Cinta #Daripada Hilang tuk Selamanya, Lebih Baik Menunda Untuk Sementara

    “Ku duduk renungi tulisan dalam draff
    komputer. Membaca kembali catatan harian yang penuh dengan makna dan pelajaran.
    Pengalaman ngegalau gara-gara tertular teman, sampai pernah merasa
    menjadi makhluk alien di dunia ini. ya, itulah aku yang dulu.”
    Lelaki itu berusaha berbicara dengan dirinya
    akan masa lalunya. Ia tak terperdaya dengan sakitnya hati akibat ditinggalkan
    oleh seseorang yang dicintai. “Cinta memang tak adil, mencintai tak seharusnya
    mendapatkan cinta. Karena hakekat cinta, cinta yang tak berharap.” Timpal lagi
    lelaki itu dalam renungan dirinya.
    Sesekali ia ambil posisi berdiri, berpindah dan
    mencoba melihat dirinya di depan cermin. Kemudian berbicara kembali, “Kamu itu
    aneh ya, orang seburuk kamu dulu memang ada yang suka, sekarang kamu
    tersiksa karena ia telah memanfaatkanmu. setelah pergi, ia meninggalkanmu untuk
    selamanya.”
    Sebut saja Zei si kekasihnya, kekasih yang
    telah lama tak ada kabarnya. Saat duduk bersama, ia tak pernah memberikan
    perhatiannya. Ia merasa dibiarkan apa adanya, tak ada kata dan tak ekspresi
    bagi pertemuan pertamanya. Saat itu lelaki itu hanya meyakini, “ini bukanlah
    waktunya, suatu saat ia akan bersamaku dan merindukanku. Jadi, aku tak perlu
    mengejarnya cukup memberi perhatian seperlunya.”
    Zei ia kenal secara tiba-tiba, tanpa ada kesengajaan.
    Ia mengenalnya saat di jalan, saat sama-sama parkira sepeda motor kemudian
    berjalan dari parkiran ke area kampus dan tak sengaja si perempuan itu meminta
    tolong. Ya, minta tolong untuk dibuatkan makalah tugas kuliah.
    Tepat seminggu kemudian sejak perkenalannya,
    perempuan itu sudah mulai merasa nyaman. Maulah ia diajak ke perpustakaan untuk
    sekedar mengejerkan tugas bersama, memberikan feadback akan diri mereka
    berdua. Dan inilah jalan bagi si lelaki itu untuk mengambil hatinya, menolong
    mengerjakan tugas demi terlihat lebih perhatian. Memang lelaki itu pamrih,
    modus.
    Namun, lelaki yang tak begitu bertampang, dan
    hanya bisa “disebut” lebih mengetahui tak bisa mengharap. Ia tak memiliki
    keberanian untuk mengatakan apa yang sesungguhnya diinginkan oleh hatinya. Ia begitu
    tak berdaya bila kata-kata itu keluar, bila keinginan itu diekspresikan. Karena
    ia begitu sadar, bahwa kehidupan bukanlah kehidupan yang dilihatnya.  Walau pun sebenarnya ia melihat tanda cinta
    dari Zei.
    Lalu apa yang membuatnya begitu sakit, bukan
    karena merasa dimanfaatkan, bukan pula karena keinginan yang tak tersampaikan. Ia
    hanya sakit merasa tak bersemangat dalam mengejar apa yang patut untuk dikejar.
    Mengejar mimpinya yang teringi oleh masalah hati, masalah keinginan untuk
    dicintai dan mencintai. Ia merasa waktunya telah habis guna membahas persoalan
    cinta. Energinya habis terbuang untuk mencari jawaban atas cinta. Dan kini ia
    sadar, bahwa semuanya telah tiada.
    “cinta memang indah bila tepat pada waktunya.
    Man ta’ajjala fi sya’in uqiba bihirmanihi”, artinya karena seseorang
    yang terburu-buru mengharapkan sesuatu, akan terhalang darinya. Daripada kehilangan
    cinta untuk selamanya, lebih baik menunda untuk sementara saja”.
    Kediri, 08 Desember 2013
    *Tulisan ini diikutsertakan dalam “Birthday Giveaway “When I See You
    Again

    655 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *