Berkah dan Ketidakberdayaan

    “Tak penting seberapa banyak
    yang telah kau perbuat, tanpa kesadaran billah
    maka semuanya hanyalah kesia-sian yang dianggap kenyataan.”
    Semua di dunia ini berasal dari-Nya dan akan kembali
    kepada-Nya. Terciptanya bumi dalam tujuh hari  adalah pesan ilahiyah bagi kita. Bahwa Allah mengajarkan kita sebuah urgensi “proses”
    dalam segala apa pun. Kita sebut sebagai sunnatullah.
    Sadarkan kita, jika saja Dia berkehendak, Dia akan Maha mampu menciptakan
    hanya dalam hitungan tak sampai sedetikpun.” Faqaala lahu kun fayakun.” Sunnatullah
    (proses) memberikan banyak hal kepada diri kita, memberikan waktu memperbaiki
    atau pun menguatkan langkah. Termasuk pula memberikan waktu untuk hal yang
    lain.
    Bisakah kita memprediksikan hasil dari setiap proses atau
    upaya yang kita lakukan. Sejauh mana kita dapat memastikan bila melakukan ini,
    hasilnya “pasti” yang itu? Iya, kemampuan kita sebagai manusia terbatas saat
    terpaksa dibenturkan dengan takdir. Untuk berusaha semaksimal mungkin, okelah kita
    tak pernah membatasi; sesuka kita, semau kita, secapek kita, sebetah kita. Perkara
    bagaimana hasilnya nanti, bukanlah ruang kekuasaan di mana kita leluasa di
    dalamnya. Itu adalah area kekuasaan ilahi
    jauh dari akal pikiran, atau pun perasaan. Kecuali perasaan yakin kepadaNya
    dengan husnudzan bahwa apa pun
    hasilnya adalah yang terbaik menurut-Nya.
    Merasa berkuasa, mampu dan bisa sejatinya melemahkan
    kemampuan diri sendiri. Perasaan ego semacam ini bukanlah bersumber dari
    kekuatan tunggal. Memaksakannya mungkin saja pilihan yang bisa dianggap
    menjanjikan. Akan tetapi, sering terjadi rasa frustasi mendatangi setiap usaha
    yang dihadapkan pada sebuah kegagalan. Menetapkan keegoisan ini, akan
    menjadikan frustasi tersebut semakin memuncak. Lazimnya proses usaha, di titik
    terdalam kefrustasian kita disadarkan bahwa tak ada kekuatan dan kuasa sedikit
    pun di dalam genggaman masing-masing tentang apa yang akan “terjadi.”
    Kekuatan sejati justru lahir dari pengakuan diri yang lemah,
    yang tak mampu dan tak berkekuatan. Di saat kepasrahan diberikan, ada gairah
    luar biasa untuk terus melangkah ke depan. Di setiap langkah mendambahkan
    keyakinan bahwa Allah senantiasa bersama kita. Nah, disebutkan di dalam al-Qur’an
    fadz kuruuni adzkurkun wa yutsabbits
    aqdaamaku,
    “ingatlah kalian kepada-Ku (Allah), maka Aku (Allah) akan
    mengingatmu dan menguatkan langkah-langkahmu. Subhanallah, bila langkah
    digerakkan oleh Allah, adakah rintangan yang tak terselesaikan? Adakah perasaan
    kesedihan yang tak terhentikan? Semuanya telah diatur oleh Allah dalam
    firman-Nya untuk berkehidupan di dunia ini.
    Keyakinan seseorang kepada Allah akan meningkat, saat tak
    ada lagi yang dapat digantungkan, bergantung kepada usaha yang justru berakhir
    kepada kekecewaan. Atau pun bergantung kepada orang lain yang terkadang
    menghilang tanpa sebab saat dalam kerapuhan. Merasa lemah tak ada upaya,
    berarti mengharap sepenuhnya kepada-Nya, meyakini bahwa Allah lah yang akan
    menolongnya, menguatkan langkahnya. Di sini letak kekuatan tunggal dari Allah
    sang penguasa Alam Semesta.
    Sebagaimana kita ketahui, perilaku seseorang merupakan
    cerminan bagaimana pola pikirannya dapat bersinergi dengan perasaannya. Apalagi
    bagi pelaku amatiran, mood seringkali menjadi alasan yang menghentikan langkah
    mereka sementara. Artinya, mereka berbuat tergantung dan bergantung kepada mood. bad-mood ; perasaan tak nyaman, pikiran tak tenang menjadi
    penghambat dari langkah-langkah ke depan, akibatnya kekuatan diri untuk
    mencapai sesuatu melemah. 
    Berbeda dengan mereka yang semata-mata melakukan sesuatunya
    bukan karena kesenangan, namun lebih karena Allah (lillahi ta’ala wahdah) semuanya akan diserahkan demi Allah, demi
    cintanya kepada Allah. Di sini kekuatan jiwa memuncak. Apalagi disertai dengan
    billah, yaitu semacam kesadaran bahwa kita tak ada upaya dan kekuatan melainkan
    dari Allah. Dalam berusaha, kita tak perlu merasa kitalah yang berusaha, namun
    Allah lah yang menggerakkan keinginan dan kemampuan kita masing-masing. Secara otomatis,
    bila semua dikembalikan kepada Allah ada perasaan tenang di dalam jiwa—dalam “billah”
    ada semacam unsur dzikir yang dapat menenangkan jiwa. Perasaan inilah yang akan
    menguatkan setiap jiwa kita. Dan tingkahlaku pun ikut terkena percikan
    ketenangan terdalam ini. Sehingga, istilah bad-mood
    sudah tak berlaku lagi.

    Karena itulah, tak perlu kita risaukan dari sedikitnya usaha
    yang telah kita lakukan. Asalkan dengan kesadaran billah, lambat atau cepat
    manfaatnya akan terlihat dengan jelas. Terpenting, senantiasa merasa bahwa
    Allah yang menggerakkan semuanya, dan menyimpulkan hasil akhirnya. 

    830 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    2 tanggapan untuk “Berkah dan Ketidakberdayaan”

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *