Dunia Imajinasi dan Realita

    Kalau saja kamu perhatikan dunia di sekelilingmu, ada dua
    kemungkinan  jenis pikiran di dalam diri seseorang.
    Pikiran yang ‘pasti’ tanpak nyatanya, atau sebatas pada ‘dunia’ angan-angan. Beberapa
    motivator menandai dunia imajinasi ini dengan dunia impian, bahkan Albert
    Einstein menyebutkannya menjadi mutiara berharga yang ada did alam diri
    individu. Mengalahkan kecerdasan hakiki seorang manusia. Dunia nyata, dunia
    yang kurang mendapatkan perhatian.
    Tak ada yang tak berimajinasi, kecuali orang yang tak akan
    mampu menyesuakan diri dengan kehidupan nyata. Dengan imajinasi, dunia ini
    dibangun sedemikian rupa, setinggi langit bahkan menjadi lebih indah. Semua berkat
    imajinasi yang ada di dalam diri manusia. Kota Djakarta yang pernah dipimpin
    oleh seorang Seniman Lukis pada zaman kepresidenan Ir. Soekarno telah mewujudkan
    tata letak kota yang sedemikian.
    Di lain sisi, orang enggan untuk berfikir dan berimajinasi. Karena
    biasanya, terlalu banyak menghayal tak akan banyak memberi perubahan. Setidaknya,
    imajinasi ditafsirkan berarti juga berkhayal, berangan-angan tanpa tindakan. Hal
    ini yang ditentang oleh orang-orang yang tidak menyetujui adanya imajinasi. Jika
    demikian, manakah yang lebih baik, berimajinasi kah atau berfikir dalam dunia
    nyata?
    Albert Ellis menyatakan bahwa pikiran, perasaan dan perilaku
    irrasional disebabkan oleh ketidakbisanya seseorang membedakan antara dunia
    realita dan dunia imajinasi. Hal ini yang kemudian menjadikan seseorang sedih,
    menuntut diri secara berlebihan, sedikit usaha, sering menyalahkan diri sendiri
    merasa seolah menjadi orang yang paling tidak sukses di dunia. Perasaan irrasional
    tentu saja akan mempengaruhi sikapnya, dan akhirnya perilakunya pun ikut-ikutan
    menjadi perilaku-irrasional. Misalnya ingin bunuh diri akibat frustasi yang
    berkepanjangan—frustasi dari pikiran yang penuntut diri secara berlebihan namun
    tak tercapai.
    Beberapa tokoh aliran humanis juga menyetujui hal senada di
    atas, pikiran yang terlampau keluar dari “saat ini” dan “di sini” akan
    mederita. Mengapa? Karena seseorang tak lagi berfikir secara realita, berfikir
    apa adanya.  Akibat masa lalu, banyak
    waktu terbuang oleh remaja yang seharusnya digunakan untuk belajar. Akibat masa
    depan yang terlalu tak realistis, usaha sedikit tak banyak memberi perubahan
    akhirnya frustasi. Maka tak salah, bila Alfan Pradiansyah dalam bukunya “tujuh
    kunci kebahagiaan hidup” menyatakan, untuk bahagia seseorang perlu berfikir
    saat ini dan apa yang ada di sekelilingnya—tak perlu terbayang-bayang.
    Penulis sendiri justru tak dapat melerai keduanya, antara
    siapa yang setuju terhadap dunia imajinasi atau yang setuju dengan dunia
    realita.  Karena pada dasarnya, setiap
    individu lahir dengan keunikannya sendiri. Sudah fitrah, bila ia lahir dengan
    kecenderungan irrasional atau pun rasional. Tak mungkin seseorang bisa lepas
    dari dunia jenis kategori ini. Pasti ada kalaunya berimajinasi berlebihan
    (irrasional) atau pun dalam dunia nyata (rasional).
    Sebagai catatan, justru batas-batas imajinasi itulah yang
    menjadi masalah. pikiran irrasional sebagai akibat seseorang tak dapat berfikir
    realistis, berimajinasi secara berlebihan sehingga terlalu nyaman dengan dunia
    tesebut. Namun, tak salah kita tetap berimajinasi namun tak terlampau jauh
    keluar dari dunia realita. tak salah bila kamu bercita-cita membuat rumah dan
    tinggal di Planet Mars misalnya, tapi apakah yang demikian realistis. Tidak
    kan?
    Syaikh ibn. Athaillah Assakandary dalam kitab alhikamnya
    memperingati kita bahwa “bagaimana pun kerasnya usaha kita, kuatnya langkah
    kita, hal itu belum cukup mampu melewati setengah dari takdir kehidupan kita.” So,
    kita tak lagi perlu memikirkan “akan menjadi apa nantinya,” kita hanya
    memerlukan “berusaha dan melangkah lebih baik—tak harus sempurna.”

    611 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    2 tanggapan untuk “Dunia Imajinasi dan Realita”

    1. Cie… iya.. yuk saling belajar. Menulis itu ngga harus keren, namun berusaha untuk selalu lebih baik setiap harinya… sip,. Sanjunganmu memberikanku dorongan untuk terus menulis. Terimakasih banyak ya..

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *