Cinta Kasih untuk Terkasih

    Jangan membuang waktu sedetik pun dalam penyesalan, karena menyesali kekeliruan di masa lalu sama saja dengan menularkan kembali kesalahan itu pada diri sendiri. (Seville Goddard 1905-1972—pengarang pemikiran baru)

    .koran{
    -moz-column-count:2; /* Firefox */
    -webkit-column-count:2; /* Safari and Chrome */
    column-count:2;

    -moz-column-gap:40px; /* Firefox */
    -webkit-column-gap:40px; /* Safari and Chrome */
    column-gap:40px;

    -moz-column-rule-style:outset; /* Firefox */
    -webkit-column-rule-style:outset; /* Safari and Chrome */
    column-rule-style:outset;

    -moz-column-rule-color: #eee; /* Firefox */
    -webkit-column-rule-color: #eee; /* Safari and Chrome */
    column-rule-color: #eee;}

    “Mas, ku sanggup menderita, asalkan kita hidup bersama
    selama-lamanya”,  seorang perempuan
    berkata. Ia meyakinkan dirinya kepada seorang lelaki akan kesiapannya untuk
    dinikahi. Berkulit kuning langsat, dan rambut panjang indah semampai. Sebuah
    kata untuknya ‘cantik nyaris sempurna’.
    Sudah tiga tahun perjalan asmara mereka. Kini, si pencuri hati
    perempuan itu dihadapkan dengan perasaan pelik. 
    Ia terdiam, termenung ke satu titik fokus di kejauhan.  Perempuan itu bertanya, “Kau telah nyatakan
    cintamu berulang kali padaku, setiap hari selalu ada kata sayang untukku. Bila
    kau benar-benar mencintaiku, kapan kah kan kau melamarku?” Kegagahannya sudah
    layu, lelaki itu terdiam seribu bahasa. Ia tak mampu berkata sepatah kata pun.
    Menikah itu tak mudah, keseriusan cinta seseorang tidak terletak
    pada seberapa besar cinta dan kasihnya. Boleh saja perhatiannya tercurahkan
    sepenuhnya atas nama cinta, antara seorang lelaki kepada seorang perempuan dan
    sebaliknya. Acapkali pernikahan dilandaskan semata-mata karena hal ini. Maka akhirnya,
    keputusan yang terlalu dini menyeret ke segala masalah yang lebih besar.
    Nantinya ketika sudah berumah tangga, masalah pasti mendatangi
    kita. Terserah diri masing-masing, apakah menanggapinya dengan bijak atau
    tidak. Itu sebuah pilihan pribadi yang patut dihargai. Misalnya memilih untuk
    menerima, kebahagiaan dan penderitaan sebagai wujud nyata perasaan ‘fitrah’ ini
    bisa dimaklumi. Karena rasa itu tak melulu persoalan baik, di balik itu harus
    ada penderitaan yang dibayar.
    Seorang  Mahatma Gandhi
    saja tak lepas dari percekcokan dan masalah dengan istrinya. Maka tak seorang
    pun bisa melepas dirinya dari masalahnya sendiri. Tokoh revolusi India ini mengatakan,
    “Seni kematian adalah konsekwensi dari seni kehidupan”.  Begitu pun dengan cinta, seni kebahagiaan tak
    lain wujud nyata dari konsekwensi dari seni penderitaan.
    Dengan ini kita
    mungkin berhasil menawarkan  pemahaman
    baru, bahwa kenyataan cinta berdiri oleh dirinya sendiri dan untuk dirinya
    sendiri. Bersama itu,  mencari asalan “untuk”
    mencintai seseorang tak berbeda jauh dengan mencari keuntungan darinya. Artinya,
    cintanya masih “tergantung” di balik alasan-alasan yang seolah tanpa logis.
    Sebua percobaan dalam
    pencetusan teori stimulus-respon madzab Behaviorisme dalam psikologi, diawali
    dengan percobaan terhadap seekor anjing. Ia akan dimodifikasi perilakunya
    dengan memberinya stimulus, rangsangan. Memang, nyatanya perilaku itu berubah. Setelah
    perilaku terbentuk, stimulus dikurangi berlahan. Tak dinyana, perilakunya pun
    kembali seperti semula. Dari sini pula, seperti metode punishment dan
    reward
    bermunculan.
    Seorang teman ditanya
    oleh saya, “Mengapa kau mencintainya?” jawabannya segudang, karena ia;
    perhatian, cakep, sholeh, pintar, kaya, dan seterusnya. Tak selang beberapa
    lama, ternyata seseorang yang ada di hatinya tak lagi perhatian. Ia masih saja
    mencintai, sampai akhirnya bosan sendiri karena tak ada respon balasan. Artinya,
    mencari alasan cinta kurang bisa mewakili hakekat cinta.
    Cinta itu ada dalam
    hati, berawal dari hati dan berakhir ke hati. Hati tidak melulu perasaan,
    karena perasaan itu juga pikiran. Pemikiran melahirkan perasaan yang berdampak
    kepada kehendak hati. Sehingga, sikap dan perilaku mencerminkan isi hati
    seseorang. Dengan itu, maka cinta itu perasaan dan pikiran yang tersimpan di
    dalam hati.
    Agar sebuah perasaan
    cinta berjalan di koridornya. Yaitu, menjaga kesucian cinta yang menjadi
    kekuatan dari kehidupan ini. seseorang perlu menjaga keseimbangan cinta. Tidak dengan
    merasakan cinta, dan tidak pula memikirkannya. Namun, menerima keberadaannya
    apa adanya, yang melampaui dari sekedar perasaan dan pemikiran. Di sinilah
    ikhlas “tersimpan.”
    Yusuf Mansyur seorang
    Dai mengatakan, agar kau bisa ikhlas, maka tanggalkanlah pikiranmu dan
    perasaanmu. Hal ini disampaikan pula oleh Jalaludin Arrumi seorang sufi bahwa
    pikiran dan pancaindera yang mengkungkung manusia. cinta karena panca indera;
    kecantikannya, keshalehannya dan lain-lain akan membuat diri menderita. Tentu,
    menderita yang ini bukan menderita yang kemudian membahagiakan, namun sebagai
    akhir atas pilihan cinta yang kurang tepat.
    Maka,
    dengan ikhlas mencintai berarti kita mencintainya karena Allah. yaitu cinta
    yang tak beralasan, dan tak mengharap. Sepintas ini terasa berat dilakukan,
    justru karena itulah nilainya menjadi begitu sangat berharga. Syetan sebagai
    pembawa petaka manusia tak akan mampu menyusup diam-diam dalam diri. Karena hati
    telah tersambung dengan Dzat Pencipta fitrah cinta.

    (651 Words)

    1,090 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    7 tanggapan untuk “Cinta Kasih untuk Terkasih”

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *