Do More Talk Last

    Seseorang
    akan mendapatkan dari apa yang diusahakannya dan dari yang telah dikerjakannya.
     Dongeng-dongeng keajaiban hanya berlaku
    untuk sebagian kecil orang saja, selebihnya kita adalah “sama ratanya” dengan
    yang lain. Tak perlu lagi berangan-angan, kekosongan di dalamnya tentu saja
    sangat membahayakan.  Kalau kita tak
    berbuat, berarti kita membiarkan situasi berbuat untuk diri kita sehingga kita
    terbentuk menjadi seorang yang malas. Bila kita kosong, maka tak mungkin
    berisi. Kekosongan dan keberisian tidak sekaligus berkumpul menjadi satu.
    Untuk
    itulah, marilah kita sadari penting akan guna “berbuat”. di sini, kita akan
    merasakan begitu indahnya berbuat, lalu mendapatkan hasil darinya. Tidak
    bermimpi di siang bolong, dan hampa dari mencoba melakukan sesuatu. Dalam
    keberbuatan, selain ada kefokusan kita menjadi percaya diri ternyata kita mampu
    melakukan apa yang seharusnya dilakukan. Tidak sia-sialah diri, karena merasa
    sangat berguna dan bermanfaat khususnya terhadap diri sendiri.
    Dalam
    kependiaman yang ada, seseorang akan lebih mudah mencela dirinya akibat waktu
    kosong. Ya, waktu yang tak terisi akan diisi oleh pikiran dan perasaan yang
    menghancurkan. Mengapa kegalauan lebih mudah menjangkit anak muda, dibanding
    dengan mereka yang pekerja. Karena waktu kosonglah yang menjadikannya demikian.
     Apalagi bila membiarkan diri dengan
    keadaan begitu, niscaya kegalauan akan terjadi.
    Kunci
    agar kau tidak tersiksa oleh pencelaan diri yang tak tertahankan. Cobalah
    beranikan diri berbuat sesuatu semaksimal mungkin. Lakukan apa yang dianggap
    mudah dan bisa diperbuat, yaitu apa yang diyakini mampu untuk dilakukan bukan
    menuntut diri berlebihan. Mengalirlah saja seperti air, bahwa kemampuan yang
    diyakini pada akhirnya akan memberi suatu rasa kuat bahwa kita menjadi pribadi
    yang berguna.
    Pikirkan
    dalam diri kita terdalam, kiranya hal apa yang menjadi kelebihan diri
    masing-masing. Indikator dari ini bisa jelas dilihat; apa yang sering
    dilakukan, kita senang dalam melakukannya, dan kita begitu menikmatinya
    walaupun menghabiskan banyak waktu. Bagaimana? Setelah hal tersebut ditemukan,
    cobalah buat tujuan yang jelas dan target yang realistis. Sebut saja target
    bulanan dan mingguan. Di setiap hari, gunakanlah waktu sebaik mungkin dengan
    memprioritaskan jadwal kerja harian. Hal ini bisa dilakukan dengan meretas
    agenda mingguan menjadi lebih spesifik;agenda harian.
    Mengapa
    ini penting, coba pikirkan dan sedikit menjajaki waktu lalu. Rata-rata, apa
    yang kita miliki sekarang semata-mata karena upaya di masa lalu, bukan
    mengikuti keinginan diri terhadap kesenangan. Bila kita senang-senang, apa yang
    didapatkan? Tak ada yang didapatkan melainkan sebuah ‘perasaan’ yang semu. Tak
    akan pernah menjadi abadi, moment tersebut terkisah sampai detik ini hanya
    sebagai “kenangan” masa lalu. Rupanya, justru dengan melakukan apa yang
    semestinya dilakukan bukan melakukan ‘hanya’ karena disenangi kita akan
    memperoleh hasil di kemudian hari.

    Namun,
    lebih dari itu menyenangi apa yang seharusnya dilakukan adalah satu hal pokok.
    Point meningkatkan bagaimana kesetian kita terhadap suatu impian yang luhur. Nah,
    dengan begitu mood yang terkadang menjadi alasan ‘mengapa berbuat’ sudah
    bisa teratasi. Kendatipun demikian, mood bukanlah satu-satunya pertimbangan
    mengapa kita harus melakukan, itu hanya sebagai “salah satu” penggerak dari
    emosi kita melakukan sesuatu. 

    720 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *