Bukan hanya kreatif berfikir, tapi juga kreatif bertindak

    Seorang kaya raya ternyata tak sepenuhnya kaya, buktinya ia masih bergantung kepada sopir. Jika tidak ada sopir, maka ia tak bisa berangkat ke kantor. Maka, seharusnya juga yang layak mendapatkan apresiasi si sopir. Artinya, sikap orang kaya seperti ini yang bergantung kepada si sopir jelas berbeda dengan mereka yang sudah bisa mengendarai mobil dengan sendiri.
    Bergantunglah pada diri sendiri, sebelum kamu terpaksa malu bergantung kepada orang lain. Saat dirimu mulai bergantung kepadanya, bisa-bisa kamu akan mengorbankan seluruh apa yang dimiliki untuknya. Semoga ini tidak terjadi kepada dirimu. Karena hal ini tentu saja sangat berugkanmu, mengandalkan orang lain pada hal-hal tertentu, lain hal ya lain orang. Cobalah, bersikap mandiri.
    Bila saja kamu bergantung pada diri sendiri, kamu akan “mau” mengorbankan semua apa yang dimiliki untuk mendapatkan “manfaat” darinya. Buktinya, seseorang tidak mungkin bergantung kepada siapa atau apapun kecuali karena ada udang di balik batu: mencari manfaat dan kesenangan sampai ada perasaan jika sesuatu atau siapa pun menghilang, maka tidak ada lagi yang dapat mendapatangkan manfaat. Si kaya tadi misalnya, bergantung untuk mendapatkan manfaat pelayanan untuk di antarkan kepada saja yang ia mau.
    Berfikir menggantungkan segalanya pada diri sendiri, membuatmu memiliki kekuatan. Kekuatan yang mengantarkanmu kepada suatu hal. Saat itulah, kekuatan kreatif dibutuhkan, menghindari dari rasa ketidakmampuan diri yang mungkin datang saat kamu melihat dirimu lebih kecil dari tantangan di depan mata. Kreatiflah bertindak, maka kreatiflah berfikir. Keduanya sama-sama, tapi berbeda pada kenyataannya.
    Kretif berfikir tak mampu mengubah segalanya, soalnya tindakan nyata itu kata kunci dari semua perubahan. So, kamu perlu memperindah bagaimana kamu bertindak, kamu perlu ‘nakal’ dalam bertindak dengan tetep memperhatikan koridor menuju jalanmu. Ampun dah, jangan sampai kamu hanya pintar membuat antraksi sikap namun justru ia menjauhkanmu dari tujuan awal. Ingat, kreatif di sini hanya untuk keperluan pembelajaran agar kamu mendapatkan hal baru, dan tentunya rasa bosan hilang tanpa jejak meninggalkanmu.
    Semakin kreatif, semakin pula dikenal. Kreatif selalu memberikan kepopuleran. Lihat dari berbagai macam orang yang berada di sekitarmu, siapa kah yang paling kamu ingat dari mereka. Orang yang biasa saja, atau yang ter-ter. Maksudnya, tercantik, terpintar, yang terlambat masuk kelas, yang tertinggi dan seterusnya. Asalkan, jangan yang ternakal. Bisa-bisa kamu akan meniru mereka jika mengindahkan yang lain.
    Di saat kamu mulai diketahui, di saat itu kamu benar-benar diakui dan diterima. Beberapa kepercayaan diri pun tercipta di dalam dirimu. Kamu semakin yakin siapa kamu, kamu semakin “inilah aku”. Selanjutnya, tak ayal kalau kamu semangat mencuat untuk terus berusaha, bermati-matian memperjuangkan diri di medan pertempuran memberikan yang terbaik.
    Eits, tapi jangan sok blagu ya! Sebelum orang lain menjauhi. Orang sombong yang merasa sok tahu tak akan pernah belajar, seorang raja dengan kedudukannya yang tinggi, tidak pernah mau untuk menjadi orang kecil. Orang yang kaya, tak pernah mau bermimpi menjadi orang miskin. Hanya saja, mereka yang merasa dirinya “rendah”, akan mau belajar menjadi orang “tinggi”. Orang miskin, akan berusaha belajar menjadi orang kaya. 

    700 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *