Berhenti Sejenak, Berarti lalu Mati

    Air
    beriak tanda tak dalam, namun air yang berhenti bergerak tanda dari
    kematiannya. Karena ia menjadi keruh, nasibnya menjadi begitu relekan untuk
    tidak dibiarkan begitu saja. Sejenak waktu memberikan ruang pada kepasifan. Kepasifan
    ruang potensial bagi penundaan. Bila demikian, serasa sangat sulit melangkah
    kembali.
    Analogi
    lain bisa berkaca pada pergerakan matahari. Terpikirkan tidak, apa yang akan
    terjadi jika mentari berhenti bergerak satu jam saja? Saya kita, kehidupan
    dunia ini akan menjadi amburadul. Untuk itulah, daripada berhenti lama-lama
    lebih baik terus melangkah maju ke depan. Jangan sekali berhenti, namun terus
    meneruslah bergerak walau gerakan itu tidak sebanding dengan langkah besar—loncatan
    quantum.
    Seorang
    kawan, malam ini menyadarkanku akan arti “bergerak berlahan, dan tidak berhenti
    sejenak”. Ia katakan padaku, “teruslah menulis, dan jangan berhenti menulis. Karena
    sekali saja kamu berhenti menulis, kesulitan akan menyelimutimu di awal
    perjuangan kembali.” Seketika itu aku terkenang dengan pengalaman masa lalu,
    saat pertama kali naik turun gunung yang begitu melelahkan.
    Di
    waktu itu, aku bertanya kepadanya, “mas, mengapa sampeyan nggak cepat capek. Naek
    oke, turun pun oke?” kemudian, lelaki yang cukup langsing itu berujar, “jangan
    berhenti sebelum kamu mencapai akhir”. Artinya, berhenti sejenak akan membuat
    diri semakin capek, dengan melawan terus menerus rasa capek tersebut, maka
    capek pun tak akan terasa.
    Maaf
    saja, dan ini sudah menjadi kesimpulan akhir dari pengalamanku. “semakin
    sesuatunya dibiarkan begitu dalam keadaan rusak, maka ia akan semakin menjadi
    rusak.” Sepeda onthel yang sudah keseleo sana-sini, bila dibiarkan begitu saja
    namun tetap dipakai, aku jamin ia semakin keseleo, bahkan patah pikulan. So,
    bagi siapa pun, ternyata dalam istiqomah ada kekuatan dahsyat.
    Istiqomah
    itu berarti, melakukan sesuatu hal yang besar secara mencicil. Maksudnya? Mengerjakan
    hal-hal yang kecil, secara terus-menerus. Terus menerus itu berarti menikmati
    proses yang kecil, sehingga ia menjadi sifat alamiah yang tak membebani. Hasil
    akhirnya, proses itu seolah menjadi kebutuhan dasar. Menurut alm. KH. Idris
    Jauhari, seorang kyai yang sekaligus otodidaktor menyarankan untuk melandasi
    setiap pekerjaan dengan cinta, cinta itu muncul bila seseorang merasa butuh
    terhadap sesuatu.
    Selanjutnya,
    melandasi pekerjaan dengan cinta itu penting. Sepenting bagaimana menghilangkan
    sikap stagnan, atau rehat sebentar karena kejenuha. Mereka yang sering menunda,
    biasanya mereka yang tak pernah melandasi setiap pekerjaan dengan cinta, dan
    memilih mengikuti moodnya.
    Dr.
    Ibrahim Elfiky pernah mengatakan, jangan sekali-kali seseorang meninggalkan
    pekerjaan dalam emosi yang negatif. Karena, bila dilakukan demikian perasaan
    itu akan semakin berkembang, dan seseorang cenderung mencari daerah aman dari
    dirinya. Sehingga, sangat jarang seseorang mengulangi pengalaman negatif yang
    mengancam dirinya. Dan ini beda konteksnya bila pengalaman negatif tersebut
    mengenakkan; merokok dll.
    Kesimpulannya,
    kerjakan sesuatu dengan istiqomah setelah melandasi niat dan pekerjaan dengan ‘cinta’.
    Cinta timbul setelah merasa butuh terhadap sesuatu tersebut. nah, untuk
    mempertahankan cinta dan sikap istiqomah, seseorang dilarang keras ‘meninggalkan
    pekerjaan—rehat darinya—dalam keadaan emosi negatif. Sebaliknya, tinggalkan
    pekerjaan dalam keadaan emosi yang positif. Sehingga, diri selalu merasa rindu
    untuk terus bekerja.
    Contohnya,
    saat kamu merasa frustasi dengan tugasmu membuat proposal penelitian, maka
    jangan tinggalkan tugas tersebut saat pikiranmu buntuk menyelesaikannya. Sebaliknya,
    tinggalkan sejenak untuk rehat saat kamu sedang berperasaan positif terhadapnya.
    Misalnya, saat kamu menemukan sesuatu yang unik dalam teori-teori, sehingga
    membuatmu merasa ‘puas’. Oke, selanjutnya, tinggal banyak praktek ya..!!

    929 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    2 tanggapan untuk “Berhenti Sejenak, Berarti lalu Mati”

    1. alhamdulillah, berkat dorongan teman-teman juga…
      supaya lebih serius ngeblognya,.. dan serius nulisnya..
      sip,,. terimakasih atas kunjungannya..

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *