Bungkusan Kecil Dunia Perpolitikan

    Baru, jangan sesekali terjun ke dunia politik bila tak bisa
    menjaga diri dari kelicikan. Sangat sulit sekali, menemukan sosok wakil rakyat
    yang benar-benar memperjuangkan hak-hak rakyat: rakyat bawahan maupun yang
    lainnya; berbeda dengan pemimpin rakyat, yang sudah memimpin sebelum menjadi
    wakil rakyat. Ia perjuangkan semua kepentingan rakyat demi rakyat. Tidak demi
    kepentingan KKN.
    Mantan President Megawati Soekarno Putri mengatakan dalam
    talkshow “Mata Najwa”, rabu 22 Januari 2014. “Menjadi presiden lebih mudah daripada menjadi pemimpin, lihatlah
    bagaimana bagaimana revolusioner negeri ini, Soekarno mampu menyatukan rakyat.
    Iya, karena beliau sudah diangkat menjadi pemimpin sebelum benar-benar menjadi
    president”.
    Lama, lihatlah bagaimana Khalifah Umar bin Khattab dalam
    kepemimpinannya, ia benar-benar mengayomi rakyatnya, tidak mementingkan
    kepentingan dirinya sendiri. Bahkan, terkadang beliau tidur di serambi masjid.
    Dan masih banyak contoh lain yang menunjukkan akan kepemimpinan beliau sebagai
    sosok panutan. Hal ini tentu berbeda dengan kenyataan sekarang, di mana
    kekuasaan dicari. Sedangkan Umar, adalah sosok yang sebenarnya tidak mau untuk
    menjadi pemimpin khalifah, mengingat tanggungjawabnya di ‘akhirat” kelak.
    Namun, desakan pun mengalahkan ketidakmauan umar akan hal tersebut. Akhirnya,
    ia menjadi sosok pemimpin yang benar-benar memimpin orang lain dan terutama
    dirinya sendiri.
    Sungguh heran, menyaksikan baliho, banner, dan banyak macam
    dari bentuk promosi calon legeslatif. Wajah mereka bisa disaksikan di
    mana-mana, terutama di tempat umum. Di perempatan, di pertigaan, di pohon
    pinggir jalan, di tiang-tiang bahkan di mobil-mobil. Heran! I’tikad mereka
    adalah menjadi pengayom rakyat, namun lagi-lagit tak bisa membedakan mana yang
    “lebih bermanfaat.” Lebih baik mana, uang dikeluarkan untuk baliho dsb, atau
    untuk mensejahterakan kepentingan rakyat, dengan memberi bantuan terhadap
    rakyat miskin. Uang tersebut, tentu akan lebih berguna dan tidak keluar dengan
    sia-sia.
    Para terjerak dalam banyak kasus, sebenarnya juga tak lepas
    dari kepentingan politik. Tak ada politik murni suci, yang ada adalah abu-abu
    atau hitam pekat. Ya, bukan berarti kita hanya mampu berbicara. Cukup baik
    untuk mengapresiasikan usaha mereka, daripada kita sendiri yang tak banyak berbuat
    untuk kepentingan rakyat.
    ~∞~
    Indonesia. 23 Januari 2014.

    590 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *