempat tinggal di sana. Dari sanalah, Beberapa karyanya terlahirkan. Yaitu, berupa buku-buku yang kemudian  mendapatkan perhatian luar biasa dari publik dunia; dari kalangan psikolog, ahli sosiolog, filusuf, dan kalangan agama serta masyarakat umum.
    Menilik dari beberapa tulisannya, ia banyak terpengaruhi oleh pemikiran Karl Marx, yang terutama dengan karyanya yang berjudul The Economic and Philosophical Manuscripts yang selesai dituliskan pada tahun 1844. Maka dapat dikatakan, buku tersebut berumur 56 tahun daripada usianya. Dan ia meninggalkan dunia ini untuk selama-lamanya pada usia 80 tahun pada tahun 1980. [1]
    Pemikiran Fromm
    Sebagaimana ilmu psikologi yang ada hingga sekarang, tidak dapat dilepaskan dari adanya berjalanan jauh yang melatar belakangi di belajangnya. Begitu dengan pemikiran From, Ia membanding-bandingkan ide-ide Freud (motivasi ketidaksadaran) dengan Karl Marx (eksploitasi tenaga kerja), dan menyelidiki kontradiksi-kontradiksi di antara keduanya serta mencoba melakukan sintesis—mengalami untuk kemudian dicari teorinya. Fromm memandang Marx lebih ulung dibanding Freud, dan ia menggunakan metode psikoanalisa untuk mengisi celah-celah yang berada di antara pemikiran Karl Marx.
    Sebagai tokoh psikologi, Erich Fromm lebih senang disebut sebagai humanis dialektik daripada seorang teoritikus kepribadian Marxian. Selain dipengaruhi pemikiran Marx itu sendiri, pemikirannya juga dipengerahui pemikirannya yang luas mengenai sejarah, filsafat, kesusasteraan, dan sosiologi.[2]
    Karena Ia dilahirkan dari keluarga Yahudi Ortodoks,  maka pemikirannya banyak dipengaruhi oleh kitab sucinya beserta tafsirannya. Penekanan dalam pendekatannya adalah pada pengaruh faktor sosial dan masyarakat terhadap kepribadian. Pendekatannya tersebut diistilahkan dengan humanisme dialektika. Yaitu, berusaha menyatukan dorongan biologis dan tuntutan masyarakat dengan keyakinan bahwa manusia dapat melakukan transendensi dan menjadi orang yang spontan, kreatif, dan penuh kasih.
    Pemikirannya yang dipengaruhi filosof barat adalah Maimonides, “jangan kira bahwa karakter kita ditentukan saat kita lahir… setiap orang bisa menjadi sebijak Musa atau sejahat Jereboam. Kita sendiri yang menentukan apakah kita menjadi manusia yang terpelajar atau seorang yang bodoh, penuh kasih dan kejam, baik hati atau kikir”.Seseorang tidak dapat menyalahkan orang lain atas kegagalannya. Walau pun Tuhan dianggap mengetahui segalanya, akan tidak masuk akal untuk memintas seseorang untuk hidup benar jika mereka tidak memiliki kehendak bebas. Dilema tersebut dipertajam saat Freud memberikan penjelasan ilmiah tentang roh jahat—dorongan id. Pandangan Freud tentang kepribadian adalah pesimistis dan deterministic.
    Erich Fromm memiliki asumsi bahwa perilaku seseorang tidak ditentukan dari oleh dorongan dalam dirinya atau pun oleh tuntutan masyarakat, tetapi lebih disebabkan oleh kesadaran seseorang yang memiliki kebutuhan tertentu dalam suatu jaringan tuntutan masyarakat. Kepribadian yang paling matang adalah kepribadian yang mampu menjawab kebutuhan dan tuntutan umum kehidupan serta menciptakan identitas positif dan aktif—yang melibatkan di dalamnya cinta produktif dan saling menghargai orang lain. Orang mencapai orientasi produktif saat mereka berhasil memperkaya dunia melalui usaha kreatif dan etika kemanusiaan mereka sendiri.
    Teori Fromm
    Tema dasar dari semua tulisan Fromm adalah orang yang merasa kesepian dan terisolasi karena ia dipisahkan dari alam dan orang-orang lain. Perasaan isolasi adalah sifat khas yang hanya dimiliki oleh manusia, ia tidak ditemukan pasa semua spesies binatang mana pun. Misalnya Anak, ia terbebas dari ikatan primer dari kedua orang tuanya, namun akibatnya ia merasa terisolasi dan tak berdaya.
    Dalam bukunya yang berjudul Escape From Freedom (1941), Fromm mengembangkan tesis bahwa “karena manusia semakin menjadi bebas dari abad-ke abad, maka mereka juga akan semakin merasa kesepian”. Jadi, kebebasan menjadi keadaan yang negatif pada diri manusia.
     “Bagaimana cara menjawab dilema ini?”, yaitu dengan bersosialisasi. Seseorang harus menemukan semangat cinta, dihargai oleh orang lain, diterima oleh orang lain, menjadi bagian dari suatu kelompok, kerja-sama, dan penyesuaian diri dengan lingkungan sekitar.
    Fromm mendiskripsikan permasalahan-permasalahan tersebut dalam karya-karyanya. Ia berpendapat, “setiap bentuk masyarakat yang  telah diciptakan oleh manusia; kapitalisme, feodalisme, sosialisme dan komunisme menunjukkan akan usaha manusia untuk memecahkan kontradiksi dasar pada diri manusia”. karena pada dasarnya setiap pribadi adalah bagian sekaligus terpisah dari alam, merupakan binatang sekaligus manusia.
    Sebagai binatang, manusia memiliki kebutuhan-kebutuhan fisiologis yang seharusnya dipenuhi. Dan indikator dari kemanusiannya adalah memiliki akal, fikiran, khayalan dan kesadaran diri. Dan semua pengalamannya dicirikan dengan adanya rasa kasihan, kasih-sayang, cinta, benci, kahati-hatian, bertanggung-jawab, integritas dan sebagainya.
    Menurut Fromm, ada lima macam kebutuhan eksistensi manusia;  kebutuhan akan keterhubungan (Relatedness), kebutuhan akan keterunggulan (transcendence), kebutuhan akan keterakaran (Rootedness), kebutuhan akan identitas (Sense of Identy), dan kebutuhan akan kerangka orientasi (frame of orientation).
    Kebutuhan akan keterhubungan (relatedness) yaitu dorongan untuk besatu dengan orang lain. Yang mana, seseorang akan pasrah padanya, atau pada suatu kelompok, atau institusi agar menjadi satu dengan dunia. Hal tersebut didasarkan pada fakta, manusia dalam menjadi manusiawi telah direnggutkan dari kesatuan primer binatang dengan alam. “Binatang diperlengkapi oleh alam untuk menanggulangi keadaaan-keadaan yang harus dihadapinya”. Tetapi, manusia dengan kemampuan berfikir dan daya khayalnya telah kehilangan interdependensi intim dengan alam. Sebagai pengganti ikatan-ikatan instingtif dengan alam yang dimiliki binatang, manusia harus membuat ikatan-ikatan mereka sendiri. Ikatan atau hubungan yang dapat memberikan rasa kepuasan yang didasarkan pada cinta produktif; selalu mengandung perhatian, tanggung jawab, respek (kepekaan), pemahaman timbal-balik dan mempertahankan individualitas diri.
    Dorongan transendensi (keterunggulan) adalah kebutuhan individu untuk mengatasi kodrat kebinatangannya, untuk menjadi manusia yang kreatif dan bukan hanya menjadi makhluk belaka. Jika dorongan-dorongan kreatif ini terhambat, bisa diramalkan bahwa manusia tersebut akan menjadi perusak. From berpendapat bahwa cinta dan benci bukanlah dorongan yang saling berlawanan, melainkan sebagai jawaban atas kebutuhan untuk mengatasi kodrat kebinatangannya. Binatang-binatang tidak dapat membenci atau pun mencinta seperti halnya manusia.
    Selanjutnya, Manusia mendambakan akar-akar alamiah; mereka menginginkan menjadi bagian integral dari dunia, merasakan bahwa mereka memilikinya. Ketika masih usia anak-anak, mereka berakar pada ibunya. Seseorang menemukan akar-akar yang paling memuaskan dan paling sehat dalam rasa sekeluarga dengan pria dan wanita lain. Kendatipun demikian, individu juga memiliki keinginan untuk memiliki perasaan identitas pribadi, menjadi seorang individu yang unik. Jika seseorang tidak bisa mencapai tujuan ini melalui usaha kreatifnya sendiri, ia bisa mendapatkan ciri tertentu dengan mengidentifikasikan diri dengan  orang atau kelompok lain.
    Akhirnya, manusia harus memiliki acuan atau pedoman yang konsisten dalam memandang dan memahami dunia ini. Baik pada tahap awalnya, masih bersifat rasional, atau pun irrasional tapi akhirnya akan mengandung keduan unsure tersebut
    Kebutuhan-kebutuhan keterhubungan dan empat kebutuhan lainnya sungguh merupakan kebutuhan manusiawi, tidak ditemukan pada binatang manapun. Kebutuhan ini tidak dibentuk oleh lingkungan di mana ia tinggal, atau pun berdasarkan pengamatan tentang apa yang dikatakan manusia tentang keinginannya. Melainkan, kebutuhan-kebutuhan tersebut murni ditanamkan dalam kodrat sebagai manusia. Makhluk yang paling unik dibanding dengan makhluk-makhluk lainnya.
    Selain itu, aturan-aturan sosial di mana seseorang hidup merupakan penentu cara-cara aktual seseorang dalam mewujudkan potensi-potensi bathiniyah di dalam dirinya. Dan aktual ini merupakan manifestasi spesifik mengenai kebutuhan-kebutuhan manusia. Selain karena lingkungan di mana ia hidup, kesempatan yang diberikan kepadanya juga turut menentukan bagaimana seseorang mengaktualisasikan dirinya. Penyesuan-penyesuai diri seseorang dalam masyarakat  bisanya karena adanya ‘kompromi’ di dalam dirinya tentang kebutuhan-kebutuhan bathiniyah-nya dan tuntutan dari luar dirinya—lingkungan di mana ia bertempat. Ia mengembangkan karakter sosial dengan mengembangkan dan memenuhi harapan-harapan masyarakat.
    Fromm menyebutkan dan menjelaskan limat tipe karakter sosial yang ditemukan dalam masyarakat dewasa ini; reseptif, eksploitatif, penimbunan, pemasaran dan produktif. Tipe-tipe tersebut menggambarkan cara-cara berbeda manusia dalam berhubungan dengan dunia atau dengan sesamanya. Hanya saja, tipe terakhir—produktif—merupakan sesuatu yang dianggap sehat dan merupakan perwujudan dari apa yang disebut Karl-Marx sebagai “free conscious activity”.
    Setiap individu tertentu merupakan campuran dari kelima tipe atau orientasi terhadap dunia ini, meskipun satu atau dua orientasi mungkin lebih menonjol daripada yang lainnya. Jadi, seseorang mungkin bertipe penimbunan-produktif atau bertipe penimbunan-tidak produktif. Tipe penimbunan produktif bisa digambarkan dengan orang yang mengumpulkan tanah atau uang agar bisa lebih produktif. Sedangkan yang lainnya, seseorang menimbun tanah atau harta hanya sekedar menimbun tanpa ada kemanfaatan bagi masyarakatnya.
    Selanjutnya, Fromm menambahkan pasangan tipe keenam; nekrofilus (orang yang tertarik kepada kematian) versus biofilus (orang yang mencintai kehidupan). Fromm merumuskan bahwa konsepnya mengenai hal ini berbeda dengan konsep insting kematian atau untuk hidup yang digagas oleh Freud. Pada konsep Fromm hidup adalah satu-satunya potensi primer, sedangkan kematian hanyalah sekunder dan hanya muncul bila daya-daya kehidupan dikecewakan. Berbeda dengan Freud, bahwa baik insting hidup maupun insting mati adalah inheren dalam biologi manusia.
    Seharusnya anak-anak dibentuk karakternya cocok dengan kebutuhan-kebutuhan masyarakatnya, sehingga ia memiliki fungsi dan peranan dalam strata sosial. Tugas bagi orang tua dan pendidik adalah membuat agar anak ingin bertindak sebagaimana ia harus bertindak jika suatu system ekonomi, politik, dan sosial tertentu dipertahankan.
    Penciptaan tuntutan-tuntutan terhadap manusia yang bertentangan dengan kodratnya, akan menjadikan manusia sesat dan frustasi. Masyarakat justru mengasingkan dirinya dari ‘situasi manusiawi-nya’ dan tidak memberinya kesempatan untuk memenuhi jawaban dari kondisi-kondisi dasar eksistensinya. Dan Fromm juga tidak ragu-ragu mengemukan proposisi bahwa seluruh masyarakat sakit jika ia gagal memuaskan kebutuhan-kebutuhan dasar manusia.
    Selain itu, Fromm juga mengemukan bahwa bila masyarakat berubah secara mendasar, sebagaimana ketika terjadi feodalisme berubah menjadi kapitalisme atau ketika system pabrik menggeser tenaga tukang, perubahan semacam itu akan mengakibatkan perubahan-perubahan dalam karakter sosial manusia. Struktur karakter sosial lama tidak cocok untuk masyarakat baru—keadaan akibat perubahan mendasar tadi, sehingga manusia merasa kesepian dan putus asa. Seseorang merasa tercerabut dari ikatan-ikatan tradisional dan akan merasa kehilangan sebelum ia mampu mengembangkan akar-akar dan relasi baru. Selama masa-masa transisi semacam itu, seseorang menjadi mangsa dari segalam macam obat yang menjanjikan perlindungan dari kesepian.
    Sebenarnya keprihatinan Froom mengenai persoalan hubungan seseorang dengan masyarakat. Dan ia selalu kembali kepada persoalan tersebut. Fromm sangat yakin akan kevalidan dari proposi-proposisi berikut ini:
    1.      Manusia memiliki qadrat esensial bawaan
    2.      Masyarakat diciptakan manusia untuk memenuhi qadrat bawaan ini.
    3.      Tidak satu pun bentuk masyarakat yang terbentuk mampu memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar eksistensi manusia.
    4.      Manusia lah yang menciptakan masyarakat semacam itu.
    Kemudian, masyarakat seperti apakah yang dianjurkan oleh Fromm?

          …di mana manusia berhubungan satu sama lain dengan penuh cinta, di mana ia berakar dalam ikatan-ikatan persaudaraan dan solidaritas, suatu masyarakat yang memberikannya kemungkinan untuk mengatasi kodratnya dengan menciptakan bukan membinasakan.  Di mana seseorang menemukan dan mencapai pengertian  tentang diri dengan mengalami dirinya sebagai subjek dari kemampuan-kemampuan bukan dengan konformitas, di mana terdapat suatu system orientasi… 

    Intinya Fromm mengusulkan masyarakat semacam itu, yang mana setiap masing-masing individu memiliki dan diberi kesempatan yang sama untuk menjadi manusiawi yang seutuhnya. Tidak akan ada kesepian dan perasaan terisolasi, serta tidak ada keputusasaan. Orang-orang akan menemukan tempat yang nyaman karena cocok dengan situasi manusiawi. Masyarakat semacam itu akan mewujudkan tujuan Marx untuk menstransformasikan keterasingan orang dalam system pemilikan pribadi menjadi kesempatan untuk merealisasikan diri sebagai manusia sosial yang aktif dan  produktif dalam bersosialisasi.
    Fromm mengadatan penelitian untuk menguji teorinya di sebuah desa di Negara Meksiko (1957). Untuk menguji tentang karakter sosial. Ia melatih interviu-interviu berkebangsaan meksiko untuk melakukan wawancara secara mendalam dengan sebuah kuesioner yang dapat diinterpretasikan dan diskor berdasarkan variable-variabel motivasi dan karakter yang penting. Kuesioner ini dilengkapi dengan Rorschac Ink Blot Method, untuk mengungkapkan secara lebih mendalam sikap-sikap, perasaan-perasaan, dan motif-motif yang direpresikan. Pada tahun 1963 data telah selesai dikumpulkan. Pada penelitiannya tersebut dapat diterbitkan pada tahun 1970.
    Ditemukan tiga tipe karakter sosial pokok; penimbunan produktif, eksploitatif-produktif dan reseptif-tidak produktif. Karakter pertama tersebut mencangkup para tuan tanah, yang kedua meliputi para pengusaha dan terakhir melingkupi para buruh miskin. Karena orang-orang dengan struktur karakter yang serupa cenderung kawin mengawini maka ketiga tiper itu membentuk struktur klas yang agak kaku di desa tersebut.
    Sebelum pengaruh teknologi dan industrialisasi menjangkau desa tersebut, hanya teradapat dua klas penting;tuan-tuan tanah, dan petani-petani. Tipe eksploitatif-produktif merupakan penyimpangan. Akan tetapi, inilah tipe yang mengambil inisiatif menyediakan hasil-hasil teknologi untuk para warga desa. Oleh Karena itu, mereka menjadi lambang kemajuan dan pemimpin masyarakat.  Mereka menyediakan hiburan murah yang berupa film, radio, televisi dan barang dagangan buatan pabrik. Akibatnya, petani-petani tersebut tercerabut dari nilai-nilai budaya tradisional mereka tanpa memperoleh banyak keuntungan materi yang diciptakan oleh masyarakat teknologis. Mutu perolehan mereka berubah menjadi lebih rendah dibanding dengan apa yang mereka miliki sebelumnya: festival-festival digantikan dengan gambar-gambar hidup, orkestra setempat digantikan dengan radio, pakaian tenun-tangan digantikan dengan pakaian jadi pabrik. Termasuk juga perabotan rumah-tangga buatan tangan, digantikan dengan produk pabrik masal. Akan tetapi, fokus utama dalam penelitan ini adalah untuk menjelaskan tesisnya yang menegaskan  “karakter (kepribadian) memperngaruhi dan dipengaruhi oleh struktur sosial dan perubahan sosial”.[3]
    Mencintai Sebagai Seni
    Banyak yang mengatakan, bahwa cinta penting bagi orang tua terhadap anaknya. Usia lebih muda sedikit mengatakan secara berbeda, “Tanpa cinta hidup kita tidak lengkap rasanya”. Banyak dari kalangan psikolog mengabaikan cinta, sebaliknya aliran humanistik dan pendekatan eksistensial lebih berpusat pada cinta. Kemudian, bagaimanakah tindak lanjut dari cinta?
    Menurut Fromm, cinta adalah jawaban dari segala macam persoalan dan pertanyaan yang tidak terjawab—eksistensi manusia. Ia mengatakan bahwa cinta adalah seni, yang membutuhkan pengetahuan, usaha dan pengalaman. Ia bukanlah keadaan yang semu dan tidak memiliki arti atau pun makna apa-apa. Kapasitas untuk mencintai harus diimbangi denga kerendahan hati dan disiplin diri. Olehnya, maka cinta dapat mengatasi keterasingan diri dari orang lain, tetapi tetap menjaga integritas individual diri seseorang.
    Cinta yang dimaksud tidak akan ada tanpa adanya kepribadian yang dewasa dan produktif. Sehingga, Fromm menggunakan pendekatan tentang manusia yang sehat dan utuh (manusia yang manusiawi) adalah melalui “karakter-produktif”, yang melampaui konteks biologis dan masyarakat dan yang menggunakan otaknya untuk mencintai dan berkreasi dalam cara manusia yang unik.
    Kekawatiran Fromm pada masyarakat modern adalah ditakutkan seseorang merasa terasingkan dari lingkungannya, alamnya bahkan oleh dirinya sendiri. Seringkali yang tidak disadari adalah ketidakadaan kesadaran mengenai kebutuhan-kebutuhan masing-masing individu dalam mencapai transendensi dan kesatuan. Dan parahnya, seringkali seseorang menutupi keterasingan dirinya dengan ‘bersenang-senang’.
    Jalan keluar dari permasalahan ini, menurut penawaran Fromm adalah seseorang perlu belajar bersabar, berkonsentrasi dan hidup secara aktif di masa kini. Ironisnya, walau pun manusia semakin mendapatkan kebebasan dewasa ini seiring berjalannya waktu, seseorang semakin merasa cepat bosan dan kesepian. Jika ia tidak melawan rasa kesepian dan isolasi ini dengan cara melakuan hal yang bermakna—bekerja dengan penuh kasih, menolong orang lain, justru akan menyebabkan dirinya mencari jalan sebaliknya. Yaitu, melarikan diri dari kebebasan dengan menyerahkan diri pada seorang diktator atau pada kekuatan otoriter lainnya.
    Fromm tentunya akan merasa terganggu dengan masyarakat yang menggantikan kegiatan tradisional dengan acara-acara televisi: di mana masyarakat melepaskan tradisi budaya demi keinstanan. Di mana masyarakat lebih memilih menghabiskan uangnya untuk perjalanan wisata dibanding menyumbangkannya kepada orang yang sangat membutuhkannya. Menurut prediksinya, masyarakat dengan karakter sosial demikian akan menyebabkan terasingkan, tidak saling mencintai, dan tidak utuh, di mana mereka mungkin terpancing oleh daya tarik pemerintahan totaliter.[4]
    Bukti Pendukung Pendekatan Fromm? Masa Kecemasan
    Bukti pemikiran Fromm terutama berasal dari analisis terhadap kultur dan sub-kultur, alih-alih analisis terhadap individu. Bagaimana kepribadian orang dalam masyarakat yang egois, individualis, dan opurtunis berbeda dengan kepribadian orang dalam komunitas yang dipenuhi dengan rasa kasih-sayang, kebersamaan, saling menghormati dan nilai-nilai spiritual. Pada tingkat yang lebih rendah dari itu semua, apakah kepribadian orang diajarkan untuk mencintai, menghormati, dan berbaiksangka terhadap orang lain bertentangan dengan kepribadian orang yang diajarkan untuk melawan etika dan mengeksploitasi orang lain.
    Berkaca pada bukti yang terdapat pada masyrakat barat. Misalnya, apa yang membedakan mahasiswa abad ke-20 dengan mahasiswa pada setengah abad sebelumnya? Selain peningkatan dalam segi bisnis dan kekayaan masyrarakat, tingkat kecemasan pun melonjak drastis. Tidak hanya terjadi pada mahasiswa, anak-anak pun juga ikut menjadi korban. Bahwa sebagian anak pada masa abad ini memiliki tingkat kecemasan menyerupai pasien psikiatri pada tahun 1950-an. [5]
    Psikoanalisis dan Buddhisme Zen
    Fromm menegaskan bahwa buddhisme Zen dan psikoanalisis sama-sama hal yang penting dalam hidup ini, seperti satu hal yang melengkapi hal yang lainnya. Prinsip pencarian hakekat diri, serta kewarasan-kesejahteraan adalah dua kutub yang saling diperdalam oleh keduanya. Mereka berbeda arah, yang satu berasal dari timur, dan yang satu berasal dari barat. Psikoanalisis sebagai anak dari humanistik dan rasional, maka psikoanalsis dan Buddhisme mencoba menjawab pertentangan abad pertengahan mengenai hal-hal yang tidak dapat dijangkau oleh keakalan-rasional diri manusia.
    Keduanya sama-sama menyangkut permasalahan metode atau praktek yang dipergunakan untuk menstabilkan kembali jiwa-jiwa yang tidak sehat. Perbedaan keduanya tampak lebih mencolok dibanding dengan perasamaannya. Yang pertama, psikoanalisis adalah metode ilmiah non-religius. Yang kedua, Buddhisme Zen adalah metode riligius dalam mencari hakekat diri—ketenangan jiwa. Pertanyaannya, mungkinkan kedua hal yang demikian bisa menghasilkan “sesuatu” yang baru? Apakah perlu melakukan transformasi metode non religius, menjadi religius, atau sebaliknya? Lalu, jika bisa, bagaimanakah caranya?
    Sebagaimana sudah menjadi hal yang maklum, cara adalah tingkatan yang lebih mendalam daripada pemahaman. Memahami, belum tentu sudah bisa mempraktekkan “how to” dari pemahaman tersebut, sebaliknya, mengetahui dan bisa mengintegrasikan serta mempraktekkan adalah manifestasi dari pemahaman yang mendalam. Terkait dengan kedua kutub tersebut, perlu sekiranya untuk memperdalam pemahaman dengan mengetahui dan mempraktekkannya dalam batasan tertentu.
    Dalam menggabungkan hal ini, Fromm mencoba mengawali pembahasannya mengenai ketertarikan atau minat para ahli psikoanalisis terhadap Buddhisme Zen, apa manfaatnya dan bagaimana caranya. Dan yang paling penting terutama adalah memahami terlebih dahulu sebelum semuanya dilakukan.
    Perlu kiranya untuk mencari makna tersirat dari apa yang tersurat. Dari berbagai macam catatan yang ditulis Froom perlu dilakukan asimilasi dan akomodasi. Sehingga, kontekstual dari pemikirannya benar-benar menjadi nilai yang utama.[6]
    Krisis Spritual Dewasa ini & Peran dari Psikoanalisis
    Masyarakat modern telah benar-benar memasyarakatkan ketidakberdayaannya terhadap dirinya sendiri. Tidak ada makna yang terungkap, tidak ada tujuan yang mereka cari, selain penuh dengan materialis. “Barat”  yang digemborkan sebagai cerminan masyarakat modern telah mengalami masa transformasi. Yang diawali dengan ketidaksadaran dirinya (malaise) akan kekrisisan kebudayaan. Dan hal tersebut merupakan bagian dari keagamaan. Sehingga, berdasarkan pemahaman mereka bahwa kebudayaan adalah bagian dari kehidupan keberagamaan, maka dapat dikatakan dunia modern—yang dimaksud—sebagai masyarakat yang kemiskinan akan keagamaan (baca: Religius, bukan atheisme).
    Terbukti dengan banyak orang yang justru teralienasi dari dirinya sendiri, alam dan sesamanya. Sehingga, mereka kehilangan makna hidup, kemerosotan hidup—walau material yang dimiliki melimpah.
    Hal di atas tidak hanya diawali dari zaman tersebut, jauh sebelum itu pada masa Rene Descartes (filosof) telah mengatakan bahwa pada masanya manusia telah mendirikan akalnya, sehingga terlepas dari afek (proses mental yang berkaitan dengan; perasaan, emosi, hati nurani dan temperamen). Alhasil, yang terjadi manusia memisahkan dirinya dari kesempurnaan dirinya, padahal kesempurnaan diri adalah tujuan dari agama Yunani. Pemisahan tersebut melikupi menyembahan diri terhadap intelektual, yang mana intelektual (baca: akal) telah menjadi diri, yang menguasai atau mengontrol dirinya. Sehingga, dirinya sudah bisa diatur dengan akal, alam pun tidak luput dari korban dari ke-akal-an akal tersebut. Manusia pada masa Rene sudah dianggap sebagai benda demi mengerjar sesuatu, to be sudah tergantikan menjadi to have. Hal ini bertentangan ungkapan filosofis “bertanyalah pada diri sendiri, apa yang bisa saya berikan hari ini (menyerupai To be), bukan apa yang dapat aku miliki (to have)?” Bukankah seharusnya filosof lebih lebih bijak? Di manakah letak kebijaksanaan mereka jika akal ‘dipertuhankan’?
    Kesalahan dalam menpersepsikan ide-ide yang kurang tepat tentang ketuhanan telah benar-benar terasa akibatnya di zaman sekarang. Menglihat hanya dari satu sisi. Maka, tak salah jika Froom mengatakan;
    “….  Keanggotaan Gereja dewasa ini lebih itnggi dari yang sudah-sudah; buku tentang agama menjadi best sellers, dan semakin banyak orang bicata tentang Tuhan ketimbang sebelumnya. Tapi sebenarnya pengakuan relogius jenis ini Cuma menyelubungi sikap yang sangat materialistic dan tak-religius (!), dan harus dipahami sebagai suatu reaksi ideologis—yang disebabkan oleh rasa tak-aman dan konformisme—terhadap trend abad Sembilan belas, yang dicirikan oleh Nietzshe dengan ungkapan “Tuhan telah mati.” Sikap yang religius benar-benar tidaklah eksis.”
    Maka, manusia telah kehilangan identitas dirinya sebagai makhluk nomer satu dibanding dengan yang lain. Yang seharusnya membangun, tapi yang dilakukan adalah penghancuran. Freud mengutarakan pikirannya bahwa keyakinan diawali dengan ketidakberdayaan diri atas semua yang terjadi, terhadap eksistensi diri, dan usaha yang irrasional. Sedangkan mereka yang dekat; teman, orang tua dan sahabat hanya bisa membantu seseorang dalam batasan tertentu; mendorong (memotivasi) untuk mengerahkan seluruh kemampuan maksimalnya demi suatu usaha, setelah menerima semua tantangan kehidupan. Hanya sebatas itu. Sedangkan, yang menentukan “keberhasilan” terletak diluar batas kemampuannya.
    Masyarakat modern yang semakin teralienasi, kehilangan arah dari hakekat hidup yang sesungguhnya. Serta, ketidakmampuan—ketidakmauan—untuk merealistiskan akalnya sehingga bisa dibersatukan dengan afek. Tanpa makna, tanpa tujuan semata.
    Tak hanya itu, mereka telah menaggalkan Tuhan yang juga merambah pada elienasi diri. Tuhan telah dilupakan, material diagungkan. Tuhan telah ditiadakan, harta yang menghidupkan. Riligius dimarjinalkan, rasionalisme dimeriahkan. Seharusnya, manusia harus menjadi manusia yang religius dengan tetap rasionalis sekaligus menganut realisme. Sehingga, bisa lebih menerima semua yang ada, tidak ada pertentangan bathin di dalam jiwanya, dan objektif terhadap segalanya.
    Yang menjadikan orang barat melekdengan ke-agama-an timur (Buddhisme Zen, Taoisme) adalah mengenai konsep bahwa masing-masing manusia dilahirkan sudah memiliki perangkat sendiri untuk mengatasi semua permasalahan—terutama alienasi hidup. Setiap orang memiliki pencerah dalam hidupnya, dan itu ada di dalam diri masing-masing. Dan anggapan ini benar-benar menggoyangkan pemikir barat. Selebihnya, religius yang rasionalis dan realis. Artinya, nilai-nilai di dalam agama timur tersebut tidak bertentangan rasional, dan tetap realisme independent. Kata kuncinya, pemikiran religius timur cocok dengan rasional pemikiran barat dibanding religius dari barat itu sendirii. [7]
    Penutup
    Mungkin terdengar sentimentil dan kekanakkan untuk membahas salah-satu tema pembahasan Fromm—cinta. Tema ini tetap relevan bagi siapa saja. Karena cinta adalah masalah kualitas kepribadian yang melekat pada diri manusia selama kehidupannya. Baik ketika masih sebagai anak, remaja, dewasa, orang tua, manusia selalu terlibat dengan hubungan cinta. Tinggal selanjutnya ditanyakan: apakah hubungan cinta yang dimilikinya sudah cukup berkualitas?           
    Cinta secara rasional, yang memandang cinta sebagai jawaban atas problem eksistensi manusia. Secara positif, Erich Fromm melihat cinta sebagai persoalan kemampuan yang selalu mensyaratkan adanya kedewasaan dan upaya pengembangan totalitas kepribadian. Cinta dipandang sebagai seni yang harus dimengerti dan diperjuangkan. Ide ini menurut penulis adalah ide yang memberdayakan dan membuat perbedaan dalam hubungan—yang diklaim dilandasi oleh cinta tetapi sebenarnya hanya egoisme diri semata karena sifatnya yang pasif dan “pelarian diri” dari masalah yang dihadapi.         
    Erich Fromm mengatakan, “Cinta adalah jawaban atas problem eksistensi manusia”. Problem apa? Problem keterpisahan manusia. Problem ini timbul karena manusia diciptakan Tuhan sebagai makhluk yang memiliki akal budi, sebagai makhluk yang sadar akan dirinya. Manusia sadar akan dirinya sebagai individu yang terpisah dan hidup dalam ketidakpastian di dunia ini. Manusia sadar bahwa dirinya dilahirkan di luar kemauannya dan akan mati di luar keinginannya. Manusia sadar akan kelemahannya menghadapi kekuatan-kekuatan alam dan masyarakat. Hal-hal ini menjadi sumber kecemasan yang luar biasa sehingga kebutuhan untuk mengatasi keterpisahan dan keluar dari penjara kesendirian, serta mengadakan hubungan dengan manusia lain atau dunia luar menjadi kebutuhan terdalam manusia.    
    Sejarah umat manusia telah menunjukkan usaha-usaha manusia mengatasi problem eksistensial ini. Jawaban yang ditawarkan antara lain adalah seperti penenggelaman diri dalam kegiatan orgiastik, alkoholisme, komformitas kelompok, dan tindakan kreatif. Menurut Erich Fromm, kegiatan-kegiatan tersebut memang dapat mengatasi rasa keterpisahan, tetapi sifatnya sementara dan parsial. Jawaban yang lengkap untuk mengatasi problem eksistensial untuk pencapaian kesatuan interpersonal yang diharapkan adalah dengan apa yang sering disebut sebagai cinta.    Cinta yang bagaimana yang merupakan jawaban problem eksistensial itu? Menurut Erich Fromm, cinta tersebut haruslah merupakan hubungan kesatuan dengan sesuatu atau seseorang di bawah kondisi saling tetap mempertahankan integritas dan individualitas masing-masing. Cinta ini berbeda dengan bentuk-bentuk cinta yang tidak dewasa yang disebut kesatuan simbiosis yang merupakan peleburan diri tanpa integritas dimana terjadi “ketergantungan” yang membuat seseorang tidak bisa hidup tanpa orang lain. Untuk dapat mempertahankan integritas dan individualitas, seseorang mesti memiliki kedewasaan dalam mencintai.     
    Untuk memahami cinta yang dewasa, pertama-tama perlu dipahami bahwa cinta merupakan sebentuk “aktivitas” yang mensyaratkan adanya kebebasan. Dalam mencintai, manusia haruslah menyadari objek motivasinya. Motivasi yang berupa nafsu seperti rasa iri, cemburu, hasrat, dan segala bentuk ketamakan akan membuat manusia berada dalam kondisi “dikendalikan”. Manusia harus membebaskan dari semua ini, menjadi seorang yang aktif, dan menjadi tuan dari kemauan-kemauannya sendiri. Karakter aktif dari cinta dijelaskan dalam pernyataan bahwa cinta pertama-tama adalah persoalan memberi, bukan menerima.
    Kemampuan mencintai sebagai tindakan memberi berarti seseorang telah mampu mengatasi ketergantungan dan kuasa narsistiknya, sebentuk keinginan untuk mengeksploitasi atau menimbun, sehingga tidak takut untuk memberikan dirinya dan tidak takut untuk mencintai. Bagi orang dengan karakter produktif, tindakan memberi adalah bentuk ekspresi tertinggi dari potensi yang ada di dalam diri mereka. Memberi telah menjadi tindakan yang lebih memuaskan dan lebih menggembirakan ketimbang menerima dan mencintai juga menjadi sesuatu yang lebih penting ketimbang dicintai.
    Cinta juga selalu memuat elemen dasar tertentu berupa perhatian, tanggung jawab, penghargaan, serta pemahaman. Cinta memuat perhatian (care) berarti bahwa dalam mencintai, kita haruslah memberikan perhatian aktif terhadap kehidupan serta perkembangan dari yang kita cintai. Hal ini tampak jelas misalnya dalam cinta ibu terhadap anaknya. Klaim bahwa ibu mencintai anaknya akan diragukan jika ibu tersebut terlihat tidak peduli dan mengabaikan anaknya. Hakikat cinta adalah berusaha demi sesuatu dan membuat sesuatu itu tumbuh.
    Aspek selanjutnya dari cinta adalah tanggung jawab (responsibility). Bertanggung jawab disini berarti mampu dan siap untuk “merespon”. Maksudnya adalah bahwa kehidupan yang kita cintai bukan hanya menjadi persoalan dirinya, tetapi juga merupakan persoalan kita, tanggung jawab kita. Kita ikut bertanggung jawab atas kehidupan orang yang kita cintai sebagaimana kita bertanggung jawab atas diri kita sendiri.
    Tanggung jawab dapat menjadi dominasi dan pemilikan jika tidak disertai komponen yang ketiga, yaitu penghargaan (respect). Penghargaan disini berarti kemampuan untuk melihat seseorang sebagaimana adanya, dengan menyadari segala keunikan yang ada dalam diri orang tersebut. Penghargaan berarti memperhatikan orang lain agar dia tumbuh dan berkembangan sesuai dengan dirinya sendiri. Sosok yang dicintai dibiarkan tumbuh dan berkembang dengan caranya sendiri dan demi kepentingannya sendiri, bukan dipaksa berkembang demi hasrat dan ambisi orang yang mencintai. Jika kita mencintai, kita merasa menyatu dengan orang tersebut seperti apa adanya.
    Untuk dapat melakukan ketiga aspek sebelumnya dengan baik, cinta juga harus memiliki aspek yang keempat, yaitu pemahaman atau pengetahuan (knowledge). Pemahaman disini adalah pemahaman yang mendalam yang sanggup menembus inti persoalan. Pemahaman semacam ini hanya mungkin jika kita dapat melampauhi perhatian atas diri sendiri untuk kemudian melihat orang lain sesuai dengan konteksnya sendiri. Dalam cinta, kita hanya bisa mengetahui lewat pemahaman atas apa yang hidup dalam diri manusia – dengan cara mengalami kesatuan, bukan melalui pengetahuan yang diberikan oleh pikiran.
    Elemen-elemen cinta di atas, perhatian, tanggung jawab, penghargaan, dan pemahaman, merupakan elemen yang saling terkait dan hanya bisa dilakukan oleh pribadi-pribadi yang matang, yang mampu mengembangkan kekuatan manusiawinya secara produktif, pribadi yang hanya mau memiliki apa yang dia usahakan sendiri, pribadi yang telah mencapai kerendahan hati yang bersumber dari kekuatan batin.
    Hal lain yang ditekankan oleh Erich Fromm dalam cinta adalah bahwa cinta bukan soal hubungan dengan seseorang atau sesuatu, tetapi merupakan suatu orientasi karakter yang menentukan hubungan seseorang dengan dunia secara keseluruhan – bukan hanya terhadap objek tertentu. Cinta tidak dapat dilepaskan dari wilayah sosial. Jika kita mencintai seseorang tetapi tidak memiliki kepedulian terhadap orang lain, maka hal itu tidak layak disebut cinta melainkan hanya suatu ikatan simbiosis atau sebentuk egoisme yang diperluas. Jika kita benar-benar mencintai seseorang, maka kita mesti mencintai semua orang, mencintai dunia ini, mencintai kehidupan. Tanpa hal tersebut, maka problem keterpisahan akan tetap ada karena meskipun kita memperoleh pengalaman mengatasi keterpisahan, karena kita sendiri terpisah dari orang lain maka kitapun tetap saling terpisah dan terasing dari diri kita sendiri.


    [1]Howard S. Friedman & Miriam W. Schustack, Kepribadian Teori Klasik dan Riset Modern, (Jakarta: Penerbit Erlangga, 2006), 336.
    [2] Ibid.340.
    [3]Calvin S. Hall & Gardner Lindzey, 255-263
    [4]Howard S. Friedman & Miriam W. Schustack, Kepribadian Teori Klasik dan Riset Modern, (Jakarta: Penerbit Erlangga, 2006),  338.
    [5]Ibid.,339.
    [6] Ibid.,341.
    [7]Budhisme Zen dan Psikoanalisa

    915 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *