Dorongan

    Bersama
    Prof. Dr. Fandy Suhariadi, MT., Psi.
    Dalam
    seminar “Perubahan Produktivitas”
    Dalam
    pepatah arab disebutkan, “Seorang budak cukup dipukul sedangkan seorang yang
    merdeka cukup dengan isyarat.”  Ini
    menjelaskan, kinerja seorang budak memerlukan perintah. Namun, terkadang malah
    bersikap ogah saat diperintah, karenanya ia dipukul. Berbalik dari hal
    tersebut dengan orang yang merdeka. Ia cukup diperintah, dan melaksanakan
    dengan sebaik-baiknya.
    Beberapa
    orang terkadang tidak bisa berubah, karena terlalu memanjakan dirinya.
    Kehidupan sejatinya perlu penekanan. Karena nafsu yang bekerja di dalamnya
    selalu menyeret kepada kesedihan di akhirnya; semacam penyesalan. Dengan kata
    lain,” bila hidup membebanimu, itu berarti kamu bersikap lunak padanya.
    Sebaliknya, hidup itu harus kau hadapi, dan harus dilawan. Sehingga, ia menjadi
    lunak padamu.”
    beberapa
    dorongan yang membuat seseorang berubah; karena keadaan kompetisi, keadaan
    lingkungan yang menuntut, dan teknologi. Lihatlah, bagaimana pertumbuhan rakyat
    Indonesia yang semakin hari semakin bertambah. Diprediksikan pada tahun 2020
    penduduk bumi yang subur ini mencapai 300 juta manusia. Tentu, sebelum keadaan
    ini bila tidak segera diantisipasi menyebabkan kerepotan di sana-sini. Harus
    siap sedia. Dan tidak bisa tidak, keadaan ini yang memaksa kita untuk berubah.
    Dalam
    upaya menuju purubahan, kedudukan waktu menjadi sangat penting. Ketika bukan
    hanya tertinggal, justru terbelakang dari yang terbelakang. Mengejar sudah tak
    mungkin, maka harus dilakukan lompatan ke depan. Caranya, menjadikan setiap
    waktu istiqomah lebih baik dari waktu yang telah lalu. Jelasnya, hari sekarang
    tidak boleh sama dengan hari yang telah lalu, apalagi lebih buruk. Naudzubillah..
    Dan
    yang lebih parah lagi, bila seseorang ternyata 
    ‘merasa’ nyaman dengan kehinaannya, dengan jajahan oleh sang waktu,
    dengan takdir kerendahannya. Termasuk, nyaman akan kekosongan waktunya. Bila
    sudah begini, bagaimana mau bisa berubah. Padahal, perubahan diawali dari niat
    yang baik dengan disertai “kemauan”. Bila sudah ada hal tersebut, jalan kan
    terbuka. Where there is will there is way”.
    Diri
    sendiri tak lebih tembok terberat, baru kemudian waktu. Menunda berarti membuat
    tembok tersebut semakin kokoh. Sehingga menyulitkan diri sendiri.  Kesulitan menghadapi diri sendiri teratasi
    dengan menumbuhkan “kebutuhan” akan sebuah “perubahan”. Untuk apa kita sekolah
    jauh-jauh, mahal-mahal dan pada akhirnya tak bertanggungjawab. Untuk apa
    belajar ke Negeri Paman Sam bila pada akhirnya hanya menghabiskan banyak waktu
    dan energi?  Segeralah bergerak dari
    sekarang, sebelum disikat oleh para pendahulu kita.
    Dan
    akhirnya, bila suatu keinginan tanpa dilandasi oleh kebutuhan, ia akan menjadi
    tersendat. Bahkan, bilang tak teruruskan. Karenanya, landasi setiap apapun
    dengan niat yang baik, kemauan dan kebutuhan serta digerakkan dengan 3M: mulai
    dari sekarang, mulai dari hal yang terkecil, dan mulai dari diri sendiri.

    760 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *