Caleg Stress

    Fenomena ini bukanlah masalah
    baru, berkembang beberapa tahun belakangan. Semaraknya pesta rakyat menjadi
    salah satu penyebab dari adanya. Caleg strees. Iya, ia produk dari kegagalan
    masa kini, kegagalan partai membina kadernya untuk ‘siap’ dengan segala resiko
    peraduan dunia perpolitikan. Di tahun 1998 pada pemilu pertama di Indonesia,
    ada setidaknya 40 lebih partai yang berpartisipasi. Dan sekarang, ada sekitar
    belasan parpol yang memeriahkan perpolitikan di Indonesia. Anehnya, jumlah
    parpol di tahun 1998 tak banyak mencetak caleg stress, yang terjadi justru
    belakangan ini.
    “berani berbuat, berani
    bertanggung jawab.” Pepatah ini menjadi obat penawar bagi kegagalan dalam
    pemilu oleh salah satu caleg. Karena ketidaksiapan mereka, maka pikiran
    melayang dan merasa segalanya telah tiada; harta benda utamanya. Mungkin mereka
    kaget, dari yang seharusnya terpilih justru terpaksa merintih. Popularitas yang
    mereka cari, terpaksa kandas. Kekuasaan yang menjadikan mereka kehausan, harus
    berakhir menelan kekalahan. Kalau sudah tak terpilih, ya mau bagaimana lagi? Mau
    apa lagi? Jalani takdir hidupmu apa adanya.
    Berfikir rasional dan
    rasialistis, terimalah keadaan apa adanya, dan ingat tentu tak segala
    perjuangan akan terbayar hasilnya di awal. Sangat memungkin, di kemudian waktu
    hasilnya jauh lebih baik dengan apa yang tak terduga. Yang penting, keep positive thinking dan selalu
    husnudzan kepada Allah. Dia akan menggantinya dengan yang lebih baik. Bila masih
    tak bisa, mulailah dengan mendekatkan diri kepada-Nya, sedikit dengan langkah
    pasti. Maka, Allah akan selalu ada untukmu, Dia akan melangkah lebih cepat
    darimu menuju kepadamu.
    Untuk siapa pun yang
    menginginkan kekuasaan di tahun 2019 nanti, sudah dipersiapkan dari sekarang. Perbanyaklah
    materinya, perbanyaklah dukungannya, dan yang terpenting perbaikilah kualitas
    hidupnya. Jangan hanya mampu berkeinginan, tanpa melihat kesanggupan diri
    melakukan yang terbaik dari hidupnya. Apalah arti menaiki pepohonan, bila buaya
    saja dipaksakan. Tentu saja, ini tidak bisa kan? Maka, perlu sekali bagi KPU
    untuk menyelesaikan tes-tes kepribadian pada setiap orang yang ingin
    mencalonkan diri sebagai caleg di pemilihan berikutnya.
    Tujuannya, agar caleg menjadi
    sadar dan tahu sejauh mana kemampuan diri mereka masing-masing. Memungkinkan kah?
    Atau justru merusak diri mereka ke arah yang tak disangka seperti fenomena
    caleg stress pasca pengumuman pemilu.

    700 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    9 tanggapan untuk “Caleg Stress”

    1. kesiapan untuk maju dan menerima kekalahan memang penting..tidak bisa diabaikan..harus segera ditanamkan…pemilu selanjutnya harus bisa menyortir hal hal seperti ini

    2. kadang bicara jauh lebih mudah daripada menjalankan.. kita bisa saja menyuruh mereka mendekatkan diri pada-Nya, tapi kita belum merasakan bagaimana kehilangan semuanya itu. hanya orang2 sabar saja yg kuat, dan kebanyakan yg nyaleg itu optimis kepilih

    3. kalau kita menunggu sempurna baru memberi peringatan kepada orang lain, lalu bagaimana kita dapat berkontribusi kepada bangsa dan negara. kita melakukan apa yang kita bisa lakukan, bukan hanya mengatakan. rata-rata blog yang penulis tulis di sini berisi tentang pengalaman yang sudah dialami oleh penulis…

    4. Calegnya berarti cari penyakit gelap, hehe. Soal itu emang sulit dicari caleg yang benar-benar bisa berlaku sebagai pemimpin yang sanggup dan amanah. Namun semoga bukan hal mustahil.

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *