asada

Dua Minggu “Ngapain” Saja

    Masih banyak yang terjerumus ke dalam penyesalan yang sama,
    masalah pemanfaatan waktu. Terutama saat waktu itu telah berlalu, dan kemudian
    hilang tak pernah kembali. Cukup ganjil, sudah jelas pengalaman berperan
    sebagai guru terbaik. Dan nyatanya, menghormati “guru” tersebut tak betul-betul
    menjadi prioritas. Bagaimana lagi! tanggung sendiri akibatnya. Di sini, mengapa
    seorang belajar hanya mendapatkan pemahaman, bukan pemahaman yang menggerakkan
    dirinya.

    Siapa pun orangnya, hilangnya penghormatan terhadap esensi
    pelajaran dari pengalaman membuatnya terbuai. Kalaupun mereka diperbolehkan
    jujur, lebih baik mencari kenyamanan dan keamanan. Sayangnya, mereka tak
    benar-benar memahami “manisnya” menghormati guru terasa saat perilaku sudah
    berada dalam koridor nilai-nilai pembelajaran sejati. Awalnya memang terasa
    berat dan pahit, akhirnya manis tak tertandingi.

    Saat itu saya sedang praktek PPL di sekolah yang telah
    dipilih, dekat dengan kampus saja. Sempat kaget, saat perbincangan dengan guru
    di ruang khusus mengatakan seperti ini; “emangnya
    dua minggu kemarin ngapain aja, masak hanya mendapatkan gambaran dan latar
    belakang masalah saja.”
    Kami merasa malu, dibuatnya tertunduk tersimpuh. Tapi
    beginilah kenyataan rill dari kekurang-profesionalan kami dalam bertugas.
    Kita tak tahu mengapa. Kecenderungan bermalas-malasan tak
    semudah membuang sampah. Perlu perjuangan dan pengorbanan. Sebenarnya, apa yang
    dicari orang pada umumnya? Bila kesenangan dan kebahagiaan tiba setelah kerja
    keras, mengapa sebagian besar lebih dominan mencicipi kesenangan di awal, dan
    meninggalkan pahitnya di belakang? Sehingga, di sini muncullah penyesalan.
    Satu statemen untuk hal ini; kecenderungan bermalas-malasan
    sepadan dengan kecenderungan ‘konsumtif’ 
    pada masyarakat kita. Apa yang dianggapnya kerja keras, harus selalu ‘terbayarkan’
    dan ‘dirasakan’. Lebih cepat, maka lebih baik. Sebelum keringat mengering,
    kenikmatan dari hasil jerih payah harus bisa dirasakan. Konsepsi seperti ini
    berarti memposisikan “hak” dibanding kewajiban.
    Wajibnya kerja dan usaha, haknya mendapatkan hasilnya. Sebenarnya,
    dengan mempercepat kerja, dan memperlambat penuntututan akan hak, di sini kondisi
    ‘ideal’. Sehingga, dalam melakukan sesuatu tidak ‘semata-mata’ karena ingin
    sesuatu—imbalan. Namun yang terpening, pemanfaatan waktu dengan sebaik mungkin.
    “jangan mau ngga ngapa-ngapain, kalau waktu tak pernah kompromi memberi nasib
    baik kepada kita.”
    Sesuatunya bila semakin segera dilakukan, semakin banyak
    usaha dikerahkan, maka semakin bagus hasilnya. Lebih mencicipi manisnya yang
    berlipat di akhir nanti walau awalnya teras berat, daripada mencicipi manis
    sedikit demi sedikit namun di akhirnya tak merasakan manisnya sama sekali. Nah,
    “konsep ngapain aja kemarin” perlu diintegrasikan. Melihat masa lalu, agar ke
    depannya semakin sigap dalam menghadapi waktu luang.
    “ngapain” berarti mempertanyakan “sejauh mana—kualitas dan
    kuantitas—seseorang berhasil melakukan—proses—sesuatunya? “Ngapain saja kamu
    kemarin”; artinya mempertanyakan dan meragukan seberapa berkualitaskah “proses
    dan usahanya”. Sehingga, dengan melihat ngapain saja di waktu kosong—pada waktu
    lalu—kita menjadi sadar dan tersentak, membandingkan kondisi riil dan kondisi
    yang ‘diharapkan’.
    Itu artinya, semakin kesadaran waktu luang dirasakan,
    semakin berkualitaslah kita mempergunakan waktu sebaik mungkin. Implikasinya,
    waktu yang dipergunakan efektif. Dan sekali lagi, berfikirlah jika saja kita
    melakukan sesuatu di waktu luang, mungkin kita sudah mendapatkan sesuatu. Yang mana,
    hal tersebut dibandingkan dengan keadaan riil waktu sekarang yang bertentangan
    dengan kondisi harapan. 

    Imam al-Ghazali pernah ditanya, “apakah yang paling dekat dan yang paling jauh dari kita?” dengan
    santainya beliau menjawab, sesuatu
    yang paling dekat dengan kita ialah kematian, dan sesuatu yang paling jauh dari
    kita ialah masa lalu”. Sesungguhnya, di sini al-Ghozali mengajarkan bahwa waktu
    yang telah berlalu tak akan pernah bisa kita kejar, mendekatinya saja tak
    mungkin, apalagi mendapatinya!

    Dan selanjutnya, sesuatu yang paling dekat adalah kematian. Itu
    artinya, hidup terlena dalam bayangan masa depan membuat seseorang “lupa”. Apa yang
    seharusnya dilakukan di masa sekarang. Orientasi “kekinian” dalam bekerja
    seharusnya lebih dikedepankan. Bila orientasinya masa depan, seseorang mungkin
    semangat full, tapi sayang! Kerjanya tak
    memiliki ruh dan tak bermakna. Akibatnya, bila kemudian tahu tahu hasilnya
    tidak sesuai harapan, yang terjadi ialah “frustasi”.
    Maka sebenarnya, hidup dalam tataran “kekinian” dan “di sini”
    adalah kunci. Yaitu untuk menikmati hidup yang sekaligus menghapus khayalan
    indrawi. Dan lebih mementingkan kualitas bagaimana menjalani hari demi hari. Menghilangkan
    kecenderungan banyak bercita-cita dan berkeinginan tanpa mau berusaha.

    200 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    7 tanggapan untuk “Dua Minggu “Ngapain” Saja”

    1. @Hilda Ikka : wah,… terimakasih ya udah memberikan testimoni. semoga menjadi keberkahan sendiri bagi pencerahan dan semangat saling berbagi hikmah kepada sesama.

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *