‘De Paresma: Padanya Aku Bertanya

    Ia
    adalah magnet, yang mengalirkan energinya bila didekati. Sehingga besi yang tak
    ada daya magnet, seketika bisa terisi olehnya. Bukan daya yang kami maksud,
    bagaimana besi ditarik kuat oleh magnet. Tidak! Kami hanya mengumpamakan,
    seseorang menjadi sangat penting menjadi inspirasi dan pendorong bagi diri
    kita. Ia lebih dari sekedar tukang minyak, karena tak hanya mengharumkan, namun
    juga memberi kekuatan. Ia lebih dari sekedar matahari, namun juga menumbuhkan
    tanaman.
    Ada
    yang mencatat, ia adalah seorang alumni psikologi. Terlahir dari suku jawa
    tulen namun tak bertempat tinggal di jawa. Kata-katanya, tulisan-tulisan
    blognya, merupakan catatan inspirasi dan lebih dari sekedar diary, semacam
    inspirasi kehidupan. Memberikan harapan bagi pembacanya, kekuatan yang
    merenunginya. Ada yang berkecamuk bila aku bertemu dengan orang hebat, ada
    segudang pertanyaan yang ingin dilontarkan. Ada seribu keingintahuan di balik
    kekaguman.
    Sekali
    lagi, tidak ada maksud berlebihan. Udang tak lagi sembunyi di bali batu, ia terdampar
    apa adanya di depan batu. Mungkin, dengan kekaguman akan kehebatannya sebagai
    penulis, menjadi dorongan tersendiri untuk menulis yang semisal. Atau yang
    sesuai dengan passion-ku yang organizing. Berikut ini, beberapa hal
    yang aku dapatkan darinya mengenai menulis, tips-tips, dan seterusnya.
    Sebelumnya,
    saya merasa beruntung sekali  bisa
    mengenalnya, artinya ada banyak kesempatan bisa digunakan untuk meminta
    bimbingan kepenulisan. Walau pun menggunakan media online. Motivator
    terbesarnya adalah sebenarnya ia ingin berbagi inspirasi bagi remaja.
    Awal-awanya dia menulis akhir tahun 2012 sekitar bulan november, menuliskan
    pengalaman yang ia dapatkan dalam kehidupan sehari-hari. Setelah sebelumnya, ia
    sempat bosan untuk ikutan lomba menulis di penerbit indie.
    Ia tipe
    adalah organized people, mengatur
    kehidupannya, waktunya dan target kehidupan. Termasuk sosok yang tak mudah
    patah arang untuk terus menggapai impiannya. Setelah dua bulan lamanya, draf
    naskahnya sudah selesai ia kerjakan. Targetnya sehari untuk satu sub bahasan,
    aktif-aktifnya saat bulan desember. Tepat, tanggal 28 januari selesai dengan
    baik. Namun, untuk diterbitkan dan diterima sampai akhirnya masuk daput
    penerbit tidaklah mudah.
    Naskah
    selesai, ia tawarkan ke agensi indscripts untuk diedit kembali, namun nasib
    masih belum menjawab. Tak ada penerbit yang meliriknya. Sempat terfikir, kan ia
    jadikan sebagai e-books. Namun, ia merasa eman-eman
    karena naskahnya adalah buku pertama bagi dirinya. Akhirnya, naskah tersebut ia
    tarik dari agensi, dan diperbaiki kembali oleh penulis, sinopsisnya dan
    seterusnya. Setelah diperbaiki, naskahnya masih saja ditolak sana-sini, sampai
    tiba waktunya akhirnya ada penerbit yang mencari naskah insiratif islami untuk
    remaja. Kesempatan tak bisa dibuang, ia pergunakanlah dengan sebaik-baiknya.
    Sampai
    november 2013 akhirnya ia menerima email dari penerbit, dan alhamdulillah akan
    segera diterbitkan. Karena menunggu giliran cetak 3-5 bulan, tepat Desember
    2013 baru diterbitkan. Dan didistribusikan Januari 2014. “lama ya? tapi emang harus sabar. Bener sih kata sineor, kalo naskah
    udah selesai, jangan buru-buru ditawarin, tapi diedit dulu sampe matang.”

    Ungkapnya menasehatiku.  Berikut ini tips
    yang telah aku tangkap dan segera aku laksanakan.
    Niat Awal. Kalau berkaca
    dalam hadits, disebutkan bahwa pekerjaan itu tergantung pada niatnya, dan
    seseorang mendapatkan apa yang telah diniatkannya. “innamal a’maalu binniyat, wa innamaa likullimriin maa nawa.” Menulis
    kata Pram adalah panggilan jiwa, untuk menebar kebaikan. Maka, jangan mengharap
    apa pun dari jerih payah menulis, kecuali berbagi kebaikan.
    Konsisten. Semboyan ala pesantren dinukil dari perkataan
    ulama klasik disebutkan, “al istiqoomatu
    khairun min alfi karromah,
    ” istiqomah itu lebih baik daripada seribu
    karomah. Tahu kah apa itu karomah? Karomah semisal kelebihan yang diberikan
    oleh Allah kepada hambanya yang berupa sakti mandraguna, misalnya bisa terbang,
    bisa menulis 40 halaman dalam sehari seperti muallif kita terdahulu. Jadi,
    konsisten kunci paten untuk bisa menulis sebuah buku.
    Disiplin diri. Nah, agar
    dapat konsisten seseorang perlu berdisiplin diri, yaitu menjalani sebuah
    komitment dari keputusan dan kebulatan niat yang telah dilakukan sebelumnya. Mudah,
    bila selalu sadar akan niat. Disiplin berarti pahit atau tidak usaha yang harus
    dibayar untuk sebuah kesuksesaan tetap harus dijalani. Menulis tidak karena mood, namun karena menulis itu sendiri. Iya,
    disiplin memang pahit awalnya, dan manis akhirnya. Sama halnya dengan sabar,
    pahit seperti obat namun hasilnya lebih manis daripada madu. Maka, perlu juga
    untuk memiliki buku Agenda harian—bukan diary.
    Dalam disiplin,
    unsur punishment dan reward perlu untuk diterapkan. Misalnya komitmen
    untuk menulis 5 halaman setiap hari, kalau menulis dapat hadiah senang-senang
    untuk facebookan, nge-blog misalnya. Kalau
    ngga nulis, jadi selain membayar hutang menulis 5 halaman, juga dikalikan double.
    jam produktif. Yaitu mengira-ngira, jam berapa sekiranya ada
    waktu setiap hari untuk menulis selama waktu yang dibutuhkan menyelesaikan
    naskah buku. Seperti jam sekolah dari pagi sampai siang, jam tidur dari jam
    12.00-04.00, jadi, carilah jam produktif di mana kita merasa nyaman untuk
    menulis, merasa lancar dan bisa instiqomah dengannya.
    Membaca.
    Jadikan
    ia sebagai prioritas utama, menulis tanpa membaca adalah menulis sesuatu yang
    sama, tak berkembang dan itu-itu saja. Bahkan akan mengalami kebuntuan. Membacalah,
    tandai dengan stabilo misalnya, buat rangkumannya, catatlah inspirasi yang bisa
    diproses kreatif dari penulis buku yang dibaca. Jangan plagiarisme.
    Buku sakti. Ya,
    memiliki semacam buku kecil untuk mencatat ide-ide dasar yang didapatkan dari
    mana pun, qoutes, kata-kata bijak yang menyihir, kosa kata baru dan lain-lain.
    ia lebih dari sekedar diary, lebih dari sekedar buku agenda biasa. Jangan mudah
    bergantung pada ingatana, karena ide mahal datangnya biasanya tiba-tiba. Terakhir. Tangkaplah peluang, mulailah dari sekarang, termudah dan
    terkecil namun terus menerus berkelanjutan. Jangan tunda, kita pasti bisa
    menyelesaikan naskah dan buku.
    Beratnya beban dan
    cobaan hidup kita, tak mampu berfikir melampaui hari ini.
    Bila dipaksakan
    memikirkan masa depan, pikiran dan perasaan tak akan mampu menghadapinya karena
    besarnya cobaan hidup. karena itulah, jalanilah hari ini dengan syukur dan
    senyuman. Allah akan memberikan yang terbaik bagi hamba-hambanya, yakinlah! 

    971 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    15 tanggapan untuk “‘De Paresma: Padanya Aku Bertanya”

    1. benar-benar harus punya niat yang kuat untuk bisa jadi penulis, ikut salut juga sama orang ini. dia tidak gampang menyerah meski naskahnya ditolak sana-sini dan berusaha memperbaiki naskahnya hingga akhirnya diterima, itupun harus menunggu beberapa bulan baru diterbitkan.

      bener sih, menulis itu gak tergantung dari mood. karna sebenarnya ide selalu ada, hanya terkadang mungkin malas dan tidak cerdas membagi waktu. disiplin memang harus diterapkan dalam kegiatan apapun agar hasilnya maksimal.

    2. wah keren, kagum banget sama punislnya yah sampe buat reviewnya seperti ini 😀
      aku sukaaa, biar bisa jadi inspirasi penulis baru untuk berkarya, jangan mudah menyerah walaupun sering tidak di terima penerbit, pada akhirnya akan mendapatkan jalan juga 😀

    3. wah sepertinya aku kurang gaul. ga tau siapa itu de paresma ._.
      tapi tipsnya berguna banget nih. kalo mau jadi penulis yang baik memang harus konsisten dan rajin membaca, baik itu buku atau pun tulisan kaya di blog gini.
      keren nih. makasih bro agha

    4. iya, makasih pake bangetttt ya Gha…soalnya inshaAlloh aku akan segera menulis apa yang aku cita citakan, baca ini jadi makin yakin dan terinspirasi Gha!! dan juga aku mau beli notes kecil buat menampung loncatan ide ide yang suka datang tiba tibaa..thank you sooooooo much 🙂 iya, mau cari jam efektif jugaaa, pag sih kayaknyaa hehehehe

    5. Agha selalu bikin tulisan yang mantap nih….
      Memang selalu ada perjuangan yang lebih tangguh dari biasanya dibandingkan mereka yang masih setengah2 bermimpi jadi penulis…

      Poin2 yang disebut di atas bisa jadi tamparan buat para calon penulis handal… 😀

    6. Iya jadi penulis emang susah-susah gampang, konsisten memang harus diperlukan biar kemampuan semakin terasah. Pantang menyerah juga diperlukan ketika naskah ditolak penerbit. Hehe…
      Eh ini cerita tentang kamu ga? Berarti bukumu udah terbit dong..? 😀

    7. Inspiratif banget Kak Agha tulisannya! Aku sih emang baru tau beliau dari tulisan kamu ini hehe tapi kayaknya keren ya. Emang tiap penulis, jalan ceritanya nggak gampang langsung diterima dan lolos gitu aja. Kecuali kalo keberuntungan lagi berpihak sama dia.

      Aku juga setuju banget sama tips-tipsnya. Semangat terus! Semoga aku juga bisa seperti beliau 😀

    8. Setuju banget kak. Jadi penulis hebat emang gak gampang, penuh perjuangan dan musti sabar
      Dan bener banget tipsnya, bahwa membaca itu sangat penting. Aku udah ngerasain! Ya walaupun sampe sekarang tulisan aku ga bagus2 amat dan masih belum berani ngepost (hehe) tapi dari hasil membaca itu aku banyak dapet inspirasi. Baca juga ga mesti dari buku, blogwalking aja udh nambah inspirasi banget. Nah, abis baca postingan ini aja aku udh langsung dapet pencerahan. Wuiiiiiih maasyaa Allah ^^
      Nice post, btw 🙂

    9. Yak. Menulis buku ibarat lari maraton. Enggak perlu cepet2, sehingga cepat menguras tenaga. Yang penting adalh bagaimana bisa berlari secara konsisten, istiqomah, meskipun pelan, yang penting bisa sampai garis finish. Sama kayak nulis naskah buku.

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *