Berhentilah Menulis

    “Menjadi penulis adalah pilihan. Bersiaplah untuk berkorban, dicerca dan diancam. Tak perlu ragu, lakoni saja seluruh kewajiban yang menjadi wasilah menjadi penulis; membacalah, menulislah.” -Gus Ma’ruf

    Beberapa waktu lalu, Sabtu: 18/06, saya membaca nasihat Mas Joni teruntuk Mbelêk. Mas Joni adalah cerpenis kondang sekaligus redaktur Majalah Sastra Horison. Lelaki yang telah menelan pahitnya kehidupan, ternyata datang kemudian kebahagiaan yang tak berakhiran. Ya, ia pernah menjadi remaja masjid demi sesuap nasi, berjuang untuk bisa makan. Dalam kondisinya, ia tak lupa bersyukur ‘bisa makan’. Ia berlatih menulis secara konsisten di sela-sela kesibukannya mengurusi kegiatan masjid.

    Kini ia tenar, semua orang memandangnya, semua orang menyukainya. Dan saya pun nge-fans juga. Perkenalkan, “Mbelêk” adalah kucing peliharaan mas Joni. Nasihat tuannya kepada hewan kesayangannya. Sayangnya, Mbelêk bukan aktris yang populer. Tapi bisa saja, kedekatannya kepada tokoh terkenal, menjadikannya terkenal juga. Kucing lugu dan lucu menggugah kesadaran saya. Ia dinasihati oleh empunya. Tapi sebenarnya kita perlu memahami, terkadang sebagian penulis memang menggunakan beberapa tokoh untuk dijadikan media penyampai nasihat di beberapa tulisannya. Ya, demi menjauh dari kesan ‘menggurui’. Tulisannya pun terasa renyah dan cukup efektif.

    Keluarlah kalimat yang dimaksudkan, “Lebih tentram tanpa saluran televisi, tertawa bisa lebih mudah jika jarang membaca berita”. Tambahnya lagi, “Agar hidup lebih dihargai, lebih berkualitas sebagai manusia, lebih tinggi derajatnya, sehingga layak dihormati; bacalah buku, bacalah buku, bacalah buku”. “Eh, Mbelêk saja disuruh baca buku,  masa‘ saya mau kalah dengan Mbelêk”, pikir saya dalam hati.

    Masih dalam nasihat yang sama, cerpenis ini juga mengatakan, “Karena hanya buku yang membuat pikiranmu terbuka, membuatmu dewasa, membuat akalmu, hatimu, jiwamu, dipenuhi aura pengetahuan yang akan mengubah segala ucapanmu lebih berisi, berwibawa, memesona, dan penuh cinta.” Di akhir cerita, Mbelêk seksi menutup dengan aksi kabur. Mas Joni mengungkapkan, “Kaudengar itu, wahai kucingku sayang? Mbelêk… Mbelêk… lêk… Eeeh dasar kucing, dibilangin malah pergi… huuuh”.

    Jika kita mau memahami, nasihat mas Joni sebenarnya ditujukan kepada kita. Mungkin kita sudah enggan mendengar seruan perintah atau nasihat, hingga nasihat itu sudah lelah mendatangi umat manusia. Ia pun terlempar kepada umat hewani. Sayang, para hewan tak butuh nasihat, karena ia memang tak berfikir. Mbelêk pergi tanpa basa-basi, “huuuh…” saya tirukan ungkapan rasa si empunya.

    Menjadi Penulis
    Dewasa ini, banyak anak muda berkeinginan menjadi penulis. Ya, penulis yang tenar, hebat dan terkenal. Perasaan inferioritas seolah telah menguasai jati diri mereka. Mereka lupa, hasil yang maksimal tak dapat dibeli dengan usaha minimal. Tapi, kita tak perlu bersedih jika masih masuk dalam bagian anak muda yang dimaksud. Bahkan, kita juga tak perlu menjadi penulis terkenal.

    Meski demikian, jangalah sekali-kali meninggalkan tugas hidup kita: membaca, membaca dan membaca baru kemudian menulis. Tuhan tak pernah bermain-main dalam memerintah umat manusia. Wahyu yang pertama diturunkan kepada Nabi Muhammad ialah Iqra’. Nabi menjawab, “maa ana biqoori’”, saya tak bisa membaca. Turunlah kemudian kata iqra’, nabi menjawab dengan jawaban yang sama. Hingga tiga kali, dituntunlah Nabi Muhammad oleh malaikat Jibril untuk membaca. Di sinilah, membaca adalah perintah, dan itu menjadi keharusan bagi umat manusia.

    “Cung, Rasulullah SAW bersabda bahwa sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain”, ungkap Mbah Anom. Mbah Anom adalah penasihat Kacung—lelaki yang berkeinginan menjadi penulis. “Mbah, saya ingin bercita-cita ingin menjadi penulis terkenal, apakah itu salah mbah?” “Tidak salah cung… tapi kamu harus ingat, kita tak berhak ‘harus’ menjadi orang terkenal, itu hak Allah menentukan bagaimana kehidupan kita. Cung, tujuanmu menulis jangan diarahkan menjadi terkenal, apalagi meraup untung. Jadikanlah sebagai media agar menjadi sebaik-baiknya manusia”.

    Mari kita contoh Kacung. Meski kita tak menjadi penulis terkenal, setidaknya kita telah menjadi penulis bagi diri sendiri dan orang-orang di sekitar. Menulis bukan perkara terkenal atau tidak, menulis adalah sebagai ungkapan manifestasi syukur kita kepada-Nya. Yaitu, Sebagai bentuk tugas mulia, sudah seharusnya tak dikotori oleh niat-niat yang kurang pas—misalnya, mengharap materi.

    Pondasi Menulis
    Bangunan yang kokoh, selain dibangun dengan persiapan yang matang. Ia harus didirikan di atas suatu pondasi yang kuat. Semakin tinggi menjulang ke atas, kokoh dan kuatnya pondasi sudah menjadi keharusan. Menulis pekerjaan mulia, ia sangat bernilai. Ulama kontemporer menyepakati, “ilmu lebih berharga daripada harta”. Karena ilmu bernilai, maka menulis yang menghasilkan ilmu juga bernilai. Sesuatu yang bernilai menuntut perlakuan yang tak asal-asalan.

    Tanyakan pada diri, untuk apa kita menulis? Mengapa kita menulis? Apa tujuan saya menulis? Atas dasar apa kita perlu menulis? Di balik mengapa menulis, terbangunlah di situ suatu pondasi yang kuat: tanggung jawab. Bertanggung jawablah kepada Tuhan, kepada diri sendiri dan kepada umat manusia dengan menulis. Hadapilah tanggung jawab tersebut, jangan mundur.

    “…I am responsible for myself and for everyone else. I am creating certain image of man of my own choosing. In choosing my self, I choose man”.
    -Sartre

    Tanggung jawab terpantul dalam bentuk tindakan. Tanggung jawab menulis yang kita pilih akan membawa kepada proses meng-ada akan kesejatian manusia. Sartre mengatakan, “Man is nothing else but his plan; he exist only to the extent that he fulfills himself; he is therefore nothing else than the ensemble of his acts, nothing else than his life”. Yang artinya, “Manusia tiada lain adalah rencananya sendiri; ia meng-ada sejauh ia memenuhi dirinya sendiri. Oleh karena itu, ia tiada lain adalah kumpulan tindakannya, tiada lain ialah hidupnya sendiri”.

    Jadi sudah jelas, sejauh mana kemanusiaan kita tergantung sejauh mana kita bertindak dalam kehidupan, bahkan kehidupan tindakan itu sendiri. Menulis pun demikian, ia sebagai pemenuhan akan peng-ada-an diri kita sebagai manusia yang utuh.

    Menulislah, selagi kesempatan masih ada. Apa yang dituliskan, pada akhirnya akan terbaca, tak pernah sia-sia. Para membaca akan memahami tulisan kita, bahkan sedikit banyak akan mempengaruhi pola pikirnya. Di sinilah kemudian, manusia beradab tercipta; tergantung bagaimana ilmu itu digunakan. Pemahaman yang kaafah akan membawa kepada pilihan sikap, dan sikap personal pun terlahirkan. Masih dalam waktu, yang tak bisa diprediksi, setiap sikap individu akan saling mempengaruhi satu sama lain, hingga akhirnya mewarnai pola perilaku seluruh umat manusia. Dengan kata lain, sikapnya yang personal mempengaruhi sikap kolektif umat manusia.

    Ternyata, penulis yang dikecam, yang dicerca sebenarnya pahlawan dunia. Melalui tulisannya, ia menitipkan pengaruh kepada pembaca. Oleh karena itu, menulis jangan asal-asalan. Perlu materi baik, tujuan baik, dan dengan cara yang baik. Kehancuran dunia seringkali dipengaruhi oleh kerancuan pemikiran yang tak selaras dengan niat baik.

    Shadaqah Menulis
    Give and Given, “memberilah, dan diberi”. Jika kita ingin pintar, maka pintarkanlah orang lain. Jika kita ingin menjadi penulis, maka jadikan orang lain bisa menulis, atau merasakan apa yang telah kita tuliskan. Agar keinginan tak mengganggu proses ‘meng-ada menjadi penulis, maka simpanlah terlebih dahulu akan “keinginan menjadi penulis”. Yang perlu kita lakukan sekarang, bagaimana menjadikan aktivitas menulis sebagai kendaraan kita.

    Tanamkan mindset berikut: memberi bukanlah usaha mengeluarkan, tetapi sejatinya mengembalikan sesuatu pada tempatnya. Mengingat, Tuhan membantu kita melalui perantara orang lain, maka, kita pun bisa menjadi perantara Tuhan untuk membantu hamba-Nya. Masalah balasan kebaikan itu, memberi atau bershadaqah hanyalah persoalan waktu. Karena pada akhirnya akan datang dengan sendirinya, bahkan tanpa arah yang tak pernah kita duga.

    “Mengapa manusia begitu susah mengeluarkan sebagian uangnya untuk orang lain?”, Kacung bertanya kepada Mbah Anom. Si Mbah menjawab, “Ya, karena manusia terlalu menggantukan hidupnya kepada uang, karena uang terlalu berharga dan berperan dalam hidupnya, selain itu, karena ada kesalahan konsep dalam pengertian bershadaqah dalam diri umat manusia itu sendiri”.

    “Kalau aku mau bershadaqah dengan tulisan, itu bagaimana ya mbah?” “Itu juga baik, cung… artinya, kau telah menunaikan kewajibanmu sebagai hamba yang mengetahui. Pengetahuan sebagai harta yang lebih bernilai daripada uang tentu harus dishadaqahkan, karenanya ilmumu akan bertambah cung… jangan takut karena memberitahu orang lain ilmumu akan berkurang, sekali lagi, itu tidak akan terjadi cung… justru ilmumu akan bertambah”. Kacung tersenyum tanda kebahagiaan, “Alhamdulillah, usahaku tak sia-sia”.

    Mba Anom meneguk kopinya, sembari memperlihatkan jari telunjuknya yang mengarah ke sungai di dekatnya. “Cung, lihatlah sungai itu. Ia mengalir dari suatu sumber mata air dari tempat yang tinggi ke tempat yang lebih rendah. Kelokan sungai bertebaran di daratan, agar air terus mengalir, ia menuju ke tempat rendah, juga agar proses air dapat tiba di ujungnya. Ada yang berukuran lebar enam meter, ada yang sepuluh meter, bervariasi cung.. “ Kemudian Mbah Anom bertanya, “Cung, kira-kira apa yang akan terjadi jika air itu tidak mengalir?”. Kacung menjawab, “Ya, akan keruh, mbah… kualitas sifat airnya akan berkurang”. “Benar Cung”.

    “Cung, hidup itu dinamis. Ia mengsyaratkan bagi kita dalam suatu gerakan yang kontinu. Air yang berhenti akan keruh dan akhirnya rusak. Darah yang berhenti mengalir akan mematikan sang pemilik tubuh. Begitulah juga dengan rejeki yang kita miliki: pengetahuan, uang, hidup juga harus tetap mengalir. Alirkan uangmu kepada orang lain, janga ditahan. Alirkan ilmu kepada orang lain, jangan disembunyikan”.

    Menulis adalah cara kita bershadaqah kepada orang lain. Shadaqah ilmu dengan menulis pasti akan dibalas dengan ilmu atau manfaat lain. Jika hukum grativasi saja kita meyakini akan kepastiannya tanpa terbantahkan, lalu mengapa kita masih meragukan kepastian balasan bagi orang yang bershadaqah dan sudah jelas-jelas termaktub di dalam al-Qur’an? Sudah jelas Allah menjanjikan balasan bagi orang yang bershadaqah.

    Yuk menulis, menulislah untuk perubahan umat manusia. Jika tak terbaca sekarang, suatu saat pasti akan ada yang membacanya. Tak mungkin suatu tulisan tak terbaca oleh seorang sekali pun. Alangkah bahagianya, siapa tahu melalui perantara tulisan yang kita tuliskan menjadi musabab seseorang menjadi lebih baik hidupnya. Kita memang tak tahu, tapi itu memiliki kemungkinan akan terjadi—memberi inspirasi bagi pembaca. So, jangan kecil hati, tetaplah menulis dan menulis.

    Sumenep | 19 Juni 2016
    Oleh: Gus Ma’ruf

    5,986 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    6 tanggapan untuk “Berhentilah Menulis”

    1. setiap perbuatan pasti akan diminta pertanggungjawabanya
      termasuk menulis, setiap ingin menulis yang nyeleneh saya sering inget nasihat itu.
      Semoga kita bisa menebarkan kebaikan lewat tulisan

    2. Sungguh postingan penyemangat bagi orang-orang yang mempunyai cita-cita menjadi penulis dan tulisan yang sangat tidak menggurui. Meluruskan niat untuk apa kita menulis. Benar-benar tulisan yang dalam. Dengan tulisan ini pun si empunya blog sudah menjalankan kewajibannya, membagikan ilmu ke orang lain. Ehe 🙂

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *