Al-amien

Disiplin

    “Jika Anda tidak menaklukkan diri sendiri, Anda akan ditaklukkan oleh kesenangan pribadi”
     (Napoleon Hill)

    Tahukah kamu dengan para penakluk alam, lebih mudahnya kita sebut dengan penjelajah alam. Berhari-hari mereka menyusuri alam untuk menemukan keindahan dan menikmatinya. Jika demikian, mudahkah mereka jika mendapatkan kenikmatan tanpa membayar yang pantas? Tentu sangat diharuskan, tiada keindahan tanpa berbayar. Untuk menikmati itu, mereka tertatih-tatih dengan rintangan yang ada, tanjakan, tanah belukar dan sebagainya. Seberat apa pun tantangan yang mereka hadapi, selalu terlampaui hanya dengan membayangkan harapan mereka. Yaitu, menikmati keindahan alam.
    Hidup atau apa pun yang anda butuhkan atau inginkan selalu menyisakan pembayaran, kesulitan dan rintangan. Andaikata hidup tanpa rintangan, tentu sangat tidak lagis jika hidup itu indah. Segera tantangan itu terlampaui, segera itulah terasa begitu berarti dan indah. Lalu, bagaimana cara melampaui tantangan dan kesulitan tersebut? Ok, tenang saja, Anda hanya memerlukan kata sesederhana yang super ampuh. “disiplin”, ya kamu tidak salah dengar. Hanya dengan kedisiplinan, kesulitan apa pun sekalipun di level tertinggi sangat mungkin untuk ditaklukkan.
    Lalu apa disiplin itu, disiplin adalah melakukan apa yang seharusnya dilakukan dan mendapatkan apa yang seharusya didapatkan. Meskipun hatimu selalu menggodamu untuk tidak mengambil tindakan tersebut karena melakukan yang harus dilakukan akan membawa kepada kehilangan akan kesenangan. Melakukan apa yang harus dilakukan itu memang bisa menyenangkan dan bisa tidak menyenangkan, tergantung pada masing-masing sikap kita terhadap apa yang diusahakan.
    Jangan mudah percaya, melakukan apa yang kita cintai akan beresiko lebih sukses dibanding melakukan apa yang tidak kita cintai. Kenyataannya, apakah hidup ini selalu sesuai dengan hati kita. Tentu, sudah ada hal-hal yang tidak kita cintai namun begitu penting bagi diri kita. Tidak percaya? Bekerja keras apakah merupakan hal yang kamu cintai? Hatimu menjawab, “ngapain capek-capek, lebih baik tidur atau jalan-jalan, liat tivi atau apa pun”. Maka, seharusnya “mencintai apa yang kita kerjakan selalu lebih baik daripada mengerjakan apa yang kita cintai”.
    Memang benar, disiplin itu adalah hal yang tidak kita cintai, karena menuntut kita keluar dari zona memanjakan diri kita, ke zona ‘bagaimana seharusnya kita”. Itu semua memang pada awalnya menimbulkan pertentangan internal, desakan, atau ketidaknyamanan. Yakinlah, bahwa perasaan itu hanyalah bersifat ‘sementara’, dan segera setelah hal tersebut dihadapi, dan kamu pun terbiasa. Baru di saat itulah kamu akan merasakan bahwa ketidaknyamanan hakekatnya adalah nyaman. Pertentangan pada hakekatnya adalah persatuan dan kenyamanan.  Jadi, disiplin itu sangat mengasikkan jika dijalani.
    Kemudian, bagaimana cara mendisiplinkan diri dalam kehidupan sehari-hari? Jurus pertama adalah “menunda”. Bukan menunda apa yang seharusnya dilakukan, namun menunda ‘kesenangan sesaat’. Seringkali kita kesulitan untuk menunda hal-hal yang kita senangi, dan mudah sekali menunda apa yang sangat tidak disukai. Alhasil, hal yang senang belum tentu penting bagi diri kita, dan hal-hal yang tidak disenangi belum tentu tidak penting bagi diri kita. Kenyataannya, hal-hal yang penting selalu terselubung rapat dibalik hal-hal yang tidak disenangi. Contohnya? Seperti melakukan apa yang seharusnya dilakukan.
    Cara terbaik untuk menunda kesenangan adalah jadikan hal yang tidak disenangi sebagai alat untuk mendapatkan kesenangan tersebut. Ini digunakan untuk waktu tertentu, dan bukan untuk waktu yang lebih lama. Misalnya, hari ini kita ingin nonton film terbaru di bioskop, sementara itu ada hal yang harus dikerjakan, yaitu mengerjakan tugas  bimbingan dari dosen. Nah, agar sama-sama dapat, jadikan tugas dari dosen sebagai syarat agar dapat menonton di bioskop. Dengan begini, kita tidak akan terlalu frustasi. Dan ingat, ini hanyalah langkah awal bagaimana menunda kesenangan dan akhirnya menikmati hal yang tidak menyenangkan senikmat dengan menikmati hal yang disenangi.
    Kita yang menunda lebih diakibatkan karena kekhawatiran akan kesuksesan atau kegagalan. Kita merasa takut jika harus mananggung kegagalan, padahal justru dengan berani gagal kita akan semakin berani melangkah segera setelah yakin atas kemampuan diri sendiri. Nah, oleh karena itu, kesenangan yang menghalangi langkah segera dibasmi sampai habis. Caranya?
    Cobalah daftarkan di dalam catatanmu, apa saja hal-hal yang penting dan segera kamu lakukan, dan apa saja hal-hal yang menyenangkan yang seringkali membuatmu terfoya padanya dan menunda apa yang seharusnya dilakukan. Tulislah dan tempelkanlah di tempat dimana kamu akan selalu dapat melihatnya setiap saat. Tujuan menulis disini hanya sekedar menyadarkan dan mengingatmu saat mungkin melanggar apa yang kamu tulis.
    Oh iya, mungkin masih ada anggapan bahwa “Banyak jalan menuju Rhoma”. Yang artinya, banyak cara untuk melakukan sesuatunya dan mendapatkannya secara instans. Sesuatu yang instans didapatkan, akan instan pula hilangnya. Lihatlah para penjudi, menggunakan jalan instans, tapi cepat hilang uangnya hanya untuk hal-hal yang tidak berguna. Tak hanya itu, jalan terjal hidup ini perlu dihadapi dan memerlukan waktu yang panjang, itu adalah sifat alamiah. Jika kita buru-buru ingin mendapatkan segala sesuatunya dalam waktu cepat, ini menentang hukum alamiah alam ini.
    Kedua, membiasakan apa yang benar, dan bukan membenarkan apa yang telah terbiasa. Sekali lagi, kenyataan yang benar seringkali membuat kita begitu pahit. Tidak percaya, “jujur” itu pahit, padahal ia adalah perbuatan yang dibenarkan. Nah, kecenderungan orang adalah lebih baik memilih “aman” daripada harus menelan kepahitan. Akibatnya, apa yang dibenarkan menjadi terkalahkan oleh apa yang dinyamankan. Karena sudah terbiasa, hal yang salah pun akan menjadi benar. Dan hal yang benar pun akan menjadi salah jika tidak dibiasakan. Maka, selarasnyalah antara kebiasan dan kebenaran—membiasakan apa yang benar.
    Sudah saatnya belajar jujur kepada diri sendiri, tidak ada waktu untuk membohongi diri. Segera lakukan apa yang seharusnya dilakukan, menunda apa yang penting dari diri kita sama halnya menunda keberhasilan. Jika keberhasilan tidak akan pernah menunda bertemu dengan kita, jika kita tidak sekali-kali berani menunda melakukan hal yang penting. “Kalau kita sudah mengetahui api itu panas, mengapa masih saja mendekati”. Jadi, meskipun melanggar kebenaran itu membawa kesenangan, tapi yakinlah kesenangan karena kesabaran menjalankan kebenaran adalah lebih manis dan lebih awer daripada kesenangan sesaat. Contohnya, sangat dibenarkan untuk bekerja keras saat ingin mencapai kesuksesan, yang tidak benar bahwa kesuksesaan itu didapatkan dari kenyamanan.

    Dan terakhir adalah tanggung-jawab. Kita harus benar-benar bertanggung-jawab sepenuhnya terhadap apa saja yang berada di lingkungan sekitar kita. Apa yang terjadi, harus disikapi dengan tanggung-jawab, yaitu bagaimana bereaksi dan merespon hal tersebut. Sejauh mana kita bertanggung-jawab sejauh itu pula keuntungan yang didapatkan. Tanggung-jawab yang ‘juga’ terdapat didalamnya penyesalan akan hal-hal yang terlewatkan. Demikianlah bagaimana seharusnya disiplin diri diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. 

    191 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *