Berjiwa Guru Sebagai Solusi Dakwah

    Seperti
    halnya daun, ia tumbuh dari ketiadaan menjadi ada. Melekat pada ranting
    pepohonan dan tumbuh karenanya. Lambat laun umurnya kian tua, dedaunan pun
    berguguran. Jatuh ke tanah, kering dan hilang di terpa angin. Sesaat itu, kita
    menyadari ada proses panjang dari setiap kejayaan, yang berakhir kepada
    ketiadaan. Sementara itu, dedaunan yang lain mulai tumbuh, membesar, kemudian
    jatuh dan kering. Lagi-lagi, tergantikan kembali oleh dedaunan yang anyar.
    Indonesia
    saat ini bukanlah Indonesia yang dulu, kini berubah. Kemajuan teknologi dengan
    dampak perkembangan budaya instans misalnya, benar-benar membuat kita mengelus
    dada. Bagaimana tidak, keinginan sesaat yang harus tercapai dalam waktu
    sesingkat-singkatnya. Secara naluriah, ini tentu merupakan pelanggaran terhadap
    fitrah alamiah penciptaan; yang
    berproses sedikit demi sedikit. Artinya, ia tidak lagi berkaca mengapa proses
    itu penting, padahal Allah menciptakan langit dan bumi dalam tujuh malam
    semata-mata ingin menunjukkan kepada hamba-Nya mengenai urgensi “proses.”
    Akibatnya,
    shalat remaja sekarang lebih ekspress
    dibanding dengan shalat remaja terdahulu. Apalagi shalat-shalat saat tarawih,
    tentu saja yang dipilih oleh remaja pada umumnya adalah masjid dengan imam yang
    cepat. Inilah sekelumit ibadah syariat yang benar-benar tampak, yang lain?
    masih banyak juga. Kalau berfikir kembali, syariat agama Allah saja
    diperlakukan seperti ini, lalu bagaimana dengan hakekat? Tidak ada maksud
    berfikir buruk mengenai orang lain, namun kenyataannya pemujaan terhadap tuhan
    selain Allah sudah semakin menjadi-jadi. 
    Yang dulu berdzikir dengan tasbih, sekarang dzikirnya kepada pacar
    dengan sms-an, yang dulu shalat berjamaah, sekarang yang penting shalat. Yang
    dulunya rajin ke masjid, sekarang rajin ke mall, kafe. Akhirnya, kalau mereka
    ditanya mengapa berubah, meraka menjawab “Aku
    ora opo-opo.”
    Mengapa
    ini terjadi, apakah karena tidak ada ulama atau dai penyiar dan penerus
    Rasulullah? Memang, ulama sesepuh akhir-akhir ini semakin berkurang.
    Dicabutnyalah mereka karena mendekati akhir zaman, remaja islam seakan sudah
    tak peduli lagi terhadap penegakan agama Allah. Meninggalkan kewajiban mencari
    ilmu, dengan mencari ilmu yang tak sebenarnya wajib bagi diri mereka. Tapi benar-benar
    nyata, realitas sekarang dari sekejab observasi dan renungan penulis sendiri
    banyak yang suka melakukan ibadah-ibadah namun mereka semua tidak memiliki
    dasar dalam keilmuan agamanya. Ini banyak, misalnya ustad jadi-jadian dsb. Sementara
    itu, juga tak jarang mereka yang katanya mumpuni ilmu agamanya, justru tidak
    istiqomah antara pengetahuan dan perilakunya. Na’udzubillahi min dzaalik.
     Memang tak mudah berdakwah di tengah-tengah
    masyarakat modern ini. Mereka tidak lagi melihat dari ucapan yang keluar dari
    mulut seseorang, namun lebih kepada apa yang dikerjakannya. Seringkali
    nyaringnya suara lisan tak kan mengalahkan bagaimana sebuah perilaku
    ditunjukkan. Banyak kan ustad yang kehilangan pamornya, lagi-lagi karena
    akhlaknya jauh dari ucapannya. Dan masih banyak contoh lainnya. Ya, walau pun
    kita akui bahwa mereka telah berani berbuat. Melakukan amal makruf dan nahi
    mungkar sesuai kapasitasnya masing-masing.
    Ada dua
    hal yang urgen menjadi media dasar untuk berdakwah. Pertama adalah melalui diri
    sendiri, keluarga dan teman terdekat. Bila ketiganya berfungsi dengan baik,
    dakwah dalam cangkupan yang lebih luas akan mampu dilakukan. AA Gym mengatakan,
    mulailah dari tiga hal, dari diri sendiri, dari hal terkecil dan dari sekarang.
    Ini rumusan penting untuk menjadikan setiap langkah sebagai rahmatan lil ‘alamin.

    907 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    3 tanggapan untuk “Berjiwa Guru Sebagai Solusi Dakwah”

    1. iyah benar dakwah thdp diri sendiri dulu kemudian pada orang2 terdekat kita yaitu keluarga, tapi itu tak semudah yg kita bayangkan,,kadang rintangan akan selalu ada 🙂 tapi kita harus semangat

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *