Buku Renfrensi Ke Sekian, dari Jurnal yang Utama

    Popularitas bukan tolak ukur dari
    suatu keberhasilan, ia hanya salah satu saja. Orang mengganggap, bila terkenal
    berarti ia termasuk orang yang mumpuni.  Bagiku
    sebenarnya tidaklah demikian, ternyata popularitas berbanding lurus dengan “keunikan,”
    bukan skill keahlian. Lihatlah, beberapa artis papan atas,atau pun papan
    menengah. Keunikan yang memperkenalkan mereka kepada dunia, sehingga dikenal
    dan dikenang selalu akan ketiadaannya kelak.
    Jadi, saya sebenarnya tak setuju
    sekali bila naskah buku ditolak gara-gara hanya pertimbangan pangsa pasar. Artinya,
    buku yang tak layak beredar di pasaran perlu dikesampingkan dan mendahulukan
    tulisan yang ringan dan mudah. Walau pun isinya itu dari refrensi beberapa
    tahun silam. Selainitu, inilah alasan juga mengapa aku lebih menyukai membaca
    jurnal penelitian daripada membaca buku populer di toko buku.
    Mengapa memilih jurnal, karena ia
    temuan mutakhir dari macam ilmu pengetahuan. Di dalamnya refrensinya pun tak
    sembarang refrensi, temuannya adalah realita nyata yang “anyar.” Sehingga, bisa
    dikatakan sebagai perkembangan ilmu pengetahuan. Pernah saya pribadi menemukan
    terjemahan buku asing yang terbitkan 50 tahun silam dan baru diterbitkan sekarang
    di Indonesia edisi terjemahan. Tentu saja, ini merupakan ketertinggalan
    literasi bangsa kita.
    Contoh kecil ini bukti replika dunia
    Indonesia dengan kemajuannnya yang kata orang “lebih mementingkan” budaya lisan
    daripada budaya membaca. Rata-rata buku yang beredar adalah buku berisi ulasan
    dari refrensi atau buku yang pernah ada sebelumnya. Ulasan dalam hal ini
    direkonstruksi kembali dengan tambahan menu pengalaman. Karena itulah, bila tak
    sesuai dengan pengalaman “asli budaya keindonesiaan” tulisan dianggap kurang
    menguntungkan.  Apalagi dipersempit
    kembali sesuai kebutuhan dan misi penerbit, sehingga mementingkan profit
    dibanding dengan “kemajuan” ilmu pengetahuan itu sendiri.
    Selain itu, di dalam jurnal konteks
    permasalahan lebih jelas dengan setting yang sudah ditentukan. Sehingga pembahasan
    lebih mengena daripada buku yang serta merta hadirkan “konteks realitas”  yang kurang matang.  Dari sini sebenarnya sudah jelas, penelitian
    lebih mendalam dibanding buku yang juga lebih mementingkan refrensi tanpa
    adanya analisa yang lebih mendalam.

    Menurut Hernowo, buku itu menjadi
    asyik ketika menghubungkan pengalaman diri dengan apa yang dibaca. Mengingat,
    orang negeri kita masih “ogah-ogahan” saat berhadapan dengan buku yang tebal,
    buku utama, jurnal dan sebagainya. Maka selanjutnya, kita harus membaca
    refrensi yang bermutu namun juga bermakna. Artinya, makna yang unik sesuai
    dengan kebutuhan diri sendiri. Selamat membaca asyik dengan dunia dan kebutuhan
    kita masing-masing. 

    875 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    Satu tanggapan untuk “Buku Renfrensi Ke Sekian, dari Jurnal yang Utama”

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *