Berprasangka baiklah kepada diri sendiri dan pada orang lain

    Saat ini kamu mungkin kurang begitu melirik kepada diri sendiri, lebih melirik kepada orang lain. Misalnya, jika kamu jatuh terpleset di depan kelas gara-gara kulit pisang yang terletak di sana, pasti pikiranmu akan berprasangka negative kepada orang lain. Setelah itu, berbagai perasaan negative mulai berhamburan keluar dari pikiranmu, kau mudah menyalahkan orang lain, membenci orang lain yang ada di dekat pintu;jangan-jangan dialah yang meletakkan kulit pisang dengan sengaja. Pandangan cuek dan benci pun mulai terlihat dalam rona wajahmu, yang awalnya cantik, jadi jelek gara-gara senyuman yang biasa kamu tebarkan hilang seketika.

    Akibatnya, orang lain pun akan membencimu karena kamulah yang pertama membenci mereka dengan pikiran negatifmu. Bagaimana perasaan temanmu yang disangka dengan hal-hal yang bukan-bukan? Tentu, ada rasa kesal dan marah. Sekarang, bagaimana jika prasangka  negative itu sendiri kamu tujukan kepada dirimu sendiri?
    Prasangka (prejudice) adalah penilaian berdasarkan pengalaman sebelumnya yang telah terekam. Misalnya, ketika kamu berprasangka yang bukan-bukan pada kasus di atas, kamu tentu sudah pernah mengalami hal yang serupa sebelumnya, atau mungkin karena keseringan nonton sinetron-sinetron permusuhan anak sekolah. Iya kan? Ayo ngaku?
    Orang yang tidak yakin dengan kemampuan dirinya sendiri termasuk salah satu korban dari prasangka yang dilakukan olehnya. Dia beranggapan bahwa ketika melakukan ini pasti gagal, tidak akan berhasil dan tidak memuaskan orang lain. Padahal, bayangan kegagalan (anggapan tersebut) hanya ada di dalam pikirannya, dan belum terbukti. Cobalah dulu, maka dia pasti akan mengetahui kemampuan dirinya sendiri. Ga percaya? justru jika kamu membiarkan prasangka negative menggerogoti dirimu sebelum berangkat berperang melawan diri sendiri untuk mendapatkan kesuksesan, kamu akan kalah sebelum sepuluh langkah pertama terlampaui. Maka jangan  heran, jika ada dirimulah adalah musuh terberatmu. Bukan tandusnya padang pasir yang harus kamu taklukkan, tapi keengganan dirilah yang harus kamu hancurkan.
    Prasangka negatif hanya bisa dihilangkan dengan membumbui hati dengan perasaan cinta terhadap diri sendiri. Prasangka itu terbentuk karena diri kurang dari adanya perasaan cinta. Jika perasaan cinta datang, maka dengan sendirinya perasaan negative akan hilang dengan sendirinya, otomatis. Jadi, kamu tidak perlu susah-susah mengurus perasaan negatifmu itu.
    Diumpamakan sebuah gelas kosong. Kekosongan gelas dari air diibaratkan perasaan negatifmu. Saat gelas diisi dengan air, maka kekosongan itu otomatis akan menghilang dengan sendirinya, di saat dirimu diisi dengan perasaan cinta, otomatis prasangka negatif pun akan hilang dengan sendirinya pula. Jadi, yang perlu kau lakukan bukan berusaha sekuat tenaga membuang prasangka itu, melainkan membumbuhkan cinta sebanyak mungkin ke dan dari dalam dirimu sendiri.
    Memang benar, semua membutuhkan proses, kamu tidak bisa membubarkannya dalam satu kali pluit “preet”, bubar… jalan! Tidak bisa!! Kamu harus mengikuti metode pembentukan pohon bonsai. Ia dibengkokkan sedikit demi sedikit, sehingga ranting rantingnya terbentuk dengan indah dan menawan. Jika main kasaran dengan membentuk seketika, bisa-bisa ranting bonsai akan patah. Begitu pula dengan menghilangkan ‘kebiasaan’ prasangka negative terhadap diri sendiri.
    Dari pada hidupmu mati untuk melakukan sesuatu yang berarti, lebih baik kamu memilih hidup dan menghidupkan semangat geloramu menggapai impianmu. Jangan biarkan dirimu termakan oleh prasangkamu sendiri terhadap dirimu.

    1,020 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *