Berkorbanlah, namun Jangan Menjadi Korban

    Pernah suatu ketika aku berkunjung ke salah satu pondok madani di daerah jawa timur. Di dalam area aula pertemuan tertuliskan sebuah falsafah yang terpampang tinggi yang bunyinya, “berkorbanlah namun jangan sampai menjadi korban”. Awalnya, aku berkaca-kaca, kalau begini berarti berkorban yang pamrih dan mengharapkan dari yang tidak apa-apa menjadi yang ada apa-apanya. Namun, setelah aku pikirkan berulang-ulang, ternyata falsafah ini tidak salah. Artinya, kita memang harus berkorban, karena tidak ada perjuangan tanpa pengorbanan. Jika berkorban, jangan sampai pengorbanan kita menjadi ‘sia-sia’.

    Seseorang yang mendapatkan predikat an-najah (kemenangan) selalu mengawali setiap apapun dengan pengorbanan yang diperhitungkan. Lihatlah awal juz ke-4 pada ayat al-Qur’an, yang berbunyi; “tidaklah kau memperoleh kemuliaan (albiiru) kecuali mengorbankan dari sebagian apa yang kau cintai”. Sebuah perenungan yang asyik untuk kita jadikan falsafah hidup.
    Lihatlah kenyataan hidup ini, saya berani mengatakan bahwa semuanya di dapatkan dengan adanya pengorbanan. Termasuk anda membaca artikel ini dan mendapatkan pemahaman, anda telah mengorbankan banyak waktu untuk menambah wawasan. Seandainya anda enggan mengorbankan waktu untuk membaca ini demi hal yang lebih Anda senangi, misalnya berbicara sama teman. Maka sebenarnya, Anda tidak akan pernah mengetahui akan pentingnya sebuah pengorbanan. Tetapi, itulah diri Anda, mau mengorbankan demi hal yang ‘lebih’ penting walau tidak begitu menyenangkan.
    Memang, ini tidak dapat dinalar dengan begitu kencang. Kepentingan kita pada sesuatu, sama halnya kepentingan sesuatu tersebut kepada apa yang dapat kita berikan kepadanya. Artinya, tidak ada yang gratis di dunia ini. Semuanya membutuhkan dan saling membutuhkan. Kebersilan membutuhkan, usaha membutuhkan diri kita juga sangat membutuhkan. Etis kah diri kita membutuhkan sesuatu dengan membiarkan kebutuhan yang lain tak terpenuhi?
    Nah, bagi yang kita enggan untuk berkorban, maka perubahan enggan pula datang menghampiri. Jika ingin mendapatkan sesuatu, maka harus ingin mengorbankan sesuatu. Jika ingin mengorbankan sesuatu, maka harus berani ‘merubah’ diri dari yang enggan untuk bisa berkorban. Lalu, bagaimana cara mengubah keengganan untuk berkorban?
    Mudah saja, benturkan saja kepala kita ke tembok. Bagaimana, wujudnya pasti berubah kan? Eits, maaf. Maksudku bila ingin berubah maka segeralah bertindak, jangan nunggu nanti, atau nanti. Bergeraklah sekarang juga, proses pikiran di otak terakhir saja, boleh nyusul di perempatan simpang lima. Nah, bagaimana mungkin sesuatu itu bisa berubah hanya dengan dipikirkan? Tidak kan? Sesuatunya berubah bila diawali dengan langkah pertama. So, lakukan sekarang juga. Berkorbanlah sekarang juga.  Bila terlalu kenyang memikirkan ini dan itu, akhirnya hati dan pikiran tak kan tergerakkan.
    Dan yakinilah, apa yang korbankan itu selalu memberi. Pengorbanan yang kita berikan, pasti suatu saat akan datang terlipatkan. Ya, Anda tidak salah dengar, “berlipat-lipat”. Asalkan, ikhlas dalam mengorbankan sesuatunya.

    Sekian, yang jelas pengorbanan itu akan menghasilkan sesuatu, namun jangan dinalar dengan akal pikiran bila pengorbanan itu belum juga berbuah. Suatu saat tanpa kita sadari, tanpa mampu dinalar, hasil dari pengorbanan kita pasti datang dengan otomatis.

    870 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    Satu tanggapan untuk “Berkorbanlah, namun Jangan Menjadi Korban”

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *