Berperasaan Baik, Mengundang Kebaikan

    Sebelum semuanya ada, ia telah tercipta di
    alam pikiran. Dari kursi, sampai gedung-gedung yang menjulang tinggi. Namun,
    bagi pegunungan ia tercipta oleh hukum alam. Keduanya, memiliki sumber berbeda
    namun ada benang merah diantara yang satu dengan yang lain. Plato menyebutkan,
    ide adalah hakekat yang benar. Alam kenyataan itu manifestasi dari ide. Maka,
    kebenaran itu terletak pada ide yang tidak berubah.
    Hukum pikiran, tergambarkan di dalamnya;
    ini dan itu. Karena tidak mungkin semuanya terjadi begitu saja tanpa adanya
    ‘gambar’ di dalam diri. Gambar imajiner yang menggerakkan pikiran dan perasaan
    sehingga timbullah hasrat. Dari hasrat inilah 
    terciptalah suatu yang baru. Hasrat yang dilandaskan oleh perasaan yang
    baik. Dalam hukum ketuhanan, Tuhan tak akan mengubah keadaan seseorang, sebelum
    seseorang mengubah hidupnya sendiri. Setelah ada kemauan diri, di situlah
    kekuasaan Tuhan mulai bergerak.
    Untuk mewujudkan diri dari yang suka menunda-nunda,
    menjadi orang yang gregetan melaksanakan segalanya. Ada beberapa hal
    penting yang perlu diperhatikan secara seksama. Yang nantinya membawa kepada
    keberuntungan dan keberhasilan.
    Tahapan pertama ialah membayangkan. Bayangan
    ada karena ada bendanya dan cahaya. Bila cahaya tidak ada, maka bayangan tak
    kan terbentuk. Namun, adanya bayangan bukan berarti benda itu sama. Lalu,
    bagaimana bisa membayangkan keadaan masa depan, bila pengetahuan tidak ada.
    Maksudnya, sebelum melangkah bisa
    membayangkan. Ada pengetahuan yang perlu dipahami, darinya lahir makna. Makna
    inilah yang nantinya memberikan seribu alasan yang menggerakkan untuk
    dibayangkan. Makna kekaguman, makna kegembiraan dan banyak macam makna lainnya.
    Dan tentunya, karena maknanyalah sesuatu menjadi begitu berharga. Maka, proses
    membayangkan adalah bayangan dari benda yang berupa makna.
    Dalam bayangan itu, akan akan imajinasi dan
    kenangan. Nantinya, keduanya akan mengarahkan kepada perasaan yang
    memberdayakan. Sayangnya, seseorang terlampau memikirkan apa yang yang tidak
    lumrah, membesar-besarkan kesulitan di masa depan, atau mengecil-ngecilkan
    kesuksesan yang pernah diraihnya. Sehingga menimbulkan kecemasan yang
    meresehkan hati. Dan ini, tidak baik bagi kesehatan perasaan, bahkan merusak
    kekuataannya.
    Lebih sedihnya lagi, bila dibiarkan seluruh
    hidupnya tambah berkembang. Berkembang pikiran dan perasaan negatif. Sehingga,
    apa yang diyakini sebagai kebenaran itulah yang akhirnya menggerakkan. Seluruh
    file mengenai pengalaman masa lalu yang sejenis—berhubungan dengan kecemasan
    tadi, maka ia akan berkumpul bersatu dan akhirnya semakin meningkat. Alih-alih
    bisa teratasi.
    Maka, carilah makna dari ‘kesegeraan
    melakukan sesuatu’. Sehingga, kamu bisa melihat hal yang unik dalam makna
    tersebut, ada hal yang berharga di dalamnya. Kesadaran terhadap makna kunci ke
    arah pembayangan. Namun, dalam kesadaran ada kenangan masa lalu, harapanya
    tinggalkan kenangan negatif mengenai dirimu dengan sifat menunda-nunda. Dan
    beranjaklah ke dalam kenangan dirimu dengan sifat yang tidak suka
    menunda-nunda. Semisal, kamu pernah merasa rindu sehingga tidak menunda untuk
    bepergian pariwisata, main game.
    Nah, langkah kedua adalah berperasaan. Ada
    pertanyaan, “apa yang menyebabkan seseorang berkumpul dengan seseorang yang
    sama; sama-sama sehoby misalnya?” kalau mau tahu, ini merupakan bukti dari
    adanya hukum tarik menarik di dalam diri. Dan saya meyakini, semua yang telah
    kamu miliki sekarang tidak lain merupakan hasil dari perasaan. Perasaan yang
    tenang kan dapat menggerakkan (memberdayakan).
    Kenyamanan berperasaan itulah yang menjadi
    alasan mengapa kamu betah dengan apa atau dengan siapa. Hubungan antara
    keduanya, sangat muthlak diperlukan. Karena kecenderungan seseorang,
    menghindari hal yang membuat dirinya tidak tenang, dan mencari ketenangan alis
    kenyamanan. Dalam kenyamanan, ada hubungan ‘intens’. Dan ini yang dapat
    mewujudkan apa yang dihubungi oleh perasaan itu menjadi begitu ada. Perasaan
    yang terwujudkan tercerminkan dalam perilaku yang mengarah. Dan perilaku dapat
    mengubah segalanya menjadi ada.
    Perasaan nyaman tak hanya lahir dari proses
    membayangkan, namun perlu juga mengikatnya dengan hubungan dengan Tuhan. Dalam
    hubungan vertikal ini, timbul suatu perasaan yang menenangkan jiwa, ketenangan
    ini nantinya bisa digunakan untuk menjemput keinginan atau pun kemauan. Yang di
    dalamnya ada kekuatan Tuhan. Bila Tuhan bercampur tangan, siapakah yang dapat
    mengalahkan langkahmu?
    Dengan demikian, setelah kamu membayangkan
    seperti orang yang tak pernah mengakui bahwa kamu penunda, rasakanlah begitu
    tentramnya hati bisa bersegera melakukan apa pun. Bayangkan dan rasakan bahwa
    kamu bisa selesaikan segalanya tepat waktu, tanpa mengulur-ngulur sehingga
    waktumu habis. Rasakanlah, bahwa Tuhan senang melihatmu bersegera melakuan
    sesuatunya, yang itu merupakan kebaikan.
    Langkah terakhir, ubahlah fisiologis
    tubuhmu. Bila belum bisa berperasaan baik, maka rubahlah gerak-gerikmu
    seolah-olah kamu itu sudah terbiasa melakukan sesuatunya dengan segera.
    Berperilakulah seolah-olah kamu bernafsu dengan tugas atau pekerjaanmu. Dengan
    membiasakan “berperan fiktif” seperti ini, dengan tetap menghadirkan perasaan
    dalam setiap gerak-gerik. Maka, akhirnya akan mampu mengubah dirimu dari yang
    suka menunda-nunda, menjadi orang yang “Yes” aku mau semuanya. Semuanya mau
    dikerjakan.
    Ghazali Ma’ruf (www.makruf.com)

    805 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    10 tanggapan untuk “Berperasaan Baik, Mengundang Kebaikan”

    1. yes, saya akan sesegera mungkin melakukan pekerjaan yang saya tunda.

      hehe, super bang, artikel2 lo bikin gue kesinggung karena gue orangnya suka nunda2 kerjaan entah itu penting maupun sedikit penting.

    2. waaaah saya setuju bagaimana bisa kita menerawang masa depan jika ilmu saja tidak punya seperti benda yang tak nampak bila tanpa cahaya maka ilmu itu bak cahaya yang bisa menghantarkan kita pada masa depan yang cerah.. kata-katanya penuh motivasi bang:)

    3. "Untuk mewujudkan diri dari yang suka menunda-nunda, menjadi orang yang gregetan melaksanakan segalanya. Ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan secara seksama. Yang nantinya membawa kepada keberuntungan dan keberhasilan."

      kata-kata di tulisanmu yang ini patut gue catet di lemari gue pakek spidol permanen ! :")

    4. Artikelnya bagus. Penggunaan kalimatnya mengalir. Tinggal diluweskan lagi bahasanya.

      Terima kasih atas masukan dan ilmu barunya. Semoga segera dan selalu berprasangka baik. 🙂

    5. saran mas, kalo nulis bahasanya dibikin lebih sederhana lagi. Jangan pake bahasa-bahasa seperti di buku pelajaran yang bikin pusing pembaca, biar pesan dan intinya tersampaikan. Itu ajasih, soalnya aku baca ini gak nyambung-nyambung hehe 😀 keren. intinya biar kita gak menunda-nunda pekerjaan kan?

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *